BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Terungkap?


__ADS_3

Tetapi, apa yang Sean pikirkan itu tidak benar, karena sampai larut malam Bintang belum pulang dan Bintang ditemani oleh Dante, keduanya duduk berasa di taman, di ayunan dan di taman banyak orang yang juga sedang berkencan.


"Mau sampai kapan kamu di sini?" tanya Dante yang ada di sebelah kanan Bintang.


"Sampai Dady datang untuk menjemput dan aku tidak mau Dady marah saat melihatmu, lebih baik kamu pulang," kata Bintang seraya menatap Sean.


"Tidak, aku tidak akan pergi, tidak baik malam-malam seperti ini kamu sendiri," kata Dante dan Dante mengambil air minum dalam kemasan, ia tengah haus juga lapar, tetapi, Bintang sama sekali tak mau bangun dan pergi dari ayunan itu.


"Kamu tau, dulu, aku pernah bermain ayunan ini bersama Dady dan tak terasa, sekarang, aku sudah besar," kata Bintang yang tak mau menatap Dante.


"Kamu tau, aku begitu mengaguminya, dia Dady yang baik, menjagaku dan Ibuku," kata Bintang yang kemudian kembali menangis.


Dan Dante hanya mendengarkan.


"Tapi, aku tidak mengerti ucapan Ayahmu, Dante. Kenapa dia mengatakan kalau aku anak selingkuhan mantan istrinya?" tanya Bintang seraya menatap Dante dan Dante yang juga tak mengetahui itu pun hanya diam.


"Atau mungkin Ibuku mantan istri ayahmu?" tanya Bintang dan Dante lagi-lagi hanya diam.


"Kamu tau, dulu, setiap ku bertanya di mana ayahku, Ibu selalu bilang kalau aku tidak memiliki ayah," kata Bintang dan Dante semakin yakin kalau yang dikatakan Evan adalah benar.


"Tapi tidak benar jika aku anak haram karena Ibu selalu mengatakan, aku Bintang yang jatuh dari surga," lirih Bintang dengan suara yang tercekat, sangat berat untuk berkata, bercerita, tapi ia tak dapat menahan perasaannya.


Dante yang duduk di sampingnya itu mengusap punggung Bintang.


****


Sementara itu, Sean masih menunggu dengan berbaring di sofa ruang tengah, lalu, Binar keluar dari kamar dan melihat itu.


Sean melihat kearahnya dan bertanya kenapa Binar belum tidur.


"Binar memikirkan Kakak, sudah malam, tapi Kakak belum pulang," kata Binar, "Dad, bisakah Dady mencari dan membawa Kakak pulang?" tanya Binar yang masih berdiri di pintu.


Sementara Nina, ia mendengar dari balik pintu, permintaan Binar membuat Nina semakin bersedih dan Nina menganggap Sean membandingkan antara Binar dan Bintang.


Lalu, Nina keluar dari kamar dan Sean merubah posisinya menjadi duduk.


"Nina," lirih Sean dan Nina sama sekali tidak menoleh.


"Nina, sudah malam, kamu mau kemana?" tanya Sean yang bangun dari duduk dan mulai mengikuti Nina dan Nina yang masih dengan amarahnya itu berbalik badan.


"Mencari anakku!" jawab Nina dan Sean mengatakan kalau Bintang juga anaknya.


"Kalau dia anakmu juga, kamu tidak akan bersantai di rumah seperti ini, Sean. Dengan sikap kamu seperti ini, aku tau kamu membedakan Binar dan Bintang!" kata Nina dan pertengkaran itu disaksikan oleh Binar yang masih berdiri di pintu.

__ADS_1


Binar semakin bersedih setelah mendengar ucapan para orang tua yang membawa namanya.


"Apa yang salah dengan Kakak?" tanya Binar dalam hati.


"Aku berpikir dia akan pulang," jawab Sean.


"Kenapa tidak berpikir untuk meminta maaf? Apa karena Bintang bukan anak kandungmu?" tanya Nina.


Pertanyaan Nina bagaikan petir yang menggelegar bagi Bintang yang mendengarnya, ya, Bintang pulang dan Bintang berdiri di pintu.


Sakit sekali hati Bintang sehingga Bintang mengusap dadanya dan Bintang sangat kecewa pada semua orang yang telah menyembunyikan statusnya.


