BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Mulai Memikirkan


__ADS_3

Nina yang sedang melayani customer itu segera menghubungi Eny, meminta padanya untuk menyampaikan pada Bintang kalau Nina minta untuk ditunggu.


Seraya menunggu, Bintang yang sedang semangat itu pun mengganti pakaiannya dan setelah siap, Nina sudah sampai di rumah.


Nina akan menjadi satpam untuk Bintang karena Nina yang masih belum mempercayai Sean.


Nina seperti nyamuk yang sekarang sudah duduk di bangku mobil belakang, sementara Bintang duduk di depan bersama Sean.


Bintang terus bernyanyi dan Sean pun mengikutinya. Keseruan itu dilihat oleh Nina, sesekali Sean melihat Nina dari kaca spionnya dan Nina akan membuang wajahnya ketika dua netra itu saling menatap.


Dalam hati, Sean mulai memuji kecantikan Nina yang begitu apa adanya.


Dengan isengnya, Sean berbisik ke Bintang, berkata, "Ibumu cantik."


Mendengar itu, Bintang merasa senang dan Bintang mengatakannya dengan kencang. "Ibu, Dady bilang, Ibu cantik."


Setelah mengatakan itu, Bintang juga bertanya pada Sean, "Dady, Bintang juga cantik, kan?"


"Tentu saja, Bintang hatiku harus sangat cantik," jawab Sean seraya sedikit melirik Bintang.


"Astaga, gombal sekali dia," batin Nina.


Tidak lama kemudian, Sean dan Bintang sudah sampai di mall, Bintang yang manja itu meminta gendong dan Sean menggendong Bintang di leher.


"Astaga, tidak... tidak... tidak. Bintang turun, Nak. Ibu takut lihatnya, takut kamu jatuh!" perintah Nina dan kemudian Sean pun menggendong Bintang dibelakang.


Sean mengajak Bintang ke area bermain, di sana Bintang menjajahi semua mainan yang ada termasuk sapi-sapian yang bisa bergerak.


Sean dan Bintang menyewa masing-masing satu dan mulai berkeliling, pekerjaan Nina adalah mengambil gambar Bintang yang terlihat begitu bahagia.


"Ibu takut kamu akan menjadi tergantung padanya, Nak. Sedangkan dia bukan siapa-siapa kita," kata Nina dalam hati, Nina masih memandangi foto Bintang di layar ponselnya.


Setelah lelah bermain, sekarang, Sean mengajak Bintang untuk makan dan Bintang menolak ke restoran yang ada di mall tersebut.

__ADS_1


"Lalu, Dady sangat lapar, ayo kita makan," ajak Sean, Sean yang belum lancar berbahasa Indonesia itu tidak menyerah, ia selalu belajar dan menurutnya, itu tidaklah sulit.


Bintang menirukan dengan logat Sean, "Kita makan di restoran, Dady. Dadi yang masak," kata Bintang dan Sean pun mengiyakan.


Di perjalanan, Bintang yang kelelahan itu tertidur dan Nina mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Sean.


"Aku tidak mau anakku bergantung padamu, bisakah kamu sedikit menjaga jarak, tidak perlu seolah kamu adalah Dadynya." Nina berbicara seraya menatap Sean yang sedang fokus mengemudi.


Sean menjawab, "Aku memang Dadynya, kamu tidak lihat bagaimana Bintang tertawa dan memelukku?"


"Tapi, kenyataannya kamu bukan siapa-siapa kami," jawab Nina, ia takut kalau Bintang sudah sangat dekat dengannya, lalu, Sean hilang entah kemana, itu akan melukai Bintang dan Nina tidak ingin Bintang terluka karena kehilangan.


Lalu, Sean menjawab yang tidak pernah Nina sangka dan pikirkan, Sean mengajaknya untuk menikah.


"Kalau begitu menikahlah dengan ku, kita akan hidup bahagia bersama dengan anak-anak kita yang sangat lucu," jawab Sean dengan tetap fokus mengemudi tanpa melihat Nina yang terdiam.


"Bule tidak tau diri, kamu yang menghancurkan pernikahanku dan sekarang kamu bicara seenak jidatmu!" jawab Nina kemudian seraya memalingkan wajahnya.


