
Beberapa waktu telah berlalu, sekarang, Evan yang sudah bisa membuka usahanya sendiri itu sedang berdiri di depan tokonya.
Evan membuka minimarket dan Evan yang pandai berbisnis itu mendapatkan tempat yang strategis, tanpa sengaja, toko Evan tidak jauh dari sekolah Binar.
Dan Evan dibantu oleh Dante, selama belum ada kemajuan, Dante menjadi karyawan sukarela Evan.
"Terima kasih, Nak!" ucap Evan pada Dante yang sedang berdiri di sampingnya, keduanya sedang berdiri di depan minimarket itu yang akan mulai buka esok hari.
"Semangat, Ayah. Semoga ini awal yang baik dan Ayah bisa bangkit lagi," kata Dante seraya menatap Evan dan Evan pun memeluk putra angkatnya.
"Kamu anak yang berbakti, Dante!" kata Evan dalam hati.
Dan Kinan yang ada di rumah sedang mengadakan syukuran untuk toko Evan, meminta doa dari tetangga semua yang hadir dan sepertinya atas apa yang menimpa Kinan itu dapat merubahnya menjadi wanita tua yang lebih baik.
Kinan juga tidak lagi memandang rendah orang lain.
****
Keesokannya, Sean yang sedang sibuk itu tidak dapat menjemput Binar, Sean pun menghubungi Bintang, "Bintang, Dady sedang sibuk. Bisakah kamu jemput adik?"
Bintang yang sedang duduk di halte, menunggu taksi itu menjawab, "Bisa Dady, dengan senang hati."
"Anak yang manis," puji Sean.
"Memang," jawab Bintang seraya tersenyum.
Setelah itu, Bintang menggeser tombol merah, menyudahi panggilannya karena taksi pesanannya sudah datang.
Bintang mengatakan tujuannya dan sesampainya di sana, Binar sudah menunggu.
Bintang turun dari taksi, gadis berbadan tinggi dan berambut lurus yang dibiarkan tergerai itu masuk gerbang sekolah Binar.
Binar yang sedang duduk di bangku bawah pohon depan sekolahnya itu bangun.
"Kakak!" seru Binar seraya melambaikan tangannya.
"Ayo cepat pulang!" kata Bintang yang masih berdiri tidak jauh dari gerbang.
Binar berlari ke arahnya dan meminta sesuatu pada Kakaknya.
"Kak, Binar besok ulang tahun, boleh tidak Binar minta sesuatu?" tanyanya seraya menatap Bintang.
"Apa?"
"Beliin es krim, di minimarket yang baru buka itu ada diskon beli satu gratis satu," kata Binar dengan semangatnya dan Bintang menertawakan adiknya yang tingginya itu hampir menyamainya.
"Beli es krim saja tunggu gratisan, kasian banget, sih, anak kecil!" timpal Bintang.
"Ayo," ajak Bintang yang menuruti permintaan adiknya dan Binar dengan semangat mengikuti langkah kaki Kakaknya.
__ADS_1
"Kakak, tidak boleh ingkar, ya!" kata Binar dan Bintang mengiyakan.
"Pasti!" jawab Bintang.
Sesampainya di minimarket tersebut, Bintang dan Binar langsung mencari tempat es krim dan Binar mengambil satu keranjang penuh.
"Astaga, Binar, kamu belanja sebanyak ini?" tanya Bintang dan Binar dengan begitu polosnya mengangguk.
Bintang menggeleng dan segera membawa es krim itu ke kasir.
Dan Evan yang sedang berjaga itu tersenyum pada Binar.
"Buat stok, ya?" tanyanya.
Binar menjawab, "Tidak."
Setelah mendapatkan es krim, Binar dan Bintang keluar dari minimarket, di halaman, Bintang melihat Dante yang baru saja turun dari motor maticnya.
"Hai," sapa Bintang dan Dante sama sekali tidak menjawab.
"Kakak, genit banget sih, kaya kenal aja," kata Binar yang merasa malu saat Kakaknya itu diabaikan.
Bintang mengerucutkan bibirnya.
"Memang kenal, kok."
"Ini, bawa!"
Binar menarik nafas dan bukannya mengikuti Bintang yang masuk ke taksi, justru Binar membawa es krim itu ke sekolahnya.
Binar membagikannya pada teman-teman yang masih menunggu.
