
Dua hari telah berlalu, Sean merasa senang karena Nina mau merawatnya dan Nina membawa Bintang ke apartemen Sean.
Sudah seperti keluarga kecil bahagia dan sekarang, tiba saatnya Sean melamar Nina.
Sean yang sudah membaik itu menemui Eny, menggunakan batik.
Eny yang menemani Sean duduk itu tidak langsung mengiyakan karena keputusan tetap ada pada Nina.
Kebetulan, Endru yang pulang bekerja itu melihat Sean sedang duduk, Endru yang masih merasa kesal itu menanyakan maksud kedatangannya.
"Adik ipar, saya melamar kakak kamu," kata Sean seraya bangun dari duduk. Matanya saling menatap dan Endru sedikit menertawakannya.
"Jangan kepedean kamu, lebih baik pergi, temui Evan dan jelaskan semua," kata Endru yang kemudian pergi meninggalkan Sean dan Eny.
Endru pulang karena harus bersiap untuk kuliahnya.
Dan Sean mengatakan pada Eny kalau dirinya sudah berulang kali menemui Evan dan Evan sama sekali tak mau mendengarkan.
Eny meminta pada Sean untuk tidak menyebut nama pria itu lagi dan Eny pun bertanya, "Nak Sean sudah sunat?"
"Sunat?" tanya Sean seraya menatap Eny.
"Ya, sunat. Kalau mau menikah dengan Nina, Nak Sean harus sunat lebih dulu, Nina juga tidak mengatakan kalau dirinya tidak akan menerima pria yang tidak seiman dengannya, bagaimana?"
Mendengar itu, apapun itu, demi mendapatkan Nina, Sean dengan mantapnya mengiyakan.
"Baiklah, aku akan sunat sekarang juga," kata Sean. Pria yang sudah kembali duduk itu pamit pada Eny dan setelah kepergian Sean, Eny pun memberitahu Nina perihal itu.
Nina mengucapkan terima kasihnya.
****
Sean mencari klinik yang mau menyunatnya dan Sean bertanya pada dokter sunat tersebut, "Apakah sakit?"
"Tidak, seperti digigit semut, tapi itu dulu, sekarang, jaman sudah canggih, ada sunat yang tidak sakit, tapi, dia biayanya lebih mahal."
Sean membayar berapapun untuk sunat itu dan Sean yang tak membawa perlengkapan itu menghubungi asistennya yang sedang bekerja, Sean meminta di bawakan sarung dan meminta untuk ditemani.
Asisten Sean memberikan jempol karena demi cintanya, Sean rela melakukan apapun.
__ADS_1
Dan sebelum sunat, Sean merasa takut, ia berdebar, takut kalau dokter itu akan memotong juniornya terlalu banyak.
Dan pemikiran Sean membuat dokter itu tertawa dan Sean menahan rasa malunya.
Selesai dengan sunat, Sean meminta pada asistennya untuk mengendarai mobilnya dan Sean juga memberikan jadwal supaya asistennya itu rutin mengirim makanan.
Setelah hari itu, satu minggu berlalu dan Nina tidak tau kabar Sean bahkan Bintang terus menanyakannya.
Nina meminta pada Bintang untuk tidak terlalu berharap pada Sean.
Untuk mengalihkan pikirannya, Nina mengajak Bintang untuk bermain dan sesekali pergi bersama Endru.
Walau begitu, Nina yang sudah terbiasa dengan kehadiran Sean itu tak mudah untuk melupakannya, Nina mengira kalau Sean tidak sanggup dengan permintaannya lalu pergi tanpa permisi.
Tetapi, Nina salah. Nina yang baru saja kembali dari rumah Nirin bersama Bintang itu melihat Sean sudah ada di rumahnya. Sean mengajak asistennya yang menjadi saksi kalau Sean sudah sunat dan menjadi mualaf.
Dan Sean meminta pada Nina untuk menerimanya karena tidak ada alasan bagi Nina untuk menolak.
Pernikahan pun terjadi.
Setelah menikah, Sean mengajak Nina juga Bintang untuk tinggal bersama, tetapi, Nina ingin tetap selalu bersama Eny.
