
Setelah menyeret pria tewas itu, Bintang yang masih menangis bertanya, "Apakah tidak apa-apa, aku takut ketahuan."
Pria itu yang terlihat khawatir hanya mengangguk dan setelah itu membantu Bintang untuk ikut bersamanya.
Bintang yang masih berdiri di samping motor itu takut, ia takut setelah lepas dari macan sekarang terperangkap oleh Singa.
"Aku bukan orang jahat, aku akan mengantarkanmu pulang," ujarnya.
Bintang yang masih lemas itu menatapnya dan pria tersebut mengangguk.
"Cepatlah, sebelum ada yang melihat kita," kata pria itu dan Bintang yang gemetar segera naik ke motor sportnya.
Setelah itu Bintang memberitahu alamatnya dan pria itu pun segera mengantarkan. Sesampainya di sana, Bintang tak menawarkan pria itu untuk masuk karena hari sudah malam.
Dan sekarang, Bintang yang sudah ada dalam pelukan Sean menangis, ia menangis sesenggukan.
Lalu, Nina yang mendengar suara Bintang menangis itu pun segera keluar dari kamar, ia sangat terkejut melihat Bintang yang seperti itu, Nina segera mengajak Bintang untuk duduk dan Nina juga mengira kalau itu adalah hasil perbuatan Brian.
Bintang menggelengkan kepala karena malam ini, ia tidak bertemu dengannya dan Bintang pun menjelaskan apa yang terjadi.
Nina segera memeluk putrinya dan tidak menyangka kalau Bintang akan mengalami hal seperti ini.
Lalu, Sean bertanya, "Kamu ingat nomor platnya?"
Bintang menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak memperhatikan itu.
Sean yang duduk di sampingnya itu kembali bertanya, "Lalu, bagaimana dengan pria itu? Dan kenapa pemuda itu tidak mengantarkanmu sampai depan pintu?"
Bintang terdiam, ia ingat sekali dan bayangan pria berkemeja putih yang menyeret pria jahat ke rumah terbengkalai itu pun terlihat jelas.
Bintang tidak mungkin memberitahu Sean kalau pria itu sudah tewas dan Bintang mengatakan kalau dirinya berhasil melarikan diri bersama pria yang menolongnya dan Bintang menyuruhnya untuk pergi setelah mengantarkannya.
Setelah itu, Nina menemani Bintang ke kamarnya, ia juga menunggu di depan pintu kamar mandi saat Bintang membersihkan dirinya dan Nina yang sedang berdiri itu mendengar Bintang menangis.
"Sayang, buka pintunya, Nak!" perintah Nina dan Bintang segera keluar.
Bintang kembali memeluk Nina dan ia sangat takut.
"Bintang takut, Bu," lirih Bintang seraya menangis sesenggukan.
Nina mengusap punggungnya dan memenangkan putrinya. Malam ini, Nina tidur bersama Bintang dan setelah Bintang terlelap, Nina bangun untuk mengecup kening Binar yang berada di ranjang sebelah.
****
__ADS_1
Setelah melewati malam yang menegangkan, sekarang, Bintang tengah demam dan Brian sudah ada di rumahnya, Brian meminta maaf pada Bintang dan Bintang hanya diam saja.
Bintang sedikit menyalahkannya, "Seandainya kamu tidak membuatku menunggu lama, mungkin kejadiannya tidak seperti ini!"
"Kalau sudah tau aku tidak datang, kenapa kamu masih menungguku?" tanya Brian dan Bintang menatapnya tajam.
"Memangnya aku tau kalau kamu tidak akan datang?" tanya Bintang dan Brian meminta maaf.
"Maaf, aku juga memiliki masalah sendiri dan aku tidak sempat bercerita denganmu," jawab Brian dan Bintang meminta padanya untuk pergi.
"Lebih baik kamu pergi, aku ingin istirahat," kata Bintang seraya bangun dari duduk.
Bintang pergi ke kamar dan Brian merasa menyesal.
"Bintang, maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi," kata Brian seraya bangun dari duduk dan Bintang tetap meninggalkannya, Bintang mengunci kamarnya dan Bintang menangis.
"Sial, sudah berapa banyak panggilan yang tidak kamu jawab dan kamu bilang kenapa aku tidak pulang saja?" tangis Bintang dari balik pintu.
Setelah itu, Nina yang memperhatikan pun meminta Brian untuk pulang.
"Lebih baik Nak Brian pulang dulu, nanti kalau sudah membaik kalian bisa bicara lagi," ujarnya.
