
Sesampainya di depan pagar, Bintang turun dan melepaskan jas hujannya.
Brian yang sudah terlanjur basa kuyup itu menerima jas hujan tersebut untuk disimpan.
Bintang mengucapkan terima kasih dan setelah itu segera membuka pintu gerbang, ia berlari supaya cepat sampai ke pintu utama dan Bintang yang berbalik badan itu sudah tak melihat Brian.
Bintang pun segera masuk, di dalam, Bintang sudah ditunggu oleh Sean dan Nina.
"Anak Dady dari mana?" tanya Sean seraya menutup majalah yang sedang dibacanya.
"Bintang habis makan malam bersama teman-teman," jawab Bintang seraya mengusap-usap rambutnya yang sedikit basah.
Lalu, Bintang menatap Nina dan Sean, ia tersenyum. "Bintang ke kamar dulu," kata Bintang dan tanpa menunggu jawaban, Bintang berlalu begitu saja.
Di kamar, Bintang melihat Binar sudah terlelap dan Bintang sedikit menyesal karena telah mengatakan hal kasar pada adiknya.
Bintang yang duduk di tepi ranjangnya itu menatap Binar sedikit lama, setelah itu Bintang bangun, ia harus ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, tidak lupa menggosok gigi.
****
Esok paginya, Bintang bangun ketika Mawar dan Luna datang, keduanya mengantarkan tasnya.
"Kamu semalam kemana?" tanya Luna seraya bersedekap dada.
"Aku pulang duluan," jawab Bintang seraya menatap Luna dan Mawar bergantian.
"Tega kamu bikin kami nunggu lama, bikin kami cari-cari! Terus, motor kamu itu masih ada di rumahku!" gerutu Mawar.
"Iya, nanti ku ambil," jawab Bintang.
Setelah itu, Bintang mengambil roti isi cokelat yang tersedia di meja makan. Bintang juga membagikan pada dua temannya.
"Roti buatan Dady Sean selalu enak," puji Mawar seraya terus melahap roti itu membuat Bintang segera berhenti mengunyah. Bintang meletakkan kembali roti yang dipegangnya itu ke nampan.
"Tunggu sebentar, aku mandi dulu!" kata Bintang yang kemudian bangun dari duduk.
Dan setelah Bintang tak terlihat, Luna segera menatap Mawar.
"Apa?" tanya Mawar yang masih melahap roti itu.
"Bintang tidak suka kita sebut nama Dadynya!" lirih Luna.
Belum sempat menjawab, Nina sudah ikut bergabung, ia membawakan susu hangat untuk dua sahabat putrinya.
"Terima kasih, Tante," kata Luna seraya tersenyum pada Nina.
Nina tersenyum dan mempersilahkan dua remaja itu untuk meminum susunya.
__ADS_1
****
Beberapa hari berlalu dan beberapa hari itu juga Nina merasa ada jarak dengan putrinya.
Nina yang sedang bersedih itu segera memeluk suaminya dari belakang. Sean yang baru pulang bekerja itu berbalik badan, ia menatap Nina. "Ada apa? Sepertinya kamu terlihat sedih?" tanya Sean seraya melingkarkan tangannya di pinggang kecil istrinya.
"Aku merasa kalau Bintang semakin berbeda," lirih Nina seraya menunduk.
"Mungkin dia masih syok, bagaimana kalau besok kita makan malam bersama, di luar?"
Mendengar itu Nina mengiyakan, ia ingin kembali mempersatukan keluarganya yang semakin hari semakin merenggang.
****
Keesokan harinya..
Dan entah sengaja atau tidak, Bintang datang ke toko Dante bersama Brian.
Selama Bintang sibuk dengan belanjaannya, Brian sudah menunggu di kasir, sebenarnya, bukan hanya menunggu, tetapi, Brian sedang meminta pengaman pada Dante.
Dante yang mengetahui Brian datang bersama Bintang itu berpikir yang macam-macam.
"Untuk apa? Bahkan kamu belum menikah," jawab Dante yang berdiri di balik meja kasir, Dante menatapnya datar.
"Bukan urusanmu, berikan saja apa yang kubeli!" perintah Brian dan Dante menolak.