Melihat bayangan yang berdiri di pintu, Sean dan Nina melihat kearahnya.


"Bintang," lirih Nina dan Bintang yang baru saja kembali itu pergi, ia berlari dan Dante yang baru saja memarkirkan motornya itu memanggil Bintang.


"Mau kemana dia malam-malam seperti ini?" tanya Dante pada dirinya sendiri.


"Aku kecewa Sean, kecewa!" teriak Nina pada Sean dan Sean bersujud di kaki Nina.


"Maafkan aku, Nina. Maafkan!" pinta Sean dan Nina memilih untuk keluar.


Nina bertanya pada pria bule yang masih ada di depan pagar rumahnya.


"Kemana Bintang pergi?" tanya Nina dan Dante menunjuk ke arah rumah Eny.


Sekarang yang menjadi bingung adalah Binar karena semua keluar dan tinggal lah Binar seorang diri.


****


"Nenek!" teriak Bintang seraya menggedor pintu rumah Eny dan Eny yang sudah tertidur itu membuka pintu kamarnya.


Eny melihat kalau Endru sudah bangun lebih dulu untuk membuka pintu dan terlihat Bintang yang segera memeluk Pamannya.


"Bintang, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Endru seraya melepaskan pelukan Bintang, tetapi, Bintang yang tak mampu menjawab pertanyaan itu menolak untuk melepaskan pelukannya sampai Bintang melihat Eny, lalu, Bintang segera ke arahnya untuk memeluknya.


Dan Endru melihat Nina dan juga Sean yang menyusul.


"Ada apa ini? Kenapa semua orang menangis?" tanya Endru dan Endru memutar kepalanya melihat pada Bintang yang sedang bertanya pada Eny.


"Nek, Bintang anak siapa?" tanya Bintang dan Eny menjawab kalau Bintang anak Ibu dan Dadynya.


"Tidak, Nek. Ibu bilang, Bintang bukan anak Dady," tangis Bintang dan Eny yang melihat kehadiran Nina itu menatapnya.

__ADS_1


Nina yang terengah itu menggelengkan kepala, sementara itu, Eny merasa kalau sudah saatnya Bintang tau kebenarannya.


****


Di rumah Evan.


Evan sedang menunggu Dante dan Evan memarahinya.


"Dari mana kamu?" tanya Evan seraya bangun dari duduknya.


"Menemani Bintang," jawab Dante dengan jujur dan apa adanya.


"Apa kamu tidak tau kalau Ayah membenci keluarganya?"


"Kalau Ayah membenci orang tuanya, tidak seharusnya Ayah membenci Bintang," kata Dante yang kemudian masuk ke kamar.


Dante yang mendapatkan amarah Evan itu membanting pintu dan Kinan yang sedari tadi menangis di kamar itu mendengar.


"Apa yang harus ku lakukan, sementara, ini semua salahku di masa lalu," kata Kinan seraya mencengkeram kerah bajunya sendiri.


"Tapi, benar kata Dante kalau Bintang tidak bersalah, aku tidak boleh diam, selagi masih ada umurku untuk mengatakan semuanya," kata Kinan yang kemudian bangun dari duduk.


Kinan mulai berjalan perlahan dibantu dengan tongkatnya.


"Evan," lirih Kinan pada putranya yang sedang duduk dengan menunduk.


Evan mengangkat kepalanya, ia menatap Kinan yang berdiri tidak jauh di depannya.


"Ya, ada apa, Ma?" tanya Evan.


"Ada yang ingin Mama sampaikan," kata Kinan dengan air mata yang deras mengalir.


"Apa? Kenapa Mama menangis?" tanya Evan seraya bangun dari duduknya, ia membawa Kinan untuk duduk di sofa.


"Mama tau, setelah ini, pasti kamu tidak akan memaafkan Mama," ucap Kinan.


"Maksudnya?"


"Nina tidak bersalah, semua salah Mama," kata Kinan seraya menatap Evan yang belakangan ini semakin kurus dan wajahnya begitu tirus.


"Ma-ma...," ucap Kinan degan terbata dan Kinan menggantung ucapannya.


Bersambung.

__ADS_1


Like dan Komen setelah membaca, ya.


Jangan lupa untuk dukung juga dengan cara vote/giftnya. Terima kasih. 💙


__ADS_2