"Tidak apa, jarak rumah kita dekat, Ibu juga tidak sendiri, ada Endru yang menemani." Eny membelai pipi Nina dan berharap kalau pernikahannya kali ini adalah takdir yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang nyata untuk Nina.
"Kenapa tidak di apartemen?" tanya Nina pada Sean yang sedang membawakan barang milik Nina.
"Di sana terlalu sempit, sedangkan aku inginkan banyak anak, minimal 5," kata Sean seraya mengedipkan matanya pada Nina dan Nina membulat matanya, teringat dengan dirinya yang akan mabuk ketika hamil.
"Tidak, aku tidak mau banyak-banyak," jawab Nina dan Sean yang sedang menarik koper serta menggandeng Bintang itu bertanya, "Bintang, kamu ingin punya berapa adik?"
"Yang banyak, Dady." jawab Bintang dengan suara yang imut.
"Kalian, dua anak cukup, ingat itu," kata Nina yang berjalan mengikuti Sean masuk ke rumah sederhana, tetapi, rumah itu lebih besar jika dibandingkan dengan rumah Nina.
"Baiklah, kalau begitu, nanti malam aku sudah siap," jawab Sean dan Nina mencubit pinggang Sean.
"Jangan bicara seperti itu di depan Bintang, dia masih kecil, aku tidak mau menjawab pertanyaan yang aneh darinya." Nina menggerutu dan Sean menahan tangan Nina yang berada di pinggang.
"Tolong, jangan kdrt," kata Sean seraya melepaskan tangan Nina.
__ADS_1
Sementara itu, Bintang yang sangat menyukai rumah Sean itu sedang berlari kesana-kemari.
Sean pun mempersilahkan Bintang untuk memilih kamarnya, tetapi, Sean melarang Bintang untuk meminta kamar yang ukurannya lebih luas, kamar utama yang diperuntukkan untuk dirinya dan Nina.
Sean yang sudah tidak sabar itu meminta pada Bintang untuk segera tidur siang dan Bintang yang tak biasa tidur siang itu menolak.
Sean yang tak mau mengalah itu mengambil buku dongeng dari koper Bintang dan selama Nina membereskan pakaiannya di kamar, Sean berusaha untuk menidurkan Bintang dengan membacakan dongeng.
Bukannya mengantuk, justru Bintang mengajari Sean untuk membaca dengan bahasa Indonesia yang benar, Sean menepuk jidatnya.
Selesai dengan membaca dongeng, Sean menjanjikan kalau dirinya akan mengajak Bintang pergi jalan-jalan ke pasar malam dan Bintang pun menurut.
Setelah itu, Sean segera kembali ke kamar, ia melihat Nina yang sedang mengganti pakaiannya.
"Nina," panggil Sean yang masih berdiri di pintu, tidak lupa, Sean mengunci pintu itu, takut Bintang akan masuk tanpa mengetuk pintu.
Nina yang yang tengah memakai kaos itu terkejut dan segera memakai kaosnya.
"Kamu, kenapa enggak ketuk pintu dulu?" protes Nina dan bukannya menjawab, Sean yang tersenyum itu mendekat dan segera membawa Nina ke ranjang empuk yang harum mewangi karena banyak kelopak bunga mawar merah dan putih.
Itu semua adalah Sean yang menyiapkan.
Nina yang berada di bawah Sean itu merasa berdebar dan Nina sedikit mendorong dada Sean. Tetapi, Sean yang sudah tidak bisa menunggu lagi itu tidak mau melepaskan Nina.
"Nina, aku mau hakku," kata Sean seraya menatap Nina yang juga menatapnya.
Nina yang sudah pasrah itu mengangguk dan terjadilah olahraga disiang bolong.
Setelah tuntas, Sean memeluk Nina dan mengucapkan terima kasih. Nina hanya membalasnya dengan senyum.
"Sean, aku mau apapun yang terjadi, kamu jangan pernah berubah," pinta Nina yang berada di pelukan Sean.
Sean mengeratkan pelukannya dan tidak berjanji untuk itu, tetapi, Sean mengatakan kalau dirinya akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik.
"Terima kasih," kata Nina.
Dan Sean membalas, "I love you."
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen, ya, all.
Dukung karya ini dengan vote/giftnya, ya. Mohon maaf untuk typonya. 🙏