"Oh, jangan-jangan kamu menginginkan aku dengannya tanpa pengaman?" tanya Brian, ia seolah mengejek dan Dante yang tidak terima saat adik tirinya itu direndahkan pun segera meninju wajah Brian.
Setelah itu, Dante menyeret Brian membawanya keluar dari toko dan Bintang yang melihat ada keributan itu segera mendekat, ia melihat Brian yang sedang ditinju pun tak tinggal diam.
Bintang berniat untuk melerai, tetapi, Bintang ikut terluka saat siku Dante mengenai hidungnya.
Dante yang belum menoleh itu tak menyadari kalau sikunya itu mengenai Bintang dan membuat hidungnya berdarah.
Bintang yang merasa pusing itu pun jatuh, ia pingsan dan saat itulah Dante menoleh.
"Bintang!" seru Dante.
Setelah beberapa saat, Bintang membuka mata, ia ada di rumah sakit dan terlihat hanya ada Brian yang menunggunya.
"Sudah pasti dia menyebalkan seperti ayahnya!" gerutu Bintang dalam hati.
Lalu, Bintang yang meminta pulang pada Brian itu mendapatkan pesan dari Nina, Nina mengirim alamat restoran di mana dirinya menunggu untuk makan malam.
Brian pun mengatakan kalau dirinya akan mengantarkan, Bintang tak menolak dan sesampainya di sana, Nina merasa panik saat melihat hidung Bintang yang memar.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Nina dan Bintang tersenyum, gadis yang membiarkan rambutnya tergerai itu menjawab, "Kena tinju Kak Dante."
__ADS_1
Mendengar itu, Nina tak ingin bertanya lebih jauh lagi.
"Tapi, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Nina seraya membawanya duduk.
"Tidak apa, ada Brian yang menolong Bintang," jawab Bintang seraya melihat kearah Brian berdiri.
Brian tersenyum dan sebenarnya bukan dirinya yang menolong, karena Dante yang sedang meninjunya itu segera membawa Bintang untuk ke klinik terdekat.
Sean hanya bisa memperhatikan, ia melihat Brian yang babak belur membatin kalau mereka baru saja berkelahi.
Lalu, Sean menawarkan Brian untuk bergabung dan karena itu adalah acara keluarga, Brian pun menolak dengan halus. Pemuda berambut sedikit bergelombang itu pamit.
"Terima kasih," kata Bintang dan Brian mengangguk.
Setelah kepergian Brian, Sean menanyakan banyak hal.
"Apakah dia pacarmu? Kenapa Dady sedikit cemburu."
"Tidak seharusnya Dady seperti itu," jawab Bintang yang sedang memilih menu.
"Bintang, sebagai Dady, pasti Dady menginginkan yang terbaik, apalagi urusan pria," kata Sean seraya menatap Bintang.
"Lalu, bolehkah Bintang bertanya?" tanya Bintang pada Sean.
"Apa itu?" tanya Sean.
Sementara itu, Binar dan Nina hanya memperhatikan, Nina merasa kalau Bintang sudah sedikit berbeda, dari caranya bicara yang tidak manja lagi dan cara Bintang tersenyum pada Sean.
Lalu, Nina menggenggam tangan Bintang yang ada di meja.
"Kenapa, Bu? Kenapa terlihat cemas?" tanya Bintang seraya melepaskan tangan Nina.
"Bu, bolehkah Bintang bertanya?" tanya Bintang seraya menatap Nina.
Nina yang ditatapnya itu menatap Sean, lalu Binar.
Sean mengangguk dan Nina merasa kalau Bintang akan bertanya masa lalunya.
Dan benar saja, Nina tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
"Bu, siapa yang membuat Bintang kehilangan sosok ayah?"
Sean yang mendengar itu menelan salivanya.
Nina menatap Sean, seolah mencari pertolongan dari pertanyaan itu.
Lalu, Semua orang melihat Binar, Binar yang begitu polos itu bertanya, "Kenapa Kakak bicara seperti itu, Dady adalah ayah kita, ada-ada saja, kakak ini ada apa? Kenapa belakangan ini berubah menjadi menyebalkan?"
__ADS_1
Semua orang tak menyangka kalau Binar ternyata dapat bicara seperti itu, apakah Binar sudah terlalu kesal dengan sikap Bintang yang tiba-tiba berubah?
Bersambung..