"Baik, Tante. Brian pamit," kata Brian, lalu, Brian yang baru saja naik ke motornya itu melihat seorang pria dan pria itu berjalan melewatinya.
"Siapa dia, aku tidak pernah melihatnya," tanya Brian dalam hati, "mungkin saudara Bintang ingin menjenguk," lanjutnya, kemudian dengan berat hati, Brian pun pergi dan Brian belum menceritakan apa yang sedang dialami keluarganya.
****
"Terima kasih banyak, saya tidak membayangkan jika tidak ada kamu," kata Nina.
Dan pemuda itu mengangguk.
Lalu, Nina menanyakan namanya dan pria tampan berbadan tinggi tegap itu menjawab, "Zack, namaku Zeco, tapi orang-orang memanggilku Zack."
Lalu, Nina memberitahu kalau Bintang sedang sakit dan tidak dapat dijenguk. Zack pun mengerti dan ia harus pamit karena harus kembali bekerja.
"Maaf, pagi-pagi saya sudah merepotkan dan mungkin kalau jaket ini bukan jaket kesayangan, saya tidak akan kembali untuk mengambilnya."
"Beruntung itu jaket kesayangan, karena itu, saya berkesempatan untuk mengucapkan terima kasih," jawab Nina.
Zack tersenyum, lalu pamit.
Beberapa hari berlalu, sekarang, Bintang lebih berhati-hati lagi, ia tidak mau menjadi bodoh untuk Brian yang sudah ia perjuangkan, tetapi, Brian lupa memberi kabar.
__ADS_1
Di kampus, Brian mengejar Bintang yang sedang berjalan dengan Dante. Bintang menghentikan langkahnya dan Dante mengatakan kalau akan ke kelas, tetapi, Bintang menahannya.
"Tunggu aku!"
Dante pun menunggu. Ia memperhatikan Brian yang memohon maaf pada Bintang.
"Entah, rasanya sangat sulit untukku memaafkanmu," jawab Bintang dan Brian pun berlutut.
"Astaga, jangan seperti ini, kamu membuatku malu," ujar Bintang dan Brian tidak akan bangun sebelum Bintang memaafkannya.
Dan Bintang yang belum memaafkan itu melanjutkan langkahnya dan Brian bangun dari berlututnya, tetapi, Brian harus kembali berlutut saat Dante menekan bahunya.
"Katanya tidak akan bangun selama Bintang belum memaafkan, berlututlah sampai besok!" kata Dante dan Brian menatapnya datar.
Dari tempatnya berlutut, Brian memperhatikan Bintang yang begitu manja pada Dante dan Brian merasa cemburu.
"Apakah harus semanja itu dengan saudara tiri?" tanya Brian dan Brian segera bangun dari berlututnya.
Karena bersungguh-sungguh, Brian tidak berhenti mengejarnya dan Brian berhenti saat Dante yang baru saja mengantar Bintang ke kelas menyeretnya.
"Jangan ganggu dia," kata Dante dan Brian melepaskan tangannya.
"Tidak usah ikut campur, ini urusanku dengannya!" geram Brian dan Dante menjawab, "Itu akan menjadi urusanku jika Bintang memintaku untuk menjaganya!"
Dua pria tampan itu saling menatap dan semua orang yang melihat itu sudah tidak heran lagi.
"Kamu suka Bintang?" tanya Brian dan Dante tidak menjawab, ia segera pergi meninggalkannya.
"Sudah ku duga," kata Brian, ia melanjutkan niatnya untuk mengejar Bintang dan karena lelah terus dikejar, Bintang pun memaafkannya.
Brian mengucapkan terima kasih dan berjanji tidak mengulanginya lagi.
"Buktikan," jawab Bintang dan Brian mengiyakan.
Sementara itu, di kelas Dante, ia sudah ditunggu oleh Naomi yang sudah satu tahun ini mengejarnya.
"Ada film baru, kita nonton, yuk," ajaknya dan Dante tak menghiraukan.
Lalu, datang Brian, ia mengatakan sesuatu pada Naomi, "Percuma, dia tidak akan mau, mungkin nanti setelah aku dan Bintang menikah, dia baru berpikir untuk mencari pasangan."
Mendengar kata menikah, Dante merasa kesal, ia selalu berharap kalau Bintang akan berjodoh dengan pria yang lebih baik darinya.
Apakah Dante menyimpan perasaan yang begitu dalam untuk Bintang?
__ADS_1
Dukung authornya, ya. Dengan like dan komen, jangan lupa difavoritkan juga, ya.
Yang baik hati boleh kasih bintang lima dan vote/giftnya. Terima kasih yang sudah mendukung.