
Endru menerima barang milik Nina, lalu meletakkan itu di meja, setelahnya memberi pelajaran untuk Sean.
Endru meninjunya dan Sean hanya bisa menerima, ia hanya bisa menerima kemarahan dari pihak Nina untuk mendapatkan maafnya, sebenarnya, ada sesuatu yang membuat Sean gigih untuk mendapatkan maaf itu.
Dan karena Endru hampir membuat Sean hampir tiada, membuat Nina yang memperhatikan dari jendela itu segera melerainya.
Nina membawa Endru masuk dan Menyuruh Sean untuk pergi, sementara Eny, menenangkan Bintang yang menangis, setelah Bintang tenang, Eny yang keluar itu melihat Sean sedang berjalan ke mobilnya dan sebelum sampai Sean harus ambruk karena pingsan.
Eny tak tega, lalu, Eny meminta tolong pada warga yang sedang menonton keramaian itu, Eny meminta pada mereka untuk membawa Sean ke klinik terdekat.
Setelah tersadar, Sean yang mengetahui kalau Eny perduli padanya itu bangun dari berbaringnya, ia mengejar Eny yang baru saja keluar dari klinik.
Dengan wajah yang penuh lebam itu, Sean bersujud di kaki Eny dan Eny meminta pada Sean untuk berhenti menemui keluarganya.
"Sebelum saya mendapatkan maaf, saya tidak akan menyerah," jawab Sean yang masih bersujud di kaki Eny.
"Waktu itu, saya terpaksa, karena sangat membutuhkan uang, saya melakukan segala cara untuk mendapatkan uang itu, uang untuk pengobatan Mami saya dan harus Ibu tau, kalau saya sama sekali tidak menyentuh putri Ibu," kata Sean seraya menggenggam tangan Eny.
"Apapun itu alasannya, kamu tetap salah karena dengan kamu melakukan itu, lihatlah, anak dan cucu saya harus kehilangan separuh hidupnya." Setelah mengatakan itu, Eny melepaskan tangan Sean dan pergi meninggalkannya.
Sean merasa kalau benar-benar tiada maaf untuknya, sementara bayangan almarhum maminya terus menghantui.
Sudah susah payah Sean mencari uang sampai rela harus menjadi pria bayaran, tetapi, tetap saja nyawa Maminya itu tidak tertolong.
Sean menyesal dan ingin berubah menjadi baik. Supaya mendapatkan hasil yang baik, itulah yang Sean pikirkan.
Beberapa hari telah berlalu, Bintang melihat Eny yang sedang tertidur pulas saat menemaninya di ruang tengah itu keluar dari rumah.
Bintang yang merasa bosan itu ingin menyusul ke kios Nina dan benar saja, Nina yang sedang menimbang pakaian kotor itu melihat Bintang yang berjalan ke arahnya.
"Astaga, Bintang. Kamu sama siapa, Nak?" tanya Nina seraya berkacak pinggang.
Bintang yang sudah masuk ke kios itu menjawab, "Sendiri, Bintang bosan di rumah, Nenek tidur jadi Bintang mau nemenin Ibu."
"Lain kali, Bintang kalau mau keluar rumah harus bilang dulu sama Nenek, ya!"
Bintang mengangguk dan setelah itu, Bintang mengambil peralatan mainnya di bawah meja kerja Ibunya.
Di sana ada masak-masakan dan stroller kecil.
__ADS_1
Bintang yang tengah memasak mie itu membayangkan ada seorang ayah yang menemaninya bermain dan Bintang yang masih sangat polos itu membayangkan Sean sebagai ayahnya.
Karena hari ini ada satu karyawan yang cuti, Nina harus mengantarkan laundry milik pelanggannya dan setelah Nina pergi, Sean pun datang, Sean membawakan satu set mainan barbie.
Dan Sean harus pergi sebelum Nina kembali.
Tetapi, sebelum itu, Bintang menahannya Bintang mengambil kotak obat untuk mengobati Sean.
Tentu saja, kotak obat dan peralatan itu hanya mainan milik Bintang.
"Dady harus diobati dulu, baru boleh pergi, ya!" kata Bintang seraya menyuntik luka lebam di wajah Sean menggunakan suntikan mainan.
"Baiklah dokter kecil, obatnya harus mujarab, supaya luka Dady cepat sembuh!"
Setelah itu, Sean pun mengeluarkan dolar untuk Bintang.
