
Malam ini, Brian dan Ibunya terpaksa pindah karena rumah itu disebut-sebut masuk dalam daftar sita dan sekarang, Ayah Brian sudah mendekam di balik jeruji.
Dan Brian mendapatkan undangan makan malam dari Sean, Brian pun memenuhi undangan tersebut.
Sekarang, Brian sudah ada di rumah Bintang dan Sean yang sudah mendengar kabar itu segera menanyakannya.
Karena keluarga Bintang sudah mengetahui, akhirnya, Brian pun menceritakannya dan Brian mengatakan kalau Ayahnya telah difitnah.
"Semua itu fitnah, Om. Ayahku hanya terseret dan tidak menyangka kalau akan dijadikan kambing hitam," kata Brian, ia berharap Sean akan mempercayainya.
Sementara itu, Bintang dan yang lainnya hanya mendengarkan dan Bintang yang memang mencintai Brian itu menyemangatinya.
Dan Sean yang dapat melihat cinta keduanya pun ingin berbicara 4 mata dengan Bintang, setelah makan malam, Sean memanggilnya ke ruang kerjanya.
"Iya, Dady. Ada apa?" tanya Bintang yang sudah duduk di kursi, Bintang menatap Sean yang duduk di kursi kebesarannya.
"Kamu yakin tetap pada hubungan ini?" tanya Sean.
"Maksud Dady?"
"Brian, anak seorang koruptor, ayah menjadi khawatir," ujar Sean.
"Dady, bukankah Brian sudah menceritakan kalau Ayahnya itu difitnah?"
Sean menggelengkan kepala.
"Maling tidak akan pernah mengaku, Bintang. Begitu juga dengan orang jahat, ia akan selalu mengatakan kalau dirinya adalah orang baik," kata Sean dan Bintang terdiam.
Bintang mengerti ke mana arah pembicaraan Sean.
"Dady mau kalian putus, cari pria yang lebih baik lagi yang selalu memberikan kabar dan mengutamakanmu!" kata Sean dan Bintang menggelengkan kepala.
"Dady, perasaan Bintang tidak semudah itu untuk dihapus," jawab Bintang seraya bangun dari duduk.
"Bintang ingin istirahat, selamat malam, Dad," ucapnya.
Di kamar, Bintang mengirim pesan pada Evan. Ia menceritakan apa yang dialami Brian dan juga menceritakan permintaan Sean.
Dan Evan membalas pesan Bintang kalau dirinya setuju dengan Sean karena orang tua akan selalu memikirkan anaknya.
Dan Bintang yang merasa tidak mendapatkan dukungan pun tak membalas pesan Evan lagi.
"Kalian sama saja," gerutu Bintang.
****
Esok harinya Bintang yang sedang bersama dengan Brian itu terlihat gelisah dan Brian menanyakannya.
"Apakah ada sangkutannya dengan keluargaku?" tanya Brian dan Bintang mengangguk.
__ADS_1
"Dady inginkan kita putus," kata Bintang terdengar lesu.
"Jadi, kamu akan pergi meninggalkanku disaat ku jatuh?" tanya Brian seraya menatap Bintang yang berdiri di depannya.
Bintang menggelengkan kepala, ia menjawab, "Mana mungkin aku tega meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini."
Brian pun memeluk Bintang dan Brian meminta padanya untuk saling menguatkan dan Bintang mengangguk.
****
Di restoran Sean, Evan dan Sean tengah membicarakan Bintang dan Brian, lalu, ada seorang pemuda yang menghampirinya.
"Maaf, Dadynya Bintang?" tanyanya dan Sean pun menjawab iya.
"Saya Zack, teman baru Bintang dan yang membantunya pada malam itu," ucapnya seraya mengulurkan tangannya dan Sean merasa heran dari mana ia mengenalnya sebagai Dady Bintang, padahal keduanya belum pernah bertemu.
"Kebetulan saya ada meeting dengan klien dan melihat anda," kata Zack dan Sean mengajaknya untuk bergabung, tetapi, Zack menolak karena masih banyak urusan yang harus ia selesaikan.
Sean dan Evan pun mengucapkan terima kasih dan Zack mengangguk, lalu, permisi.
Sean masih penasaran dengan Zack, dari mana ia mengenalnya dan Evan menjawab, "Mungkin pernah melihatmu bersama Bintang."
Mendengar itu, Sean merasa masuk akal dan setelah hari itu, Zack dan Sean mulai sering bertemu di restoran.
****
"Menunggu apa?" tanya Evan, lalu, datang Bintang yang membawakan teh hangat untuk semua orang.
"Saya akan bekerja keras dan segera menikahi Bintang, sebentar lagi saya akan lulus," ujar Brian dan Bintang meminta pada Evan untuk memberikan kesempatan padanya.
"Ayah, ijinkan Brian untuk membuktikan ucapannya," pinta Bintang dengan memohon.
