
Evan yang seharusnya ada tanda tangan kontrak dengan sebuah perusahaan itu akhirnya harus kembali ke rumah sederhananya dan sesampainya di rumah, Evan yang sekarang menjadi pria dingin itu tidak menceritakan apapun pada keluarganya.
Tetapi, Dante yang sedang membantu Kinan untuk belajar berdiri itu mengetahui kalau Evan sedang bersedih, Dante melihat dari tatapan mata Evan.
Melihat anaknya yang berdarah, Kinan pun bertanya, tetapi, Evan mengatakan kalau dirinya hanya berkelahi dengan preman.
"Kasihan kamu, Nak. Seandainya Mama tidak memaksakan pernikahan kalian, mungkin kita tidak akan sulit seperti ini," ucap Kinan dan Evan yang sudah bosan dengan apa yang Kinan ucapkan itu memilih untuk ke kamarnya.
Evan ingin berteriak, tetapi hanya bisa menahannya. Evan yang sekarang duduk di bibir ranjang itu mengepalkan tangannya dan karena lukanya yang masih menganga itu kembali tergores, Evan menjadi frustasi.
Evan menangis, ia yang sudah susah payah berusaha melupakan Nina itu kembali melihatnya dan sekarang, Nina terlihat dengan pria bule yang ada di hotel waktu itu.
Evan semakin membenci Nina yang benar-benar dianggapnya bermain di belakangnya.
"Kenapa aku sulit melupakan kamu, padahal kamu telah melukaiku!" kata Evan yang sedang menangis, pria itu memijit pangkal hidungnya.
****
Sean mengirim pesan pada Nina, ia mengatakan kalau sudah menunggu di rumah dan Nina yang sedang berbelanja kebutuhan laundry itu membalas pesan Sean, mengatakan kalau dirinya akan segera pulang, Nina juga mengirim fotonya yang sedang berada di tempat langganannya.
Melihat itu, Sean merasa sedikit lega, ia takut dan sempat berpikir kalau Nina akan membantu Evan yang terluka.
Sesampainya Nina di rumah, Nina melihat Sean sedang mengompres bibir dan hidungnya yang terluka.
Nina segera ikut duduk di sofa ruang tengah, Nina meminta kompres itu pada Sean dan Sean yang sedang cemburu itu menepiskan tangan Nina.
"Tidak usah!"
"Sean, kenapa kamu marah sama aku?" tanya Nina dan Sean yang merasa khawatir itu menitikkan air matanya.
"Aku takut Nina, aku takut!" jawab Sean seraya meletakkan kompresnya begitu saja di meja, pandangannya lurus ke depan, dengan sorot mata yang tajam.
Nina mengerti kekhawatiran suaminya itu dan segera merangkum wajahnya.
"Sean, aku ada di sini dan bukan hanya ragaku, tetapi juga hati dan cintaku, aku mencintaimu dan dia hanya masalaluku," kata Nina.
Sean pun meminta Nina untuk berjanji dan Nina mengatakan kalau dirinya tidak dapat berjanji, seperti apa yang Sean ajarkan, tetapi, Nina akan selalu berusaha dan akan terus ada untuk suaminya.
Sean dan Nina bukanlah orang yang mudah mengucapkan janji lalu mengingkari, begitulah yang Sean ajarkan pada Nina.
Sekarang, Sean dan Nina berpelukan.
__ADS_1
Setelah itu, Sean dan Nina menyudahi pelukannya karena Binar baru saja pulang sekolah.
"Sayang, kamu pulang sama siapa?" tanya Nina pada Binar yang mengenakan seragam merah putih.
"Binar diantar sama bu guru Felicia," jawab Binar seraya meminta tangan Nina dan Sean.
Lalu, Binar menanyakan kenapa wajah Dadynya itu berdarah, Binar duduk dipangkuan Sean, ia mengompres luka Sean dan Sean pun memeluk istri juga anaknya.
****
Malam hari, Sean dan Nina yang sudah berada di ranjang itu sedang membuat kesepakatan, kesepakatan yang meminta pada Nina untuk tidak mengatakan siapa ayah kandung Bintang dan Nina mengiyakan.
Nina mengatakan kalau Sean adalah Ayah Bintang dan Sean merasa senang.
"Sayang, bisakah kita buatkan adik untuk Binar?" tanya Sean kemudian dan Nina mengatakan kalau dua anak cukup.
