BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Evan meminta pada Kinan untuk tetap tenang supaya dapat bicara dengan jelas.


Dan Kinan yang sesenggukan itu merasa sangat berat untuk bicara, tetapi, Kinan tetap mencoba untuk mengakui segala kesalahannya yang selama ini membebani hatinya.


Evan menggenggam tangan Kinan yang terasa dingin dan Kinan menatap mata Evan.


"Ni-Nina... tidak selingkuh," ucap Kinan dan Evan melepaskan tangan Ibunya dan Evan meminta pada Kinan untuk bicara yang jelas.


Kinan menelan salivanya, ia meraih tangan Evan dan menggenggam, Kinan meminta maaf sebelum kembali melanjutkan bercerita.


"Nina tidak selingkuh, di hotel waktu itu, semua Mama yang membuat rencana," lirih Kinan seraya menatap mata Evan yang memang kosong ke arahnya.


Evan tidak percaya dan menolak untuk percaya kalau Ibunya sendiri yang telah menghancurkan hidupnya, tetapi, Evan mendengar dari mulutnya sendiri, membuat Evan kembali hancur.


Evan bangun dari duduk. Ia masuk ke kamar, meninggalkan Kinan yang merasa kalau dunianya sudah hancur berkeping-keping.


Lalu, Dante yang memang memperhatikan itu dari pintu kamarnya menatap Kinan.


"Kenapa wanita selalu rumit," kata Dante dalam hati.


Dante merasa tidak tega pada Kinan dan Dante meminta pada Kinan untuk istirahat di kamarnya.


"Bagaimana Omah mau istirahat, kalau ayahmu saja belum memaafkan Omah," lirih Kinan.


Dante yang membantu Kinan berdiri itu menjawab, "Tidak akan semudah itu, semua butuh waktu dan biarkan waktu yang menyembuhkan luka Ayah."


Kinan mengangguk dan walau terasa sangat sakit, Kinan merasa sedikit lega karena sudah tidak ada lagi rahasia yang ia sembunyikan.


****


"Mah, kenapa Mama tega melakukan ini, Mamah tau Evan sangat mencintainya dan Mamah memisahkan kami dengan kebencian yang Mamah tanamkan di hatiku," tangis Evan yang sedang duduk di balik pintu, ia membayangkan masa lalunya yang begitu indah bersama Nina.


Lalu, apakah Evan akan mengambil Nina kembali?


****


Di rumah Eny.


Bintang terkejut setelah mengetahui kalau Evan adalah ayahnya.


Dan Sean meminta maaf pada semua orang, ia mengakui kesalahannya karena takut kehilangan.


"Tapi, Bintang tetap anak Dedy, kan?" tanya Bintang yang sedang menangis di pelukan Eny.


"Ya, kamu tetap anak Dady, Dady yang membesarkan kamu, memberikan kasih sayang dan Dady sangat tulus menyayangimu, Dady tidak membedakan antara kamu dan Binar, Dady sangat menyayangi keluarga Dady," kata Sean yang duduk di samping Nina dan Nina merasa lega karena keadaan sudah membaik.

__ADS_1


Setelah itu, Sean mengajak keluarga kecilnya untuk pulang karena Binar ada di rumah seorang diri.


Benar saja, sesampainya di rumah, Binar sedang menunggu, duduk manis di ruang tamu.


Lalu, Binar bangun dari duduk, ia membuka pintu dan Binar merasa senang karena semua sudah terlihat membaik dan Bintang yang sangat manja itu sedang digendong belakang oleh Dadynya.


"Kakak, turun! Kasian Dady, ih. Kakak sudah besar!" protes Binar dan Bintang yang sudah dapat tersenyum itu meminta turun dan Bintang mengatakan akan istirahat di kamar, Bintang menggandeng tangan adiknya.


Sean dan Nina memperhatikan itu, Sean pun membawa Nina ke pelukan. Dan sekarang, tersisa satu kekhawatiran Sean yaitu kejujuran Sean yang belum ia katakan pada Nina.


Apa yang Sean sembunyikan dari istrinya?


****


Keesokan paginya, semua bangun dengan malas karena semalam tidur terlalu larut.


Sementara itu, Evan ingin menemui Nina, ia ingin tau tentang Bintang yang memiliki kesamaan.


