BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Tak Sengaja


__ADS_3

Setelah hari itu, kondisi Kinan semakin menurun dan Kinan menolak untuk dirawat di rumah sakit.


Lalu, Kinan yang menatap Evan itu berlinang air mata dan Evan yang sedang menyuapi Kinan meletakkan piring makannya di meja nakas, lalu, Evan menggenggam tangan Kinan.


"Mah, kenapa? Apa Mamah masih memikirkan Cate?" tanya Evan dan Kinan menggelengkan kepala.


"Evan," lirih Kinan.


"Iya, Mah."


"Mamah minta maaf, Nak," lirih Kinan dan Evan mengatakan kalau Kinan tidak bersalah.


"Mamah tidak bersalah, seandainya Evan bisa mencintai Cate, mungkin kami sudah menjadi keluarga bahagia, semua ini salah Evan," kata Evan yang kemudian bangun dari duduk.


(Dan alasan itu lah yang membuat Dante belum siap untuk membuka hati.


Dante takut bertemu dengan wanita ular seperti Cate)


"Evan, seandainya kamu, apakah kamu akan memaafkan Mamah?" tanya Kinan dan Evan merasa kalau Kinan sedang menyembunyikan sesuatu.


"Apa Mamah menyembunyikan sesuatu?"


Kinan yang belum siap bercerita itu menggeleng dan Kinan tersenyum. Setelah itu, Kinan melanjutkan makannya.


Beberapa hari berlalu, sekarang, Kinan sedang menemani Dante di toko, Kinan duduk santai di kursi meja bundar yang Evan sediakan di depan tokonya.


Lalu, Kinan harus bangun saat melihat kursi rodanya itu jalan mundur. Kinan berpikir akan membahayakan pengguna jalan jika membiarkannya begitu saja dan benar saja, rombongan Bintang hampir menabrak sepeda motor yang ada di depannya, sepeda motor yang hampir menabrak kursi tersebut.


Sudah pasti pengendara motor itu kesal dengan Kinan, lalu, memarahinya.


Bintang yang melihat itu dari mobil pun segera turun. Bintang membela nenek-nenek yang waktu lalu pernah ia tolong.


"Pak, jangan kasar dong sama orang tua," kata Bintang, kemudian gadis cantik yang mengenakkan dress berkerah itu mengambil kursi roda yang terjungkal.


Dress itu adalah milik Nina di masa mudanya, karena dress itu masih cantik, Bintang memintanya dan Nina mengizinkan.


Kinan yang melihat Bintang seperti Nina itu terdiam dan setelah pengendara motor itu pergi, Bintang menanyakan keadaan Kinan.


"Nenek tidak apa-apa?"


"Tidak, terima kasih, Nak. Kamu sudah membantu Nenek lagi," kata Kinan.


Setelah itu, Kinan dan Bintang melihat ke belakang saat Dante memanggil Kinan.


"Omah, kenapa di luar? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dante seraya berjalan mendekat.


Lalu, Dante yang melihat Bintang itu mengira kalau Bintang lah sumber masalahnya.


"Pasti ulah gadis ceroboh ini lagi," kata Dante dan Kinan membela Bintang.

__ADS_1


Setelah melihat Dante, Bintang yang masih marah padanya itu pamit pada Kinan. "Nek, teman-teman Bintang masih menunggu, Bintang pamit dulu."


Bintang pergi tanpa permisi pada Dante dan sikap Bintang membuat Dante bertanya-tanya, "Tumben, tidak seperti biasanya, atau jangan-jangan dia memegang teguh ucapannya waktu lalu?" tanya Dante dalam hati, setelah itu, Dante menyuruh Kinan untuk duduk dan Dante memperhatikan mobil Mawar yang baru saja melintas.


"Kamu kenal nenek itu, Bin?" tanya Mawar yang sedang fokus mengemudi.


"Bin... Bin... Binti kali!" timpal Luna yang duduk di bangku belakang.


Dan Bintang yang sedang bad mood itu tak menghiraukan keduanya.


Sesampainya di rumah, Bintang melihat rumah yang sepi, hanya ada bibi yang masih bekerja.


"Mumpung Ibu belum pulang, gimana kita karaoke?" tanya Bintang dan dua temannya itu mengiyakan.


Keseruan Bintang membuatnya tak mendengar saat Bibi pamit padanya. Bibi mengetuk pintu. "Neng, Bibi pulang dulu," kata Bibi dari balik pintu.


****


Di toko, Kinan yang sedang duduk di kursi rodanya itu bertanya, "Kamu kenal dia?"


"Ya, kami satu kampus," jawab Dante seraya mendorong kursi roda Kinan masuk ke toko, Dante menyuruh Kinan untuk istirahat di ruang khusus karyawan.


