
Mawar tersenyum dan berlindung di balik badan Luna.
"Sudah tau Bintang galak, masih saja meledeknya!" kata Luna pada Mawar.
Dan karena ingin menyapa Dante, Bintang pun mengabaikan Mawar, sayangnya, setelah Bintang kembali berbalik badan itu, Dante sudah tidak ada.
Akhirnya, terjadilah aksi kejar-kejaran Bintang dan Mawar, Luna hanya berdiri menyaksikan, setelah lelah, ketiganya pergi ke kantin dan di kantin, Bintang melihat Dante yang sedang membantu Ibu kantin. Kehadiran Dante membuat Ibu kantin senang karena kantin semakin ramai ketika bule menjadi pelayannya.
Bintang terus memandanginya dan Dante yang merasa diperhatikan itu melihat ke arah Bintang dan Bintang melemparkan senyum.
Dan Bintang tersadar saat Dante sudah ada di depan matanya.
"Mau pesan apa?" tanya Dante dan bukannya menjawab, tetapi, Bintang mengatai pria itu begitu dingin dan galak, membuat Bintang merasa berdesir setiap melihat Dante.
Dante pun menoyor kepala Bintang.
"Anak kecil, belajar yang rajin!" kata Dante yang kemudian pergi dari hadapan Bintang.
Bintang yang mendapatkan perlakuan itu pun mengerucutkan bibir, ia mengusap dadanya yang terasa cekat-cekit.
"Bintang, kamu waras, kan?" tanya Luna dan Bintang menjawab, "Sepertinya tidak, setelah bertemu dengannya."
"Astaga, Bintang... Bintang," kata Mawar dan Bintang yang sedang merasa senang itu mentraktir kedua sahabatnya.
"Bintang," panggil Mawar dan Bintang yang sedang membalas pesan Nina mengangkat kepala, melihat Mawar yang duduk di depannya.
"Iya, kenapa?" tanya Bintang yang kemudian kembali ke ponselnya.
"Aku mau tanya, tapi, kamu jangan marah atau tersinggung," kata Mawar, sementara Luna, ia yang duduk di samping Bintang itu menatap Mawar dan Bintang bergantian.
"Iya, tanyakan saja, kita berteman sudah lama, kalau aku marah, kan nanti kita berteman lagi, seperti itu dari kita bayi," jawab Bintang seraya menatap Mawar.
"Kenapa kamu tidak mirip dengan Uncle Sean?"
Deg.. Bintang merasa tersinggung dengan pertanyaan itu dan Bintang tak tau harus menjawab apa.
Dan Luna, demi mencairkan suasana, ia mengatakan kalau Bintang sangat mirip dengan Nina, kalau adiknya sangat mirip dengan Sean.
Bintang menganggap jawaban Luna masuk akal dan Bintang meminta pada Mawar untuk tidak bertanya hal seperti itu lagi.
"Maaf, Bintang. Aku hanya penasaran," kata Mawar dan Bintang pun menjawab, "Tidak apa-apa."
****
Kinan yang lapar itu berada di rumah sendiri, ia mengambil tongkat yang ada di dekat sofa ruang tengah, lalu, dengan perlahan Kinan keluar.
__ADS_1
Kinan ingin membeli nasi di warteg seberang rumahnya dan Kinan yang berjalan menggunakan tongkat hampir terserempet motor membuat Kinan hilang keseimbangan. Kinan yang berdiri di tepi jalan pun jatuh.
Dan Bintang yang dalam perjalanan pulang kuliah itu melihatnya dari taksi, Bintang merasa kasihan padanya dan Bintang pun meminta pada sopir taksi untuk menepi.
Bintang turun untuk membantunya.
"Nenek, kenapa?" tanya Bintang seraya membantu Kinan untuk berdiri.
"Saya hampir terserempet motor, terima kasih sudah membantu," kata Kinan dan Bintang tersenyum.
"Hati-hati, Nek. Sekarang, Nenek mau kemana?" tanya Bintang yang mengusap lutut Kinan yang kotor terkena debu.
"Nenek mau membeli nasi, di warteg depan," jawab Kinan seraya menunjuk warteg tersebut.
"Kalau mengizinkan, biar saya yang belikan," kata Bintang dan Kinan pun mengiyakan, ia meminta dibelikan nasi dengan sayur sup juga telur balado.
"Baiklah," kata Bintang dan Bintang meminta pada sopir untuk menunggunya sedikit lama dan sopir mengiyakan.
Setelah itu, Bintang segera menyebrang dan Bintang membelikan sesuai pesanan. Setelah mendapatkan itu, Bintang segera memberikannya pada Kinan dan Bintang yang sudah ditunggu itu tidak dapat mengantarkan Kinan pulang.
