
Di rumah, Binar yang sedang duduk di sofa seraya bermain game online itu harus merubah posisinya karena Bintang yang baru saja datang itu mulai mengusiknya.
"Astaga, Kakak!" seru Binar seraya bangun, ia tak mau kalah dari permainannya dan karena Bintang terus mengganggu, Binar pun bangun dari duduk, ia bermain game sambil berjalan dan ia harus menabrak pintu kamar, lalu, ponselnya terlepas dari genggaman.
Bukan mengambil ponselnya, tetapi, Ia menatap Bintang yang menertawakannya.
Lalu, Bintang bangun dari duduk, ia mengambilkan ponsel itu untuk adiknya dan segera membawanya masuk ke kamar.
"Iya... iya, Kakak minta maaf!" ucap Bintang dan Binar pun mencubit pinggangnya.
"Aauuu!" pekik Bintang seraya melepaskan tangan adiknya.
"Aku sebal sama Kakak," ujar Binar yang kemudian menjatuhkan dirinya di ranjang.
"Kenapa?" tanya Bintang yang menyusul adiknya.
"Kakak sibuk, aku jarang punya teman sekarang," jawabnya seraya menatap Bintang.
"Kan kamu bisa main sama teman dan ada yang lebih penting lagi," bisik Bintang dan Binar pun menjadi penasaran, "Apa?" tanya Binar seraya menatap Bintang.
Binar juga mendorong sedikit bahunya supaya sedikit jauh. "Kakak bau, pasti Kakak tidak menggosok gigi!" kata Binar seraya menatapnya.
"Astaga, ia benar. Kakak lupa gosok gigi," jawab Bintang seraya menutup mulutnya, lalu, Bintang bangun dari duduk, ia berjalan ke arah kamar mandi dan langkahnya terhenti saat Binar menanyakan sesuatu yang penting itu.
Bintang kembali duduk dan mengatakan, "Yang terpenting adalah, kasih sayang Ibu dan Dady hanya untuk kamu."
Setelah mengatakan itu, Bintang pun bangun, ia melanjutkan niatnya untuk menggosok gigi. Di kamar mandi, Bintang yang sedang menatap dirinya di pantulan cermin itu masih memikirkan ajakan Brian dan Bintang belum memberikan jawaban.
Lalu, Bintang segera menggosok gigi, setelah itu mengambil ponselnya yang ada di tas.
Bintang melihat pesan dari Brian yang menanyakan jawabannya dan Bintang menjawab sesuai dengan apa yang Evan katakan.
"Kita boleh berlibur, tapi dengan satu syarat," jawab Bintang.
"Apa itu? Aku akan memenuhinya," balas Brian dengan sungguh-sungguh.
"Ayahku harus ikut, bagaimana?" tanya Bintang dan Brian yang mendapatkan syarat seperti itu pun menarik nafasnya dalam.
Karena benar-benar inginkan kencan, Brian pun mengiyakan syarat itu.
__ADS_1
Dan karena Bintang pergi bersama dengan Evan, Nina pun mengiyakan, ia tidak perlu mengkhawatirkannya.
Esok harinya..
Sean yang ingin menghibur Binar itu mengajaknya untuk berlibur dan Sean mengajaknya berwisata alam.
Banyak keseruannya dan Nina yang penakut itu hanya menunggu barang-barang bawaannya di tempat istirahatnya.
Berbeda dengan Bintang, ia seperti sedang dimata-matai oleh Ayahnya sendiri dan ketika Evan membawa barangnya ke kamar, Brian mengambil kesempatan itu untuk mengecup pipi Bintang.
Bintang tersenyum dan Bintang yang ingin membalasnya itu harus tertahan saat melihat Evan mulai mendekat dan ikut bergabung dengannya di sofa ruang tengah yang terlihat sangat luas.
Lalu, Evan yang sebagai ayah itu seolah sedang mewawancarai Brian dengan segala pertanyaannya termasuk apa pekerjaan ayahnya dan sudah berapa banyak mantan kekasih Brian.
Brian menjawab kalau ayahnya adalah seorang anggota DPR dan Ibunya sebagai menteri.
Dan jawaban itu tidak cukup membuatnya senang, karena bagi Evan kebahagiaan Bintang adalah segalanya.
Untuk apa Evan merasa bangga bermantukan anak anggota DPR jika suatu saat nanti anaknya harus terluka.
