
"Adakah yang salah dari ucapanku?" tanya Bintang seraya menatap Zack yang sedang mendarat cantik di sofa yang tersedia di kamarnya.
"Tidak, yang salah adalah Brian, tetapi, itu semua karena kamu," jawabnya.
"Aku, maksudmu apa, Zack? Dan apa salahku?"
"Kamu sudah merebut Brian dari sisi adikku sampai dia harus melewati hari sulitnya sendiri, kamu tau bagaimana perasaan ku sebagai kakak dan ini adalah balas dendam terbaikku!"
Deg! Jantung Bintang seolah berhenti berdetak, ia sama sekali tidak menyangka kalau Zack adalah Kakak dari Yura.
Bintang yang merasa tak bersalah pun mencoba menjelaskan, "Aku dan Brian setelah hubungan keduanya putus, kenapa kamu menyalahkan aku, Zack?"
Mendengar pertanyaan itu, Zack bangun dari duduk, ia mengambil minuman bersoda dari kulkas kecil yang ada di kamarnya.
"Karena Brian memilih kamu dan karena itulah dia lari dari tanggung jawabnya," jawab Zack seraya membuka botol minuman yang ia pegang.
"Jadi, bersiap-siaplah. Ini pembalasan yang harus kalian rasakan," kata Zack yang kemudian menenggak minumannya.
Lalu, Bintang yang masih dengan gaun pengantinnya itu mencoba untuk keluar dari kamar dan ternyata kamar itu sudah terkunci.
"Kamu nyari ini?" tanya Zack seraya menunjukkan kunci yang ia pegang.
Lalu, Bintang berjalan ke arah Zack yang masih berdiri di depan kulkas dan Bintang mencoba untuk mengambil kunci itu, tetapi, Zack mempermainkannya dan setelah itu, Zack mendorong tubuh kurus Bintang hingga gadis itu jatuh duduk.
"Kalau kamu mau balas dendam, seharusnya kamu lakukan itu pada Brian, Zack. Bukan aku!" teriak Bintang seraya menangis.
"Biarkan aku pulang, aku mau pulang!" teriak Bintang seraya bangun dari duduk.
Lalu, Bintang berjalan melewati Zack dan Zack menahan rambutnya.
"Pulang kemana, ini adalah rumahmu sekarang!" kata Zack dan Zack yang memang tidak mencintai Bintang itu menarik rambutnya dari belakang.
"Sakit, Zack!" teriak Bintang dan kemudian Zack melemparkannya ke ranjang.
"Layani aku dengan baik!" kaya Zack seraya melepaskan kemeja putihnya.
Bintang semakin menangis saat melihat Zack yang hanya tertutup celana da*lamnya saja.
Dan dengan cepat Bintang turun dari ranjang, ia mengambil kunci kamar yang tergeletak di meja.
Entah apa yang Zack rencanakan karena Zack hanya memperhatikan Bintang yang sedang membuka pintu kamarnya dan Bintang yang sudah berhasil membuka pintu mematung, ia tak percaya siapa yang ia lihat di balik pintu itu.
Kemudian, Bintang yang sangat syok itu hampir jatuh jika saja tangannya tak berpegangan pintu.
__ADS_1
"Ka-kamu," ucap Bintang terbata dan Bintang juga menatap Zack.
Siapa yang Bintang lihat? Bintang melihat pria di malam itu yang hampir memperkosanya.
Dan karena pria itu ada di rumah Zack, Bintang pun mengerti kalau mereka sebenarnya bekerja sama.
Bintang menelan salivanya dan Bintang segera bersujud di kaki Zack.
"Aku mohon, bebaskan aku. Lagi pula adikmu sudah mendapatkan apa yang di mau, Zack," tangis Bintang yang memeluk kaki Zack.
"Kamu pikir cukup hanya untuk mendapatkan apa yang dimau?" tanya Zack.
"Kalian harus mendapatkan hukum karmanya," lanjut Zack, pria itu melepaskan tangan Bintang dari kakinya, lalu, Zack membuat pilihan.
"Layani aku atau kamu akan berurusan dengannya?" tanya Zack seraya menunjuk pria yang sudah menunggu di balik pintu.
"Lihat aku!" kata Zack seraya mencengkram mulut Bintang.
