BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Apa Yang Kamu Lakukan?


__ADS_3

Setelah kuliah dan sebelum bekerja, Dante menyempatkan diri untuk mengurus Kinan yang murung.


"Omah, supaya Omah tidak kesepian, lebih baik Omah ikut Dante ke toko, bagaimana?" tanya Dante seraya membantu Kinan dari ranjang ke kursi rodanya.


"Omah takut akan membuat Ayahmu semakin tidak menyukaiku, Nak," lirih Kinan dan wanita itu terlihat pucat.


"Tidak apa, Omah. Semua butuh waktu," kata Dante, ia ingin menyemangati Kinan supaya memiliki semangat hidupnya lagi.


"Kamu tau, Ayahmu itu keras, dia akan sulit memaafkan," kata Kinan seraya mendongak, wanita berambut sanggul itu menatap cucunya.


"Hmm," jawab Dante, ia menarik nafas dalam, "sudah tau Ayah seperti itu, kenapa Omah melakukan kesalahan? Dan kesalahan itu sangat fatal. Seharusnya, Omah berpikir dulu sebelum berbuat," lanjut Dante, ia bicara dalam hati.


"Omah harus tetap semangat, katanya mau dekat dengan Bintang, Omah harus sehat supaya bisa mendapatkan maafnya," kata Dante seraya mendorong kursi roda Kinan keluar rumah, Dante membawanya ke toko dan di sana ada Evan yang sedang berjaga.


Evan keluar dari meja kasir, ia menghampiri Dante dan mengatakan, "Besok, kita harus cari karyawan. Ayah akan membuka cabang, jangan lupa untuk mendoakan Ayah!"


Setelah itu, Evan pergi tanpa menyapa Kinan dan ini adalah pertama kali baginya mengabaikan orang yang amat ia sayangi.


Evan merasa sakit setelah mendengar pengakuan Kinan yang menyiksa istrinya dulu.


Evan yang akan mengurus pekerjaannya itu sekarang sudah di bangku mobilnya, ia mengusap wajahnya dan berusaha menahan air matanya.


Setelah itu, Evan yang berusaha tenang segera melajukan mobilnya, pria berkemeja putih itu mengendarai dengan perlahan dan tidak sengaja, Evan melihat Nina sedang menjemput Binar, rasanya ingin sekali Evan menghampiri, tapi, pria yang sial dalam percintaannya itu mengurungkan.


"Dia hanya masa laluku, tidak akan aku lukai Bintang untuk yang kedua kalinya, cukup aku melihatnya dari jauh," ucap Evan dalam hati, pria itu pun melanjutkan perjalanannya dengan terus mencoba tenang dengan niat untuk selalu menjadi lebih baik.


Tidak lama kemudian Sean datang untuk menjemput Nina dan Binar.


"Tumben, Dady dan Ibu sama-sama jemput Binar?" tanya Binar yang sudah duduk manis di bangku belakang.


"Iya, Dady ingin keluarga kita selalu bersama-sama, andai kakakmu masih mau dijemput, sayangnya, kakakmu sudah dewasa, dia menolak untuk itu," ucap Sean seraya bersiap melajukan mobilnya dan saat itu juga, Sean melihat Bintang yang membonceng motor Brian melintas di depan mobilnya yang masih terparkir di depan sekolah Bintang.


Sean menatapnya dan berharap kalau cinta pertama Bintang tidak akan menyakitkan.


"Kamu tahu?" tanya Sean pada Binar dan Binar yang menatap Sean di kaca spion itu menggeleng.


"Bagaimana mau tau, kamu saja belum memberitahu," protes Nina yang duduk di samping Sean.


"Kamu adalah cinta pertamaku," kata Sean pada Nina dan Nina tersenyum.


"Terima kasih," jawab Nina kemudian.


"Aku, cinta keberapamu?" tanya Sean pada Nina.


"Pertama anak-anakku dulu, lalu, baru kamu," jawabnya.


"Terima kasih," ucap Sean seraya menggenggam tangan istrinya, lalu, mengecup punggung tangannya.

__ADS_1


"Untuk?" tanya Nina merasa heran, bukan cinta pertamanya, tetapi, Sean berterimakasih.


"Karena kamu telah mencintai anak-anakku," jawab Sean.


"Iya... iya, terus kapan kita pulang?" tanya Binar seraya mengganggu Ibu dan Dadynya yang sedang bermesraan.


"Kenapa, anak Dady cemburu?" tanya Sean seraya mencubit gemas pipi Binar.


"Binar lapar, Dad!"


