
Bintang dan Brian menatap Dante yang masih berdiri di samping meja makan. Dan bukannya pergi, justru Dante menarik salah satu kursi dan mulai duduk manis, matanya masih memperhatikan Bintang dan gadis yang rambutnya tergerai itu memutar bola matanya malas.
Lalu, Bintang turun dan mengambil plester yang sudah Brian siapkan di meja makan, Bintang memakaikannya di telunjuknya yang terluka, lalu, Bintang melanjutkan untuk memasak mienya.
Setelah beberapa menit, sekarang, Dante di suguhi mie kuah oleh Bintang dan Bintang duduk di kursi depannya.
Semua orang makan tanpa bicara, suasana yang tadinya sangat romantis menjadi dingin dengan datangnya Dante.
Dan Brian yang secepat kilat menghabiskan mienya itu menatap Dante. "Mau sampai kapan kamu di sini?" tanyanya.
"Aku akan pulang dengan Bintang," jawab Dante seraya menatap Brian dan Brian tersenyum smirk.
"Kamu suka sama Bintang?" tanya Brian dengan datarnya, "bukannya kamu yang menolak saat Bintang mengejarmu?" lanjut Brian, pria itu bersedekap dada dan menyenderkan punggungnya di kursi.
Mendengar pertanyaan itu, Dante meletakkan sendok dan garpunya begitu saja, sedangkan Bintang, menatap dengan mengikuti siapa yang sedang berbicara.
Dan dari pertanyaan Brian, Dante mengerti kalau pria itu sudah cukup lama memperhatikan Bintang.
"Aku dan Bintang ada urusan," ucap Dante seraya bangun dari duduk dan tanpa meminta ijin, Dante menarik lengan Bintang dan Bintang melepaskan tangan Dante.
"Urusan apa, kita tidak ada urusan, kamu tau itu!" kata Bintang yang kemudian berbalik badan, ia ingin kembali ke kursinya dan belum sampai ke kursi tersebut, Bintang sudah melayang karena Dante membopongnya.
Melihat itu, Brian menarik nafas, ia merasa kalau Dante adalah saingan terberatnya.
Sementara Bintang, sudah pasti ia meronta dan membuat Dante sedikit kewalahan. Sesampainya di depan pintu utama, Dante pun menurunkan Bintang, ia berdiri di depan pintu untuk menghalangi Bintang supaya tidak kembali.
"Apa maumu?" tanya Bintang dengan begitu ketusnya, ia merapikan rambutnya yang mulai berantakan dengan frustasi.
"Temui Omah," jawab Dante.
"Aku tidak punya Omah, Omahku sudah lama meninggal dan sekarang hanya ada Nenek, dengar itu, hanya ada Nenek!" jawab Bintang yang masih tersengal.
"Aku tau kamu marah, setidaknya, temui dia sekali saja, dia sangat menderita!" ucap Dante, pria itu yang tak menunggu persetujuan Bintang pun mulai menarik tangannya.
"Dia menderita karena dirinya sendiri, bukan karena aku!" kata Bintang seraya mengibaskan tangan Dante.
Lalu, Bintang berlari keluar dan melihat motor Dante masih lengkap dengan kuncinya itu mulai berpikir untuk membawanya kabur.
Benar saja, Bintang meninggalkan Dante yang berdiri menatapnya datar.
Bintang memperhatikan dari kaca spion, "Kok dia diam saja, kan tidak seru, seharusnya di kejar aku!" gerutu Bintang dan saat Bintang memasuki jalan besar, Bintang melihat banyak polisi yang sedang berpatroli.
"Astaga, bakalan repot kalau berurusan sama mereka," kata Bintang dalam hati, dengan terpaksa Bintang harus putar balik, ia kembali ke rumah Brian.
Dante yang sedang berjalan kaki dengan helm di kepalanya itu menghentikan langkahnya, menunggu Bintang yang sekarang sudah berhenti di depannya.
Bintang turun dan memberikan kunci motornya pada Dante.
__ADS_1
"Ini, ku kembalikan," kata Bintang dan Dante menerima, bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat Bintang kembali.
"Di depan ada polisi, aku terpaksa kembali lagi," ucap Bintang yang menjawab rasa penasaran Dante.
"Pantes!"
Lalu, Dante menyuruh Bintang untuk membonceng. "Tapi, ada polisi, nanti kena tangkap, kan aku tidak pakai helm."