"Aku tampan, banyak wanita tergila-gila padaku, tetapi, aku dengan bodohnya menumbalkan tubuh dan hidupku untukmu, gadis yang sangat adikku benci!" kata Zack seraya mengencangkan cengkramannya.
Dan Bintang yang memegangi tangan Zack itu menatapnya nanar, terlihat dari sorot matanya kalau Bintang memohon belas kasih.
Dan Zack segera melepaskan cengkramannya, ia memberikan aba-aba pada pria yang masih berdiri di balik pintu dan pria itu yang mengerti pun segera menutup pintunya, kemudian pergi dari kediaman Zack.
Yang terjadi adalah Zack memaksanya untuk melakukan hubungan dan Zack terkesan memperkosa istrinya sendiri.
Setelah melayani selama satu jam, kini, Bintang harus merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan dalam tangisnya Bintang teringat Dante.
"Dante," lirih Bintang yang sedang meringkuk tanpa busana.
Sakit, bukan hanya hatinya, tetapi juga raganya.
****
Di rumah Nina, ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Bintang.
"Mungkin, mereka sedang malam pertama," kata Sean yang sedang memakai kaosnya.
"Aku khawatir," kata Nina dan Sean mencoba mengerti perasaan istrinya dan Sean pun mencoba untuk menenangkan.
"Bukankah Zack sering mengantar Bintang pulang, lalu, apa yang perlu kita khawatirkan?" tanya Sean seraya memeluk Nina dan Nina menarik nafas.
****
__ADS_1
Esok harinya, Dante yang sedang sibuk bekerja itu harus mendapatkan pertanyaan dari Naomi yang sampai sekarang masih terus mengejarnya.
"Dante, Bintang sudah menikah dan kamu bilang akan memberikan jawab atas perasaanku dan aku akan kecewa jika kamu menolakku," kata Naomi yang duduk kursi depannya.
"Kamu tau di ruangan khusus karyawan, kenapa kamu ada di sini?" tanya Dante seraya menatap Naomi.
"Astaga, Dante. Sudah bertahun-tahun aku menunggu dan jawaban ini yang aku dapat?" tanya Naomi dan akhirnya tidak ada lagi alasan Dante untuk menolaknya.
"Baiklah, kita berkencan, tapi aku tidak suka gadis yang agresif," ucap Dante seraya bangun dari duduk.
Dan Naomi pun merasa senang, gadis cantik berambut panjang itu segera melingkarkan lengannya di lengan Dante.
"Aku bilang tidak suka gadis agresif," kata Dante dan Naomi menatapnya, memberikan senyum manisnya dan segera melepaskan tangannya.
Lalu, Naomi mencatat tanggal, jam dan hari jadiannya dengan Dante dan Dante menggeleng, ia tak menyangka kalau Naomi akan sesenang itu.
Tetapi, walau begitu, Dante terus memikirkan Bintang dan Dante segera mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya.
"Benar, kamu harus menyimpan nomor ponselku," kata Naomi dengan semangat
Dan Dante menjawab, "Apa, aku mengambil ponsel karena harus menghubungi Bintang."
"Astaga, walau dia sudah menikah tetap saja menyebalkan," gerutu Naomi dalam hati.
Dan yang Dante hubungi itu tak menjawab.
"Mereka pengantin baru, sudah seharusnya kamu tidak mengganggu," lirih Naomi seraya mengambil ponsel Dante, ia menyimpan sendiri nomornya dan menamai dengan nama My Lovely.
Dante mengambil kembali ponselnya dan mengganti nama tersebut sesuai dengan namanya.
"Kamu tidak romantis, Dante," protes Naomi.
"Memang," jawab Dante seraya berjalan keluar dari ruangan dan Naomi mengekorinya.
Sementara itu, di rumah Zack, pengantin baru itu tidak seperti apa yang orang-orang duga karena kenyataannya Zack benar-benar menyiksa Bintang.
Bintang yang masih meringkuk di ranjang dengan selimut itu harus kedinginan karena Zack menyiramnya menggunakan air es.
Bintang terkejut dan segera membuka mata. Ia menatap Zack dengan tatapan penuh kebencian.
Dapatkah Bintang melewati siksaan ini?
Bersambung..
__ADS_1