"Jaga anakku baik-baik!" kata Evan dan Brian pun mengiyakan.
"Bagaimana mau berduaan kalau disatpamin terus gini," gerutu Brian dalam hati, lalu, Brian menyuruh Bintang untuk istirahat karena nanti malam Brian ingin mengajaknya untuk barbeque di belakang.
Bintang pun mengiyakan dan segera memilih kamarnya. Lalu, Bintang memilih kamar yang persis bersebelahan dengan Brian.
****
Singkat cerita, sekarang, Brian sedang menyiapkan barbeque dibantu oleh Bintang.
Bintang dan Brian melirik ke belakang dan terlihat Evan sedang menonton televisi.
Lalu, Bintang berdiri di samping Brian itu menanyakan wanita yang kemarin bersamanya.
"Oh, dia. Dia temanku, kamu tidak perlu cemburu, aku hanya cinta kamu," jawabnya dan Bintang pun tersenyum, lalu, Brian yang ingin mencium Bintang itu segera membatalkannya karena tiba-tiba saja Evan sudah ada di belakangnya.
"Ehem." Evan berdeham, lalu, Brian pun menganggukkan kepala.
Setelah itu, Brian memasak semua barbeque tersebut untuk makan malam Bintang dan Evan yang ia panggil sebagai calon mertua.
__ADS_1
Semua makan malam dengan senang dan Brian sama sekali tidak keberatan dengan adanya Evan, justru Brian merasa kalau ini adalah waktu yang tepat untuknya membuktikan cintanya pada Bintang.
Selesai dengan makan malam, Evan menantang Brian untuk bermain catur dan karena itu membuat Bintang cepat mengantuk.
Bintang pun pamit ke kamar dan Brian juga Evan yang sedang sangat serius itu tak menjawab.
Tak terasa waktu sudah hampir tengah malam dan Evan yang mengantuk itu menyudahi permainannya dan Evan selalu kalah dengan Brian.
"Selamat istirahat, Om," ucap Brian yang kemudian membereskan anak catur itu.
Selesai dengan itu, Brian pun masuk ke kamar, ia segera mengirim pesan pada Bintang dan Bintang yang sudah tertidur itu harus bangun saat merasakan ponselnya yang tertindih itu bergetar.
"Ada apa?" tanya Bintang seraya menguap.
"Aku ingin bertemu, aku di depan jendela kamarmu," kata Brian dan Bintang segera bangun, ia membuka jendelanya dan benar saja, Brian sudah berdiri di sana.
"Aku rindu kamu," ujar Brian dan Bintang pun mengatakan hal yang sama, lalu, Bintang mengulurkan tangannya dan Brian pun menyambutnya, Brian mengecup punggung tangan itu, lalu, Brian melepaskannya, ia pergi sebentar untuk memetik bunga mawar merah yang ada di taman samping vila.
Brian memberikannya pada Bintang dan Bintang segera menghirup keharuman dari bunga tersebut.
Lalu, Brian yang tergoda dengan bibir tipis Bintang itu menatapnya dan mulai memajukan wajahnya, Bintang sudah mengerti apa yang akan terjadi dan Bintang memilih untuk memejamkan matanya.
Belum sempat Brian mendaratkan kecupan itu pintu kamar Bintang sudah ada yang mengetuk membuat Brian dan Bintang terkesiap.
"Bintang, apa kamu sudah tidur?" tanya Evan yang ada di depan pintu kamar Bintang.
Dan Bintang tidak menjawab, ia menyuruh Brian untuk kembali ke kamarnya dan benar saja, Brian kembali dan saat itu juga, Evan yang mengecek keluar itu merasa aman karena Brian tidak melanggar janjinya yang akan menjaga Bintang.
Lalu, untuk memastikan, Evan mengetuk pintu kamar Brian dan Brian segera membukakan pintunya.
"Iya, ada apa, Om?" tanyanya.
"Ini, ada yang tertinggal," Jawa Evan seraya memberikan satu pion pada Brian dan Brian menerimanya.
"Ada-ada saja, aku tau itu hanya modus om saja!" kata Brian dalam hati.
Bersambung..
Dukung authornya, ya. Dengan like dan komen, jangan lupa difavoritkan juga, ya.
__ADS_1
Yang baik hati boleh kasih bintang lima dan vote/giftnya. Terima kasih yang sudah mendukung.