"Tapi, aku mau anak laki-laki," kata Sean dan Nina menjawab, "Nanti, setelah anak-anak kita menikah, kita akan memiliki anak laki-laki."
"Itu menantu, sayang. Bukan anak kandung, aku mau anak kandung," kata Sean yang kemudian menyerang istrinya dan olahraga malam pun terjadi.
****
Sementara itu, Evan sedang ditemani sebotol minumannya, ia ingin melupakan dan kenapa justru seolah diingatkan.
Kinan menangis dan Dante yang sedang mengerjakan tugas kuliah itu melihatnya.
Dante mencoba menghibur dan Kinan yang sudah mulai bisa bersikap baik dengan Dante itu tersenyum pada cucu angkatnya.
"Dante, tolong hibur Ayah kamu," kata Kinan seraya meraih tangan Dante dan Dante menjawab, "Untuk saat ini, biarkan dulu, Omah. Pasti, Ayah ingin punya waktu untuk dirinya sendiri."
Setelah itu, Dante yang terluka di tangan dan kening itu membantu Kinan untuk bangun.
"Omah harus sering belajar bangun, supaya cepat pulih," kata Dante dan Kinan yang sekarang hidupnya seolah penuh penyesalan itu menangis.
"Omah, kenapa Omah selalu menangis, apakah karena Cate yang telah mencuri kekayaan Omah dan Ayah?" tanya Dante yang sedang menuntun Kinan ke kamarnya.
Kinan menggelengkan kepala, ia tidak dapat memberitahu apa yang membuat Evan menjadi seperti itu yang Kinan tau, ia hanya menyesal karena telah memisahkan Evan dengan cintanya, lalu menggantikan dengan cinta yang baru, cinta yang membawa kehancuran keluarga Kinan.
"Tidak apa, terima kasih," kata Kinan yang sudah sampai di ranjangnya.
"Sama-sama," kata Dante.
__ADS_1
****
Beberapa hari kemudian, hari kelulusan telah tiba dan Bintang yang tidak begitu pandai merasa senang setelah mendapatkan nilai yang cukup memuaskan.
Dan karena itu, Sean juga Nina mengajak semua orang untuk merayakan termasuk keluarga Endru, ya, Endru sudah menikah dan memiliki anak yang berusia 7 tahun.
Sekarang, Endru menjadi tangan kanan Sean yang mengurus semua cabang restoran termasuk yang ada di luar kota.
Kebahagiaan begitu terasa di keluarga Nina dan tanpa sengaja Bintang yang baru saja keluar dari toilet itu melihat Dante yang ternyata bekerja di restoran tersebut sebagai pelayan.
Bintang pun memanggilnya, lalu menghampiri Dante yang sedang membesarkan piring di meja dan Bintang menanyakan kabarnya.
"Saya baik, jadi, anda tidak perlu khawatir. Permisi, saya sedang bekerja dan kita sudah tidak ada urusan," kata Dante yang kemudian pergi meninggalkan Bintang.
Sementara itu, dari tempat duduknya, Nina tengah memperhatikan Bintang dan setelah sampai di kursinya lagi, Nina segera bertanya, "Kamu mengenalnya, siapa?"
"Dia, pria yang tak sengaja tertabrak, Bu."
"Apa perlu Ibu dan Dady menemuinya?" tanya Nina dan Bintang menyarankan untuk tidak menemui pria dingin itu.
"Baiklah," kata Nina.
Dan Eny yang mendengar itu bertanya, "Kamu nabrak orang? Tapi dia tidak apa-apa, kan?"
"Tidak, Nek. Nenek tidak perlu khawatir," kata Bintang.
****
Setelah beberapa waktu berlalu dan sekarang, Bintang sudah kuliah, ia kuliah di kampus yang sama dengan Dante.
Bintang kuliah di kampus swasta dan tak berpisah dari Luna dan Mawar.
Bintang yang melihat Dante pun memanggilnya.
"Bintang, kamu kenal dia?" tanya Luna pada.
Bintang mengabaikan pertanyaan itu dan segera berlari ke arah bule tersebut.
"Kayanya, Ibu dan anak sama-sama sukanya bule!" timpal Mawar dan Bintang yang mendengarnya itu berbalik badan dan menatap tajam Mawar.
Benarkah apa yang dikatakan teman-teman Bintang?
__ADS_1
Jangan lupa line dan komen, ya, all. Vote/giftnya juga, ya. Terima kasih. 💙