Dan Evan bertanya pada Dante di mana alamat Bintang dan Dante memberikan alamatnya. Lalu, Evan yang baru saja selesai dengan sarapannya itu bangun, ia sangat bersemangat untuk menjalani hari setelah mengetahui kalau mantan istrinya tidak berselingkuh.


Lalu, langkah Evan terhenti saat Kinan memanggilnya.


"Nak, bolehkah Mama ikut, Mama harus meminta maaf padanya," pinta Kinan.


Dante yang masih duduk di kursi meja makan itu mengusap punggung tangan Omahnya dan mengatakan kalau dirinya akan membantu Kinan.


Ya, Dante merasa kalau Kinan harus meminta maaf pada Nina, wanita yang pernah ia fitnah dengan begitu kejamnya.


Dante membawa Kinan ke rumah Sean dan Nina yang sedang mengantar Sean ke depan itu melihatnya.


Sean dan Nina saling menatap, Sean takut kalau Nina akan mengetahui kalau memang dirinya menginginkan sejak pertama melihatnya.


"Nina, aku ingin bertanya sesuatu," kata Sean dan Nina mempersilahkan.


"Apakah kamu akan tetap mencintaiku, walau aku pernah melakukan kesalahan?"


"Sudah berapa kali aku memaafkanmu, Sean?"


"Tidak terhitung dan terima kasih atas semuanya," kata Sean yang kemudian mengecup kening Nina.


Kinan dan Dante masih ada di luar pagar menunggu tuan rumah untuk mempersilahkan dan Nina yang masih sedikit menghargai Kinan itu mendekat.


"Nyonya, apa yang membawa anda menemuiku?" tanya Nina yang baru saja membuka pagar dan Sean yang berdiri di samping Nina sangat gelisah.


"Nina, aku minta maaf atas segala kesalahanku di masa lalu," kata Kinan seraya meraih tangan Nina, wanita itu yang gemetaran menggenggam tangan Nina.

__ADS_1


Nina yang sudah memaafkan itu melepaskan tangan Kinan dengan lembut.


"Ya, aku sudah memaafkan dan sekarang, anda pulang lah, anak tersayang anda pasti sedang menunggu," kata Nina dan Kinan merasa kalau Nina sedang menghukumnya dengan sikap baiknya.


"Nina, tidak kah kamu akan memakiku? Memarahiku?" tanya Kinan seraya kembali meraih tangannya.


"Untuk apa, aku bahagia dan aku rasa yang menderita adalah putramu, Nyonya," kata Nina.


Nina melepaskan tangan Kinan dan mengatakan kalau dirinya harus bekerja.


Lalu, Dante mengajak Kinan untuk pulang dan Kinan dengan langkah beratnya itu menatap Sean.


Pria yang sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.


Sean menatap Kinan dan Nina mengingatkan kalau Binar akan terlambat jika Sean tetap mematung.


Setelah itu, Sean ke mobilnya dan Binar sudah menunggu.


Sean pamit pada Nina dan Nina mengingatkannya untuk hati-hati.


Setelah kepergian Sean, Nina yang sedang menutup kembali pintu pagarnya itu terdiam, ia melihat sepasang kaki yang sudah berdiri di depannya.


Lalu, Nina melihat siapa dia dan ternyata itu adalah Evan yang ingin bertemu hanya berdua saja.


"Nina," lirih Evan seraya menatap dan air mata kerinduan itu menetes.


"Ya," jawab Nina dengan datar.


"Aku masih mencintaimu, Nina," kata Evan dalam hati.


Dan karena Evan masih terdiam, Nina pun menutup pintu pagarnya.


Nina yang berbalik badan itu kembali membuka pagar dan ternyata Evan masih berdiri di sana.


"Ada apa?" tanya Nina dan Evan melangkah maju.


"Tidak, kamu tetap di sana, Mas."


Mendengar Nina masih memanggilnya dengan sebutan Mas, membuat Evan merasa kalau Nina masih mencintainya.


Benarkah demikian atau itu hanya perasaan Evan saja?


Bersambung, like dan komen setelah membaca, ya, all.


Jangan lupa untuk vote/giftnya juga, dukungan kalian adalah semangatku.

__ADS_1


__ADS_2