"Karena dokter kecil sudah merawat Dady dengan baik, dokter harus menerima ini!" kata Sean seraya memberikan beberapa lembar dolar untuk Bintang.
Dan Bintang yang tak mengerti uang itu hanya memasukkannya ke dalam dompet mainannya.
Setelah itu, Sean pun benar-benar pergi dari kios, ia tak mau Nina melihatnya dan setelah kepergian Sean, sekarang, Bintang mengajak temannya yang sedang ikut mengantar laundry.
Luna yang melihat ada banyak mainan itu pun meminta ijin pada Ibunya dan Ibunya mengijinkan.
"Boleh, tapi mainnya di sini aja, ya! Jangan pergi kemana-mana!"
Luna pun tepuk tangan, "Hore, makasih, Mah," kata Luna seraya mencium pipi Ibunya.
Setelah itu, Ibu Luna yang melihat kedatangan Nina, wanita muda berjilbab itu menyapanya.
"Mbak Nina, saya titip Luna, ya. Kalau sudah selesai main tolong hubungi saya, biar saya jemput," pinta Nirin pada Nina.
"Baik, Mbak Nirin," jawab Nina seraya tersenyum.
Setelah itu, Nina pun masuk ke kios, melanjutkan pekerjaannya dan Nina bertanya pada karyawannya yang sedang menyetrika, "Gimana, Mbak. Punya Bu Lusi udah selesai belum?"
"Sedikit lagi, Bu," jawab Ibu Marinah seraya menatap Nina.
Lalu, Marinah pun memberitahu Nina kalau tadi ada pria bule yang datang dan bermain dengan Bintang.
__ADS_1
Mendengar itu, Nina pun tau siapa pria itu yang tak lain adalah Sean.
"Apa sih maunya, menyebalkan," Gerutu Nina.
Dan karena kesal, Nina pun memarahi Bintang.
"Bintang, sudah berapa kali Ibu katakan, Ibu tidak mau Bintang bertemu dengan orang itu lagi!"
"Bintang kan cuma mainan sama Dady, Bu." Bintang menjawab dengan merengek, ia menganggap kalau Ibunya itu tidak mengerti perasaannya yang sedang senang karena memiliki ayah.
"Ibu jahat!" teriak Bintang seraya keluar dari kios.
"Bintang, tunggu aku!" kata Luna yang kemudian ikut berlari, Nina pun mengejar keduanya.
Di jaman sekarang ini yang tindak kejahatan meningkat pesat membuat Ibu muda ini tak bisa melepaskan anaknya tanpa pengawasan.
Dan saat Nina mengejar, Nina melihat Eny yang berpapasan dengan Bintang dan Luna. Nina pun merasa lega saat melihat Bintang yang memeluk Eny.
Nina pun mendekat dan Eny meminta maaf karena tadi sempat tertidur.
"Maaf, Nak. Tadi Ibu merasa pusing tidak tau kalau Bintang keluar rumah."
"Tidak apa-apa, Bu. Sekarang, Ibu sudah baik belum?" tanya Nina dan Eny menjawab, "Sudah, kalau begitu, biar Bintang Ibu ajak pulang, ya."
Eny juga membawa Luna supaya keduanya bermain di rumah.
Di rumah, Bintang dan Luna melanjutkan bermain, Bintang juga memberitahu kalau sekarang dirinya memiliki ayah.
Luna ikut merasa senang dan Luna merasa penasaran.
"Nanti, kalau Dedy main lagi, aku mau foto sama Dady, biar kamu tau Dady aku," kata Bintang dengan polosnya, Eny yang sedang mengupas bumbu dapur seraya memperhatikan keduanya itu pun ikut mendengar.
Setelah malam tiba, Eny yang masih duduk di ruang tengah bersama Nina itu pun menceritakan apa yang di dengar.
"Bu, walaupun Bintang senang ada Sean, tapi kita tidak boleh lupa, kalau Sean yang menghancurkan hidup Nina dan Bintang, Bu," kata Nina.
"Tapi, Sean sama sekali tidak menyentuhmu, itulah yang Sean katakan pada Ibu, setidaknya kamu harus memaafkan, supaya kamu tidak menyimpan kebencian, Nak."
Mendengar nasehat Ibunya, Nina pun terdiam.
__ADS_1
Apakah Nina akan mendengar nasehat itu?