"Selamat istirahat, Omah," kata Dante, pria tampan dengan berewok tipis itu tersenyum, lalu menutup pintu.


Beberapa hari kemudian, Kinan melihat Bintang yang sedang berdiri di depan pagar sekolah, tentu saja, Bintang sedang menunggu adiknya.


Lalu, Kinan yang ada di seberang jalan itu memanggilnya.


Bintang menghampirinya, tidak lupa mencium punggung tangannya.


"Nenek tau dari mana namaku?" tanya Bintang.


"Dari Dante," jawab Kinan.


"Oo." Bintang mengangguk, setelah itu, Bintang harus pamit karena Binar sudah memanggilnya dari seberang.


Tanpa Bintang ketahui kalau Sean yang menjemputnya Binar itu melihat dan Sean sama sekali tidak turun dari mobil.


"Kenapa sekarang mereka ada di mana-mana?" tanyanya pada diri sendiri.


Setelah itu, Bintang mengajak Binar ke taksinya dan Binar mengatakan kalau tidak perlu.


"Kenapa?" tanya Bintang dan Binar menunjuk mobil Sean yang terparkir di bawah pohon.


Setelah itu, Bintang membayar taksinya lebih dulu, kemudian keduanya berjalan seraya bergandengan tangan menuju mobil Sean.


"Siang, Dady," sapa Bintang dan Sean hanya diam.


Bintang yang belum menyadari kalau Sean memang sengaja tidak menjawab itu mengulangi sapaannya.

__ADS_1


"Dady, selamat siang," kata Bintang yang duduk di bangku depan dan Sean masih tak menjawab.


Dan Binar yang duduk di bangku belakang itu mencolek lengan Bintang, Binar meletakkan telunjuknya di bibir, memberi isyarat untuk diam.


Dan selama perjalanan, semua orang hanya diam. Sesampainya di rumah, Sean menyuruh Bintang untuk masuk ke ruang kerjanya.


Bintang bertanya-tanya dalam hati, "Apa aku melakukan kesalahan?"


Dan Bintang yang sudah berdiri di depan Sean itu bertanya, "Dady, apakah Bintang melakukan kesalahan?"


Dan bukannya menjawab, tetapi, Sean memberikan pertanyaan, "Dari mana kamu mengenal wanita itu?"


"Wanita yang mana, Dady? Di dunia ini banyak sekali wanita," jawab Bintang.


"Dady tidak bercanda, Bintang!" bentak Sean.


Dan baru kali ini Sean membentaknya, Sean terdiam setelah sadar apa yang baru saja ia lakukan.


Bintang menangis, ia keluar dari ruangan tanpa menjawab pertanyaan Sean.


Dan Nina yang baru saja kembali dari kios itu melihat, Nina pun memanggilnya, "Bintang, ada apa, Nak?"


Tetapi, Bintang mengabaikan Nina, Bintang masuk ke kamarnya dan segera menjatuhkan dirinya di ranjang.


Binar yang melihat itu pun bertanya, "Kak, ada apa?"


Dan Bintang tidak menjawab.


Di ruangan Sean, Nina masuk tanpa mengetuk pintu, Nina melihat Sean sedang berbaring di sofa panjang yang tersedia.


"Sean, ada apa?" tanya Nina seraya sedikit menggeser Sean supaya dirinya bisa ikut duduk.


"Nina, aku melihatnya bersama Neneknya, aku takut, takut kehilangan Bintang jika dia tau siapa dirinya sebenarnya."


"Itu tidak akan terjadi, Sean," jawab Nina.


"Lagi pula, kamu melihatnya di mana?" tanya Nina dan Sean menjawab di sekitar sekolah Binar.


"Lalu, kenapa Bintang menangis?"


"Aku tanpa sengaja membentaknya, aku sedang serius dan dia tak mengerti, maafkan aku, Nina," kata Sean yang kemudian merubah posisinya menjadi duduk.


"Sean, jangan terlalu pikirkan, itu adalah masa lalu, aku dan Bintang akan tetap bersama kamu, kita semua bersama Binar juga," kata Nina yang berusaha menenangkan suaminya.


Sean pun memeluknya.


"Aku harus bicara dengan Bintang, aku harus meminta maaf padanya," kata Sean dan Nina mengiyakan.


Sean menyusul Bintang ke kamarnya, Sean mengetuk pintu.

__ADS_1


"Bintang, ini Dady, Nak. Dady mau minta maaf," seru Sean, tak ada jawaban dan Sean pun menatap Nina yang ada di sampingnya.


Bersambung.


__ADS_2