"Percaya sama aku!" kata Dante dan ternyata, Dante mencari jalan lain, ia harus masuk ke gang untuk menghindari tilang.
****
Dante membawa Bintang ke tokonya dan di sana, Kinan yang berdiri di kasih sedang kewalahan sehingga terjadi antrian panjang.
Dante segera mengambil alih dan Kinan tersenyum.
"Di depan ada Bintang," lirih Dante.
Mendengar itu, Kinan menjadi gugup, ia tidak tau harus berbicara apa pada cucunya. Lalu, Kinan pun menyusul Bintang yang sedang duduk di kursi depan toko.
Bintang yang sedang menguncir rambutnya itu melihat Kinan yang baru saja keluar dari toko.
"Aku tidak menyangka kalau ternyata Nenek adalah Nenekku," kata Bintang seraya menatap Kinan dan Kinan segera ikut duduk, ia meraih tangan Bintang dan merasa sangat senang karena Bintang mengakuinya.
"Bintang, panggil saya Omah," pinta Kinan dan Bintang menarik tangannya, ia teringat dengan cerita Nina yang mengatakan kalau Kinan telah menyiksanya.
"Tangan itu sudah menyiksa Ibuku, jadi jangan sentuh aku," kata Bintang seraya menatap tangan Kinan.
Kinan menelan salivanya dan mengerti perasaan Bintang yang memang sudah sewajarnya akan membenci.
"Iya, Omah ingin menebus semua jika kamu mengijinkan," lirih Kinan yang menunduk.
"Bagaimana caranya, sedangkan waktu tidak akan kembali," jawab Bintang.
"Jika tidak ada hal lain lagi, Bintang pamit, Nek!" kata Bintang seraya bangun dari duduknya.
"Kamu persis seperti ayahmu," kata Kinan seraya ikut berdiri dan Bintang hanya diam saja, dalam hati, Bintang ingin seperti Sean, tetapi kenapa justru seperti Evan? Itulah pertanyaan Bintang.
Bintang tak mengatakan apapun lagi, ia berjalan dan tanpa melihat kebelakang, ia menunggu taksi di tepi jalan dan setelah mendapatkan taksinya, Bintang pun pergi dari toko Evan.
****
Di rumah Brian, pria yang sedang melepaskan Hoodienya itu merasa kesal, ia melemparkan hoodie itu ke ranjang.
"Sial, dari mana dia tau alamatku?" gerutunya.
"Bukankah tidak ada lagi selain Yura, atau ini ulah Yura?" tanyanya.
__ADS_1
Lalu, seraya menunggu malam tiba, Brian memilih untuk tidur. Dan Brian terbangun saat ponselnya bergetar, Brian mendapatkan pesan dari Yura.
"Brian, ayolah, kita kembali, aku tidak bisa tanpamu!"
"Ck, Yura... Yura," decak Brian, pria itu bangun dan meletakkan ponselnya begitu saja di ranjang.
Pria berwajah oriental itu memilih mandi, selesai dengan mandi, Brian mengirim pesan pada Yura.
"Aku menunggu di tempat biasa."
Dan Yuma sangat senang setelah mendapatkan pesan itu.
****
Sekarang, Bintang sedang mengerjakan tugas bersama Binar di ruang tengah dan Bintang melihat ke arah ponselnya yang berdering, itu adalah dari Brian.
Bintang menerimanya, "Hallo."
".......... "
"Kemana?" tanya Bintang.
".......... "
"Baiklah, aku harus meminta ijin lebih dulu."
Setelah itu, Bintang segera bangun dari duduk, ia mencari Nina yang sedang menyiapkan baju ganti untuk Sean.
"Bu," lirih Bintang yang sedang mengetuk pintu.
Nina membuka pintu itu. "Iya, ada apa, Nak?" tanyanya.
"Bintang boleh minta ijin? Bintang mau pergi sama teman-teman."
"Kemana?" tanya Nina, ia harus mendapatkan alasan yang jelas.
"Mengerjakan tugas bareng teman," jawab Bintang dan apa yang dikatakan Bintang adalah kebohongan.
Dan Nina mengijinkan karena ia mengira kalau Bintang akan mengerjakan tugas bersama Mawar dan Luna.
Dan sebenarnya, kemana Brian mengajak Bintang?
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen, ya, all. Dukung authornya, oke.
Yang masih ada vote gratis, bolehlah di vote/gift juga boleh banget. ☺
__ADS_1