Bintang menggaruk tengkuknya dan teringat dengan taksi yang sudah lama menunggu.
"Kalau begini, aku bisa tekor banyak," batin Bintang.
"Biarlah, nanti Dady harus menambahkan uang jajanku!" kata Bintang dalam hati.
Setelah membagikan es krim, Bintang meminta pada Binar untuk cepat. Dalam perjalanan, Bintang memperhatikan Binar yang begitu asiknya makan es krim.
"Kakak mau?" tanya Binar dan Bintang menarik nafas dalam.
"Seandainya tidak alergi, aku sudah makan banyak es krim," jawab Bintang dan Binar mengatakan kalau dirinya kasihan.
Sesampainya di rumah, Bintang meminta ganti rugi atas kerugian yang dibuat oleh adiknya pada Nina yang sedang menyiapkan makan untuk anak-anaknya.
"Astaga, buat adik sendiri saja perhitungan," kata Nina seraya menarik kursi untuknya duduk, menemani dua anaknya yang sedang makan.
Sementara itu, Sean yang sedang mengemudi mobilnya itu harus menyeruduk mobil Evan yang sedang keluar dari area parkir tokonya.
__ADS_1
"Astaga, aku menabrak mobil sampai penyok," kata Sean seraya melepaskan sabuk pengamannya. Lalu, Sean segera turun untuk meminta maaf dan berniat akan mengganti kerugiannya.
Dan bukan hanya Sean, Evan yang merasa jengkel pun turun dari mobil dan setelah melihat siapa yang menabrak, Evan semakin jengkel.
"Matamu di mana?" tanya Evan seraya berkacak pinggang.
"Kamu yang tidak parkir, kenapa menyalahkan orang. Belajar nyetir dulu sana!" jawab Sean.
Sementara itu, di dalam mobil Evan ada Kinan yang terlihat pucat setelah melihat Sean ada di sekitarnya.
"Astaga, dia ada di sini, aku tidak mau Evan mengetahui yang sebenarnya," kata Kinan dalam hati. Lalu, Kinan menekan klakson, meminta pada Evan untuk kembali ke mobil.
Awalnya, Evan tak menghiraukan Kinan, tetapi, jalanan menjadi macet karena perdebatan Sean dan Evan.
Banyak kendaraan yang mengantri itu membunyikan klakson, Sean berdecak, lalu kembali ke mobilnya, ia pun ikut membunyikan klakson saat Evan sedang memarkirkan mobilnya.
"Sial!" gerutu Evan.
Demi tak melihat Evan lagi, Sean membelokkan mobilnya ke arah lain, walau jaraknya semakin jauh dari rumahnya karena harus berputar.
Sesampainya di rumah, Nina yang menyambutnya itu mendapati Sean yang nampak kesal.
"Ada apa?" Tanya Nina dan Sean tak menjawab, ia berjalan melewati Nina yang baru saja menerima tas kerjanya.
Nina mengikuti Sean dan Nina meraih tangan suaminya.
"Sean, ada apa, kenapa kamu mengabaikanku?"
"Bukan apa-apa," jawab Sean yang kemudian masuk ke kamar.
Bintang dan Binar yang sedang duduk di sofa ruang tengah itu memperhatikan.
"Tumben, Dady dan Ibu tidak mesra," kata Bintang dan Binar yang masih kecil itu hanya mendengarkan Bintang.
"Kalau Dady sedang seperti itu, aku tidak berani untuk meminta ganti rugi," batin Bintang, setelah itu, Bintang bangun dari duduk, ia mengambil remot TV yang ada di meja, Bintang menekan tombol power dan TV itu mati.
"Kak, Binar masih nonton!" protes Binar dan Bintang mengingatkan kalau hari sudah malam, lalu, Bintang pergi ke kamar.
Sementara itu, Nina sedang memperhatikan Sean yang memilih untuk diam.
Nina yang semula duduk di bibir ranjang itu bangun, memeluk Sean yang sedang sibuk melepaskan kemejanya, membelakangi Nina.
Tak menjawab, justru Sean melepaskan pelukan istrinya.
"Apa yang membuatmu marah?" tanya Nina seraya kembali memeluk Sean dan Sean kembali melepaskan tangan Nina yang melingkar di perutnya.
Bukannya lepas, tetapi, pelukan itu semakin erat.
Bersambung.
__ADS_1