"Tidak apa, sudah dibantu saja, saya terima kasih banyak," kata Kinan, setelah itu, Bintang pamit dan Kinan menitikkan air mata.
Yang dulu berkuasa atas hartanya, kini menjadi bukan siapa-siapa, bahkan membutuhkan bantuan orang lain.
Dante yang mengendarai motornya itu melihat Kinan sedang berdiri, lalu, Dante turun dari motor.
"Omah lapar, jadi Omah membeli nasi," jawab Kinan seraya menunjukkan nasi bungkus itu.
Padahal, Dante sudah membawakan makanan dari kantin kampus, pemberian Ibu kantin dan makanan itu Dante simpan untuk nanti malam Kinan makan.
Sementara itu, Evan sedang sibuk mencari pekerjaan dan sama sekali merasa tidak ada yang cocok dengannya.
Karena sudah merasa lelah, Evan pulang. Evan menyapa Kinan yang sedang duduk di kursi roda, depan televisi.
Setelah itu, Evan masuk ke kamarnya dan dia sedang berpikir apa yang akan ia lakukan setelah ini.
****
Di rumah Bintang, Bintang sedang mengajari adiknya belajar dan Bintang memperhatikan wajah cantik adiknya.
Tersadar, Bintang merasa kalau dirinya tidak mirip sama sekali dengan Sean sedangkan Binar, ia cantik dengan wajah blasterannya.
Lalu, Bintang yang sedang duduk di sofa ruang tengah itu melihat ke belakang, di mana Nina sedang sibuk di dapur malam hari.
Bintang bangun dari duduk, ia menghampiri Nina yang ternyata sedang membuat puding.
__ADS_1
"Bu," lirih Bintang yang duduk di kursi meja makan, Nina yang sedang mencuci perabotan bekasnya memasak itu pun menoleh.
"Iya, sudah selesai belajarnya?" tanya Nina yang kemudian mengelap tangannya menggunakan kain kering, lalu, Nina berdiri di depan Bintang yang terdiam.
"Ada apa?" tanya Nina seraya mengusap rambut hitam putrinya.
"Kenapa Bintang tidak mirip dengan Dady?"
Nina terdiam, tak tau harus menjawab apa dan saat itu juga, Sean yang baru pulang dari restoran menjawab, "Karena waktu hamil, Ibumu berdoa, supaya anaknya akan mirip dengan Ibu bukan Dadynya."
Sean yang membawakan aneka buah-buahan itu meletakkannya di meja makan dan Sean mengusap pucuk kepala Bintang, lalu mencium kening Nina.
Bintang tersenyum karena jawaban Sean cukup masuk akal baginya dan setelah itu, Bintang kembali ke sofa bersama Binar.
"Terima kasih, Sean," ucap Nina yang kemudian memeluk Sean dan Sean mengusap lengan Nina.
"Pesanan ku sudah ada?" tanya Sean seraya melepaskan pelukan.
"Sudah, dia ada di dalam kulkas, belum dingin," jawab Nina, ya, puding itu adalah pesanan Sean.
****
Di rumah Evan, Evan yang berpikir akan membuka usahanya sendiri itu menyampaikan niatnya pada Kinan.
"Mah, Evan sudah banyak melamar pekerjaan, tetapi, Evan selalu merasa tidak cocok."
"Lalu?"
"Evan akan membuka usaha Evan sendiri, apa Mama mengizinkan?"
"Tentu saja, kenapa tidak, Mama akan selalu mendukungmu apapun itu," kata Kinan seraya tersenyum pada Evan.
"Tapi, Evan membutuhkan modal, apakah Evan boleh menjual rumah yang ada di pondok gede?" tanya Evan dan Evan merasa kalau Kinan tidak akan mengizinkan. Tetapi, Evan salah, Kinan yang selalu merasa bersalah pada anaknya itu mengiyakan.
"Iya, mulai sekarang, Mama akan selalu mendukungmu, apapun itu," jawab Kinan seraya menatap Evan.
"Begitulah Mama, selalu mendukung Evan, terima kasih," kata Evan yang tak mencurigai maksud perkataan Kinan.
Kinan mengangguk, lalu, Kinan yang ada di kursi roda itu mengambil surat yang ia simpan di lemari kamarnya.
"Semoga, ini dapat menebus semua kesalahan Mama di masalalu, Nak," kata Kinan dalam hati.
Berhasilkah Evan bangkit dari keterpurukan?
Jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya, all.
__ADS_1
Ada Vote gratis? Yuk divote Bintang dan Ninanya, gift juga boleh. 🤗