BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Mulai Membaik


__ADS_3

Bintang tersenyum melihat Dante yang seperti itu dan Evan sama sekali tidak mengambil pusing atas apa yang anak-anaknya lakukan.


"Bagaimana kalau kita makan di luar?" ajak Evan dan Bintang menggelengkan kepala.


"Lalu?" tanya Evan.


"Bintang mau nasi goreng buatan Ayah," lirih Bintang, ia berbisik pada Evan supaya Dante tidak mendengar.


Melihat itu, Dante merasa kesal dan memilih untuk bersiap bekerja.


Dante pun pergi dari ruang makan dengan menggerutu.


Dan Evan melanjutkan memasaknya, pria yang sekarang mengenakan celemek itu bertanya, "Bintang ingin nasi goreng yang seperti apa?"


"Nasi goreng keliling, tapi yang enak, ya, Ayah," jawab Bintang seraya menatap Evan.


Lalu, Evan mencari resep di internet, setelah itu, Evan mulai memasak dengan bantuan Kinan, Evan menatapnya dan Kinan mengangguk. Ya, keduanya tengah berjuang sama-sama mendapatkan maaf dari Bintang.


Kali ini, Bintang merasa kalau Evan lulus dalam tesnya karena Bintang dapat mencium aroma wangi dari masakan itu.


Tidak lama kemudian, Evan menyajikan nasi goreng buatannya dan Bintang pun mulai mencicipinya.


Bintang mengunyah dengan penuh perasaan dan Bintang begitu menikmati masakan Evan yang cukup lumayan.


Bintang mengangguk dan mengacungkan jempolnya. "Lumayan," ucapnya seraya menatap Evan dan Bintang memakan nasi itu sampai habis.


Setelah itu, Bintang meminta pakaian k


arena harus kuliah.


"Ayah, adakah baju untukku?"


Evan menggeleng, lalu, Evan yang ingat kalau masih menyimpan dress Nina itu bangun dari duduk. Evan ke kamar untuk mengambilnya.


"Apa kamu menyukai ini?" tanya Evan seraya menunjukkan dress itu.


Bintang mengambilnya dan mengatakan kalau menyukainya, setelah itu, Bintang bersiap dan setelah keluar dari kamar Kinan, Evan seperti melihat Nina di masa lalunya.


"Kamu cantik, seperti ibumu," puji Evan dan Bintang hanya menarik nafas.


Setelah itu, Evan mengantarkan Bintang kuliah dan sesampainya di kampus, Evan berpesan, "Jaga diri baik-baik."


Mendengar itu Bintang tidak menjawab, ia masih bersikap dingin dengannya.


"Bintang, ayah tidak akan menyerah mendapatkan maafmu," batin Evan dan Evan pergi dari sana setelah Bintang bertemu dengan dua temannya.

__ADS_1


"Kamu sama siapa? Brian?" tanya Mawar dan Bintang menggeleng. Lalu, datang Dante yang langsung menarik tangan Bintang, membawa Bintang pergi dari teman-temannya.


"Astaga, aku juga mau direbutin cowok," kata Mawar seraya melingkarkan lengannya di lengan Luna.


"Astaga, aku sih tidak mau, pasti rumit," timpal Luna dan keduanya pun berjalan santai ke arah Bintang dan Dante berbicara serius.


"Sikapmu kekanak-kanakan, tau!" ucap Dante dan Bintang menarik sudut bibirnya, ia bersedekap dada dan menjawab, "Kamu tidak tau apa yang kurasakan, melihat bagaimana aku, itu sudah cukup buatmu, ngerti!"


Belum selesai bicara, Brian sudah datang dan Brian menanyakan urusan Dante dengan kekasihnya.


"Bukan urusanmu!" jawab Dante seraya pergi dari sana dengan sedikit menabrak lengan Brian.


Pemandangan itu menjadi pusat perhatian dan banyak yang iri melihat itu.


"Kalau tidak Brian, bolehlah Dante buatku," kata Mawar seraya menatap Dante.


"Astaga, aku juga mau," timpal Luna.


"Iya, tapi dianya mau tidak sama kita?" dengus Mawar.


Lalu, Mawar dan Luna berjalan melewati Bintang yang sudah bersama Brian.


****


"Iya, biar saja, dia sedang kasmaran kita tunggu saja patah hatinya," ucap Mawar dan Luna merasa kalau Mawar sedang menyumpahi temannya.