Karena Nina hanya ingin fokus pada Bintang dan dirinya tanpa ada lagi seorang pria yang bisa menyakiti hatinya.


Beberapa minggu berlalu, Sean sudah seperti Dady bagi Bintang, ia pergi berlibur bersama dengan tetap diawasi oleh Nina, Nina masih belum sepenuhnya mempercayai Sean untuk pergi hanya berdua saja dengan Bintang.


Dan kali ini, Sean mengajak Bintang untuk ke acaranya yang akan membuka cabang restoran barunya.


Nina dan Bintang pergi ke salon, mempercantik dirinya sebelum menghadiri acara tersebut.


Di sana, Sean yang memotong pita itu tak lepas menggendong Bintang, sehingga banyak yang mengira kalau Sean, Nina dan Bintang adalah keluarga kecil.


Sementara itu, di rumah, Endru sedang merasa jengkel karena Eny dan Nina tidak menjaga jarak dengan Sean, penyebab kehancuran hidup Nina.


"Ndru, biarlah. Ibu lihat, Sean anak yang baik, ingat, ada hikmah di setiap kejadian dan mungkin karena Sean lah kita bisa melihat Evan yang sama sekali tidak mempercayai kakakmu," jawab Eny seraya menatap Endru yang sedang bersiap.


"Seandainya Endru yang ada di posisi Evan, Ndru juga akan percaya dengan apa yang Ndru lihat, Bu." Endru menjawab seraya meraih punggung tangan Eny.

__ADS_1


Eny menarik nafas dalam, menatap Endru yang sekarang sudah keluar dari rumah, Endru harus sibuk bekerja dan kuliah.


"Tidak selamanya apa yang kita lihat itu benar, Nak." Eny berbicara dalam hati.


****


Selesai dengan pesta, di perjalanan pulang, Nina yang sekarang duduk di bangku depan, memangku Bintang yang tertidur itu bertanya, "Usahamu untuk mendapatkan maaf kami, patut diacungi jempol, tetapi, yang membuat aku heran adalah, kenapa kamu tidak bicara dengan suamiku, tidak menjelaskan semua padanya, kenapa?"


"Sudah berulang kali, aku mencoba mengatakan semua dan Evan sama sekali tak mau mendengarkan, Evan tetap dengan pendiriannya dan saat aku menjelaskan kalau Kinan adalah dalangnya, justru bogem mentah yang ku terima," jawab Sean seraya tetap fokus mengemudi.


"Bukan aku tak berusaha mengembalikan kalian dalam ikatan, tetapi, mungkin memang sampai di situ jodoh kalian," kata Sean seraya membelokkan mobilnya ke arah rumah Nina.


"Jangan lupakan apa yang ku katakan, kita harus menjaga jarak, aku tidak mau anakku tergantung denganmu," kata Nina yang sedang bersiap untuk turun dari mobil.


"Biar ku bantu, diamlah dulu," kata Sean yang sedang melepaskan sabuk pengamannya.


Nina pun menurut, setelah itu, Sean membuka pintu dan meminta Bintang untuk digendongnya.


Nina hanya bisa diam, ia sendiri sudah mulai terbiasa dengan Sean.


Sepulang dari rumah Nina, Sean tidak dapat tidur, ia memikirkan Nina dan ucapannya, Sean yang mulai tidak dapat berhenti memikirkan Bintang dan Nina itu mengeluarkan kotak kecil dari lemarinya, kotak kecil berwarna merah yang berisi dengan cincin yang begitu cantiknya.


Sean yang sedang merokok itu membawa cincin itu duduk, membayangkan kalau Nina akan dengan mudah menerima lamarannya.


Tetapi, Sean tau betul kalau itu tidak akan terjadi, Sean harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan Nina.


Bahkan, namanya saja sudah menetap di hatinya. Tatapan tajam Nina saat jengkel, aroma Nina yang begitu menggoda, tubuh mungil dan wajah cantiknya, semua Sean sangat menyukai itu.


Membayangkan wajahnya saja, sudah membuat junior Sean berdiri.


Bersambung..


Jangan like dan komen, ya, all. Maafkan untuk typonya. 💙

__ADS_1


__ADS_2