"Baiklah, kita makan. Siang-siang seperti ini, kita makan bakso, enak, mau?"


Dan setelah itu, Sean pun mengajak semua untuk makan bakso.


****


Di tempat lain, Brian sedang membuka pagar rumahnya dan Bintang masih duduk di atas motor.


"Ini rumah kamu?" tanya Bintang seraya menatap rumah yang cukup besar, terlihat asri dan menyejukkan.


"Bukan, ini rumah Mamah aku," jawab Brian seraya mendorong motornya masuk dan setelah sampai di halaman, Brian pun menyuruh Bintang untuk turun.


"Terlihat sepi, di mana Ibu dan Ayahmu?" tanya Bintang seraya memperhatikan Brian yang sedang merapikan rambutnya, berdiri di samping motor dan menatap dirinya di spion.


"Mereka sibuk, aku sudah biasa tidak ada mereka dan aku tidak perduli yang penting sekarang sudah ada kamu yang menemaniku!" gombal Brian, pria itu tersenyum dan membuat Bintang merasa kalau dirinya sangat berarti.


****


Dua orang gadis yang siang tadi menemui Bintang itu mencari Dante.


"Kamu Dante, kan?" tanyanya yang berdiri di depan meja kasir.


"Iya, kenapa?"


"Kamu siapanya Bintang? Aku lihat, dia sedang dekat dengan Brian. Kamu tau, Brian bukan pria baik," ucapnya seraya menatap Dante.


Lalu, Kinan yang sedang merapikan rak itu mendengar dan menjadi khawatir. Kinan pun mendekat. "Dante, kamu harus menjaga adikmu, jangan sampai di dalam bahaya," kata Kinan.


"Oh, jadi kamu Kakaknya, memang benar, seorang kakak itu harus menjaga adiknya," ucap gadis tersebut, setelah itu, ia pun pamit dan ternyata Dante mengikutinya.


"Apa sekarang kamu tau di mana mereka?" tanya Dante.


Gadis itu menoleh dan mengatakan kalau tidak tau.


"Alamat rumahnya?"


"Ya, aku tau." Si gadis itu pun memberikan alamat Brian.

__ADS_1


Seraya menunggunya menuliskan alamat, Dante bertanya, "Apa hubunganmu dengannya?"


"Aku mantan pacarnya dan aku tidak mau Bintang menjadi korban sepertiku!" lirihnya.


Mendengar itu, Dante teringat dengan tempo hari lalu saat Brian memaksa membeli pengaman.


"Terima kasih," ucap Dante seraya menerima selembar kertas bertuliskan alamat rumah Brian.


"Sama-sama," jawabnya.


Dan setelah itu, gadis itu tersenyum smirk.


"Yura, yakin dengan yang kamu lakukan?" tanya temannya.


"Setidaknya, kalau pun mereka tidak berpisah, aku ingin melihat Brian babak belur!" jawab gadis itu yang bernama Yura.


"Sudahlah, ayo kita pulang," ajak Yura pada temannya dan temannya itu pun mengiyakan.


****


Sesampainya di rumah Brian, Dante memarkirkan motornya di depan pagar, ia segera masuk dan kebetulan pintu tidak terkunci.


Dante yang masuk tanpa permisi itu mendengar suara Bintang yang tengah kesakitan.


"Aduh, Brian. Pelan-pelan hisapnya, sakit tau!" lirih Bintang.


Mendengar itu, Dante sudah berpikir yang bukan-bukan dan segera mencari sumber suara Bintang yang ternyata sedang ada di dapur.


Terlihat dari belakang, Bintang sedang duduk di meja makan dan Brian berdiri di depannya.


Tak terima kalau adiknya di perlakukan dengan buruk, Dante pun segera berteriak, "Brian!"


Lalu, Dante berjalan cepat dan betapa malunya Dante saat tak melihat apapun yang ia khawatirkan.


Yang terjadi adalah, Brian sedang menghisap telunjuk jari Bintang yang terkena pisau saat mengiris sayur untuk memasak mie.


"Dante, ngapain kamu di sini, mengganggu saja!" gerutu Bintang seraya melepaskan jarinya dari tangan Brian.


"Apa, mengganggu?" tanya Dante seraya menatap Bintang.


Ya, bagi Bintang apa yang sedang Brian lakukan adalah sangat romantis dan keromantisan itu berakhir saat tiba-tiba saja Dante berteriak.


Bersambung..


Jangan lupa like dan komen, ya, all. Dukung authornya, oke.


Yang masih ada vote gratis, bolehlah di vote/gift juga boleh banget. ☺

__ADS_1


__ADS_2