Dan Evan memikirkannya.
****
Evan yang ingin memberikan kesempatan itu pun menghubungi Sean dan menyampaikan apa yang diinginkan oleh putrinya.
"Astaga, sampai kapan harus menunggu, coba pikirkan, dia anak dari seorang koruptor. Kalau dia seperti ayahnya bagaimana? Apakah di masa depan tidak akan merepotkan anak kita?" tanya Sean.
"Memangnya di masa depan Brian akan menjadi anggota dewan? Belum tentu, Sean."
"Astaga," ucap Sean dan Sean yang tidak sepemikiran itu pun memutuskan sambungan teleponnya.
Sean merasa kesal karena Evan tidak kompak dengannya.
****
Beberapa hari berlalu, sekarang, Bintang dan Brian ada di restoran Sean dan Brian mengatakan kalau dirinya akan menjadi seperti Sean.
__ADS_1
"Jadilah diri sendiri, Brian." Sean menatapnya dan Brian menjawab, "Menjadi seperti Om sama saja menjadi seperti apa yang Bintang inginkan karena Bintang selalu menjadi penggemar anda, Om."
Bintang yang duduk di depannya itu tersenyum dan Bintang mengatakan kalau Sean adalah idolanya. "Dady tau kalau Dady adalah idola Bintang, Dady tau itu dari Bintang masih kecil," kata Bintang, ia memberikan senyumnya.
"Iya, sekarang kamu sudah besar, sudah hampir 20 tahun," jawab Sean dan Bintang tersenyum.
"Om, bukankah setiap manusia memiliki kesalahannya masing-masing, Brian mohon untuk diberikan kesempatan dan Om tau kalau bukan Brian yang melakukan kesalahan, tapi, orang tua Brian," kata Brian dan Sean mengangguk, ia memikirkan dirinya yang dulu selalu membuat kesalahan dan akhirnya Sean setuju dengannya.
Bintang merasa lega, Bintang juga sebagai karena berhasil melalui masa sulitnya bersama Brian.
Satu tahun kemudian..
Tiba waktunya Brian melamar Bintang di hari kelulusannya dan Bintang menerimanya.
Brian dan Bintang juga sudah menetapkan tanggal.
Selesai dengan acara lamaran itu, Sean dan Nina menanyakan sesuatu pada Bintang, "Apakah kamu sudah siap?"
"Bintang siap, bahkan banyak ibu-ibu yang kuliah dan Bintang sepakat akan menunda kehamilan sampai Bintang lulus kuliah nanti," jawab Bintang.
Mendengar itu, Nina dah Sean merasa kalau putrinya sudah benar-benar siap untuk menikah.
"Tapi kamu masih terlalu muda, sayang," kata Sean dan Evan yang baru datang itu menimpali ucapannya, "Ibunya pun dulu menikah muda, Sean."
"Hmm," jawab Sean.
Sekarang, Evan sudah duduk di samping Bintang dan Evan disalahkan Bintang karena telat datang.
"Omahmu sakit dan dia harus dibawa ke rumah sakit. Maafkan Ayah," jawab Evan dan Bintang pun akhirnya memaafkan.
Dan Kinan yang terbaring di rumah sakit itu berdoa supaya dipanjangkan umurnya, ia ingin melihat pernikahan cucu satu-satunya dan Kinan menyampaikan itu pada Evan.
Evan pun menyampaikan harapan Kinan pada Bintang dan juga yang lain.
"Pasti Omah berumur panjang, Ayah tidak usah sedih, kita doakan Omah supaya cepat pulih." Bintang menghiburnya dan Evan mengusap rambut Bintang yang halus.
Benarkah Brian adalah jodoh Bintang? Lalu, bagaimana dengan Dante yang sebenarnya juga memiliki hati padanya, Dante mencoba tetap tenang, ia seolah tak perduli dengan kabar itu, tetapi, tetap saja ia tak dapat menyembunyikan perasaannya.
Dante yang semula duduk di meja kerjanya itu keluar dari ruangan karyawan dan Dante pergi meninggalkan tokonya untuk menemui Brian di rumah barunya.
Sekarang, Dante dan Brian duduk di kursi yang ada di teras. "Jangan pernah sakiti dia, aku tidak akan tinggal diam, camkan itu!" kata Dante tanpa melihat Brian dan Brian terkekeh.
"Kamu pikir aku tidak mencintainya, bahkan semua masa sulit sudah kami lalui bersama, aku pun berhasil membuktikan kalau aku pantas untuknya, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan!" jawab Brian.
Keduanya pun saling menatap dan bersambung.
Dukung authornya, ya. Dengan like dan komen, jangan lupa difavoritkan juga, ya.
Yang baik hati boleh kasih bintang lima dan vote/giftnya. Terima kasih yang sudah mendukung.
__ADS_1