BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Kebahagiaan Keluarga Kecil Nina Dan Sean


__ADS_3

Sean bangun dari berbaringnya, ia segera pulang untuk menemui istri yang sangat ia sayangi.


Sean yang baru saja sampai di rumah itu melihat Nina ada di dapur dan tidak seperti biasanya, kali ini Sean tidak memeluk istrinya dari belakang. Sean sedikit merasa bersalah.


Ya, Sean merasa curang dan seharusnya, Nina marah padanya, memakinya, lalu memaafkan, begitulah yang Sean inginkan.


"Ada apa?" tanya Nina yang sedang memotong daging. Nina ingin memasak sup daging kesukaan Bintang dan Binar.


Karena Sean masih diam, Nina pun mendongak dan Sean tersenyum, Sean yang masih bimbang itu mengecup kening istrinya, lalu mengusap rambutnya yang hitam.


Nina tersenyum, ia dapat merasakan cinta yang begitu tulus dari suaminya.


"Aku mandi dulu," kata Sean seraya mengusap punggung Nina dan Nina merasa aneh, ia merasa kalau Sean menyembunyikan sesuatu dan Nina berniat akan menanyakan itu setelah selesai memasak.


Sementara itu, Sean yang sudah berdiri di bawah shower itu memikirkan masa lalunya.


"Nina, aku takut, takut kamu akan membenciku jika tau kalau aku berbohong," kata Sean dalam hati, pria yang tengah gelisah itu menyisir rambutnya menggunakan jari-jemarinya.


****


Bintang yang baru saja pulang itu mencium aroma wangi masakan Nina dan Bintang segera menyusul, mengetahui kalau Ibunya sedang memasak makanan kesukaannya, Bintang pun segera membantu.


Gadis itu meletakkan tas dan bukunya di meja makan, lalu, Bintang mengambil pisau untuk mengiris wortel dan kentang, tetapi, Bintang akan selalu menolak jika harus mengiris daun bawang, karena Bintang akan selalu menangis jika mengirisnya.


Dan dari situ Bintang berpikir kalau evan yang membuatnya terluka maka Evanlah yang akan menangis.


Nina yang sedang mengaduk kuah sup itu sedikit memperhatikan Bintang yang terdiam, Bintang sedang hanyut dengan pikirannya sendiri.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nina seraya kembali menutup panci berisi kuah sup.


"Tidak ada," jawab Bintang seraya menatap Nina, Bintang tersenyum dan Nina sangat tau kalau putrinya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sayang, apa kamu tidak mempercayai Ibu?" tanya Nina seraya menatap Bintang yang sekarang sedang mengupas Kentang.


"Bintang selalu percaya sama Ibu," jawab Bintang tanpa melihat Nina. Lalu, Bintang yang sudah berusaha menahan tangisnya itu tak mampu lagi membendung air matanya.

__ADS_1


Nina mengambil pisau dan kentang itu dari tangan Bintang, lalu, Nina memeluknya.


"Kenapa menangis?" tanya Nina seraya melepaskan pelukan itu, Nina merangkum wajah putrinya dan mengecup keningnya, Nina harus sedikit berjinjit karena Bintang sudah lebih tinggi darinya.


"Bintang sedih karena Bintang bukan anak kandung Dady dan Bintang sangat membenci Evan yang sudah menyia-nyiakan kita, Bu," lirih Bintang dan Nina tersenyum.


"Kenapa Ibu tersenyum," protes Bintang seraya menurunkan tangan Nina, setelah itu, Bintang kembali kentang juga pisaunya.


"Kenapa? Ibu ingin bahagia maka dari itu Ibu tidak ingin lagi menyimpan kebencian pada siapapun," ucap Nina seraya memperhatikan Bintang.


"Bintang, apakah kamu akan membenci Sean jika tau kalau Sean yang telah membuat Ibu dan ayahmu berpisah?" tanya Nina dalam hati.


Dan sama seperti Nina, Sean yang ternyata memperhatikan keduanya dari pintu dapur itu berpikir hal yang sama.


"Bintang, aku dan nenekmu lah yang memisahkan kalian dari Evan," lirih Sean dalam hati.


"Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu, lagi pula, Nina sudah berjanji kalau dia akan selalu memaafkan kesalahanku!" kata Sean yang masih berbicara dalam hati, setelah itu, Sean berbalik badan dan berapa terkejutnya karena ia hampir menabrak Binar yang baru saja kembali dari sekolah, ya, Binar harus terlambat pulang karena banyak kegiatan di sekolahnya.


"Dady, kenapa?" tanya Binar dan Sean tersenyum seraya menggeleng.


Sean mengusap pucuk rambut putrinya dan setelah itu Sean keluar dari rumah entah pergi kemana tidak ada yang tau karena Sean tidak memberitahu siapapun.


"Ada apa?" tanya Kinan seraya menatap Sean.


"Aku mau minta sesuatu darimu, Nyonya." Sean menjawab dengan tanpa menatap.


"Apa itu?" tanya Kinan masih dengan menatap Sean.


"Tolong, jangan pernah anda memberitahu siapapun kalau kita pernah bersekongkol di masa lalu," pinta Sean seraya menatap Kinan dan Kinan tersenyum.


"Tidak, kita tidak bersekongkol, kamu hanya ku suruh, kamu tidak bersalah," kata Kinan dan Sean merasa lega setelah mendengarnya.


"Terima kasih dan tolong setelah ini untuk tidak mengganggu Nina atau Bintang, aku merasa bersalah kepada mereka karena telah menghancurkan kebahagiaan mereka di masa lalu," ucap Sean yang kemudian bangun dari duduk.


Sean yang berbalik badan itu sangat terkejut saat melihat Eny dan iparnya yang ternyata ada di rumah sakit yang sama.

__ADS_1


"I-Ibu," sapa Sean yang terbata.


"Tidak apa, itu hanya masa lalu dan kamu sudah meminta maaf untuk itu bukan?" tanya Eny yang ternyata tak sepenuhnya mendengar seluruh percakapan Sean dan Kinan.


Sean mengangguk dan Sean menawarkan diri untuk mengantar Eny dan juga iparnya.


Eny dan adik iparnya itu tak menolak, tetapi, selama perjalanan, semua orang hanya diam.


****


Sean pulang tepat waktu, saat keluarga kecilnya itu sudah menunggu untuk makan malam bersama.


"Apa kalian menunggu lama?" tanya Sean seraya menarik kursi untuknya duduk.


Tidak ada yang menjawab karena semua sepakat akan mengerjai Sean yang pergi tanpa pamit.


"Kenapa semua diam?" tanya Sean seraya menatap satu persatu wajah wanita yang sangat ia cintai.


Dan mereka kembali menjawab dengan menggeleng.


"Apakah ada kejutan untuk Dady?" tanya Sean seraya menatap Binar, Binarlah yang paling polos dan Binar hampir membuka mulutnya jika Bintang tak segera menutup mulutnya, Bintang yang duduk di samping Binar itu menggelengkan kepala.


"Kenapa? Apakah Dady ulang tahun?" tanya Sean yang bergantian menatap Nina.


Dan karena tidak ada yang menjawab, Sean mulai mencubit pinggang Binar yang duduk di dekatnya, setelah itu, Sean mencubit Nina dan baru saja tangannya menyentuh pinggang itu, Sean sudah tersenyum saat menatap Nina yang sedang menatapnya.


Dan karena takut, Sean pun mengurungkan niatnya untuk mencubit pinggang itu, Sean tersenyum lalu mengecup kening Nina.


Binar yang melihat itu pun memprotesnya, "Apakah hanya Ibu yang mendapat ciuman manis itu?"


"Tentu saja tidak," jawab Sean yang kemudian mengecup pucuk kepala Binar, lalu, Sean juga mengecup pucuk kepala Bintang.


Bintang tersenyum manis.


Setelah itu, Sean kembali ke tempat duduknya, ia memperhatikan Nina yang sedang mengambilkan nasi di piringnya.

__ADS_1


Sean merasa sangat bahagia bersama dengan keluarga kecilnya, ia pun berdoa dalam hati, meminta pada Tuhan untuk tidak memisahkannya dan berharap kalau kebahagiaan yang selalu menyertai walau ia tau kalau caranya untuk mendapatkan Nina adalah salah.


Bersambung..


__ADS_2