Dan setelah beberapa waktu itu juga, hubungan Evan dan Bintang sudah sedikit membaik, bahkan Bintang sudah menginap di rumahnya.


Seperti malam ini, Evan melihat Bintang dan Dante sedang mengerjakan tugas dan Evan merasa kalau telah memiliki keluarga utuh.


"Andai saja dulu aku memercayai Ibumu, mungkin semua tidak akan seperti ini," ucap Evan. Setelah itu, Evan yang sedang berdiri di pintu kamarnya pun ikut bergabung.


Evan membantu putrinya dalam mengerjakan tugas.


"Ayah, kenapa Ayah membantu Bintang?" protes Dante seraya menatap Evan dan juga Bintang.


"Ayah bilang kita harus berusaha supaya bisa menjadi apa yang kita mau, bukankah itu yang dulu ayah ajarkan sama Dante?"


Evan terdiam mendengar pertanyaan itu dan memang benar apa yang diucapkan oleh putranya.


"Ya, benar. Terima kasih karena telah mengingatkan," ucap Evan dan Bintang menarik nafas.


"Ayah, bukankah cinta pertama seorang gadis itu adalah ayahnya? Atau jangan-jangan Dady yang menjadi cinta pertamaku?" tanya Bintang dan pertanyaan itu berhasil membuat Evan menjadi bingung.


"Ya, benar. Maka dari itu, Ayah ingin kamu menjadi gadis yang baik, penurut dan sayang pada orang tua seperti orang tua sayang padamu," jawab Evan, setelah itu, Evan bangun dari duduk, ia tak mau mengganggu anak-anaknya yang sedang belajar.

__ADS_1


"Ini semua karenamu!" gerutu Bintang pada Dante dan Dante tersenyum smirk.


Sementara itu, di luar sana, Brian sedang merasa kesal pada Bintang, ia pergi ke kelab dan di sana Brian tidak sendiri, ia ditemani oleh teman prianya.


"Mana pacar kamu?" tanyanya.


"Ada, tapi pacarku yang sekarang susah untuk diajak keluar, orang tuanya sangat ketat," jawab Brian seraya mengambil gelas kecil yang berisi alkohol.


"Aku kenalin cewek lain mau?" tanya temannya dan Brian menatapnya.


"Boleh, tapi ini hanya iseng, aku hanya serius dengan pacarku," kata Brian.


"Ya, kita butuh hiburan kawan," kata teman Brian dan saat temannya itu memanggil teman wanitanya, Brian mematikan ponselnya, ia tidak ingin Bintang mengganggu dengan segala pesannya.


Benar saja, Bintang yang sudah selesai mengerjakan tugas itu mencoba menghubungi Brian dan nomor yang anda tuju tidak aktif.


Lalu, Bintang melihat Dante yang sedang bersiap. "Mau kemana?" tanyanya.


"Toko," jawab Dante singkat, setelah mengenakan jaket dan sepatunya, Dante pun keluar.


Dante yang sekarang sudah duduk di motornya itu menatap spion, tepatnya menatap Bintang yang sudah duduk di belakangnya.


"Kamu ngapain?" tanya Dante seraya menoleh.


"Kalau aku pergi sendiri, ayah tidak mengijinkan, kalau sama kamu pasti aman," kata Bintang, "aku bosan di rumah sendiri sama omah, dia sudah tidur," lanjutnya.


"Ya sudah, kamu tidur sana!" perintah Dante dan Bintang pun menolak.


Tidak ada pilihan, Dante terpaksa membawa Bintang bersamanya dan di perjalanan Dante dan Bintang seolah nostalgia.


"Ingat waktu kita awal kenal? Aku tidak menyangka kalau ternyata kita kakak beradik," kata Bintang dan Dante hanya diam saja.


"Kamu dengar tidak?" tanya Bintang yang seperti sedang bicara dengan angin.


Lalu, Bintang yang sedang kembali bertanya itu melihat Brian bersama dengan wanita lain dan bukan hanya Bintang, Dante pun melihatnya.


"Kamu lihat itu?" tanya Dante dan sekarang giliran Bintang yang diam.


Bersambung..


Kira-kira, pada siapa akhirnya hati Bintang berlabuh, ya?


Dukung authornya, ya. Dengan like dan komen, jangan lupa difavoritkan juga, ya.


Yang baik hati boleh kasih bintang lima dan vote/giftnya. Terima kasih yang sudah mendukung.

__ADS_1


__ADS_2