
Mawar memeluk Bintang dan Bintang membalas pelukan itu. Mawar yang tak pernah melihat Bintang seperti itu pun menjadi tak tega, ia mengajaknya untuk kembali duduk.
Lalu, Bintang dan Mawar melihat ke arah pintu ruang tengah, di sana ada Luna yang berdiri memperhatikan, setelah itu, Luna ikut bergabung.
"Aku tau, kamu pasti ada masalah, apakah karena kamu bukan anak Dady Sean?" tanya Mawar dan Bintang mengangguk.
"Bukannya kemarin kamu tidak mempersalahkannya?" tanya Luna yang sekarang sudah duduk di samping Bintang.
Bintang ingin menjawab dan menceritakan semua kekecewaannya, tetapi, Bintang merasa malu, ia tak ingin semua temannya mengetahui kalau Sean yang telah membuatnya kehilangan sosok ayah.
Bintang memilih untuk tetap diam.
"Baiklah, kami tidak akan memaksa, tetapi, kamu harus ingat, kalau kamu tidak sendiri!" kata Luna seraya mengusap punggung Bintang.
Bintang mengangguk dan setelah itu, Bintang mengambil cemilan milik Mawar dan Mawar menggeleng, wanita cantik itu tak habis pikir karena Bintang memiliki selera makan yang tinggi.
Setelah itu, ketiganya memilih untuk nonton drama yang sedang rame dibicarakan yaitu drama yang bertema ada Zombie di sekolah.
****
Di rumah, Nina baru saja kembali, ia kembali dengan membawa belanjaan untuk mengisi kulkas.
Nina yang melihat makanan tak habis di meja makan itu menggeleng.
"Tumben, biasanya anak-anak lahap sampai tidak meninggalkan sisa di piring," kata Nina yang berdiri di samping meja makan, memperhatikan gado-gado yang tergeletak.
Setelah itu, Nina yang tak melihat anak-anaknya itu segera mencari, wanita berpakaian rapi dengan dress panjang di bawah lutut itu mengetuk pintu kamar anaknya.
"Bintang, Binar, kalian di dalam?"
Dan Binar yang sedang menangis itu membuka pintu kamarnya, ia memeluk Nina.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Kamu bertengkar dengan Kakak?" tanya Nina dan Binar tidak menjawab.
"Kakak jahat, Bu. Kakak jahat," kata Binar dalam hati, lalu, Binar menggeleng.
"Ada apa, ceritakan sama Ibu!" kata Nina seraya merangkum wajah putrinya.
"Kakak marah-marah, Bu," lirih Binar dan Nina menarik nafas.
"Sudah ku duga," batin Nina, setelah itu, Nina menenangkan Binar.
__ADS_1
"Mungkin Kakak kamu sedang lelah, nanti berbaikan lah!" kata Nina dan Binar mengangguk.
Setelah itu, Nina menunggu Bintang, ia duduk di sofa ruang tengah seraya membaca majalah.
Dan yang ditunggu itu tak kunjung datang, Bintang yang sekarang sedang makan malam bersama teman-temannya di mall itu lupa memberi kabar dan Nina yang mulai tak tenang itu mengirim pesan.
"Kamu di mana? Ibu menunggumu di rumah," pesan Nina dan Bintang tak membalas, membacanya saja tidak.
"Aku mau ke toilet," kata Bintang seraya bangun dari duduk dan mulai berjalan meninggalkan mejanya, lalu, Bintang melihat kalau tali sepatunya itu lepas, Bintang pun berjongkok untuk mengikatnya, betapa soalnya Bintang, ia yang bangun dari jongkok itu harus menabrak seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi jus.
Nampan yang tersundul kepala Bintang itu jatuh dan jus buah itu sedikit mengenai hoodie Bintang.
Bintang menatap si pelayan dan pelayan itu segera meminta maaf.
"Kamu kalau jalan punya mata?" tanya Bintang seraya menatapnya datar.
Setelah itu, Bintang meninggalkan pelayan tersebut yang sedang membereskan pecahan beling, ia melanjutkan niatnya untuk ke toilet.
"Astaga, ada-ada saja, sepertinya hari ini aku sedang sial!" gerutu Bintang seraya menggeleng.
Tidak lama kemudian, Bintang yang sudah selesai dengan buang air kecil itu kembali ke mejanya dan di sana Bintang melihat ada Evan yang sedang duduk bersama dengan teman-temannya.
Bahkan, Bintang meninggalkan tasnya yang masih ada di sana dan karena meninggalkan tas itu, Bintang menjadi bingung, ia tak memegang ponsel atau dompetnya.
Sekarang, Bintang berdiri di halte dan entah sampai kapan ia akan berdiri di sana.
Lalu, Bintang yang duduk di halte itu melihat sepasang kaki yang berdiri di depannya, Bintang pun mendongak.
"Kamu rupanya," kata Bintang pada pemuda itu yang tak lain adalah si penemu dompet di kampus siang tadi.
Pemuda yang belum di ketahui namanya itu ikut duduk. Ia sepertinya ingin mengenal Bintang dan mulai mengajaknya berbicara.
"Kenalin, nama aku Brian Alvaro," kata pemuda itu seraya mengulurkan tangan dan Bintang menatap tangan itu tanpa membalasnya.
Pria lokal yang tak kalah tampan dengan Dante itu menarik nafas dan kembali menyimpan tangannya.
Bintang menjawab, "Bin-" Dan ucapan Bintang terpotong karena Brian mengatakan sudah mengetahui namanya.
"Iya, aku tau, namamu Bintang," kata Brian seraya menatap Bintang yang sama sekali tidak tersenyum.
Sementara itu, Luna sedang menyusul ke toilet dan sama sekali tidak menemukan Bintang, Luna kembali ke meja makan.
__ADS_1
"Kayanya Bintang sudah pulang, deh, Om," kata Luna yang kembali duduk di samping Mawar.
Lalu, Evan mengangguk, ia melirik tas Bintang dan berniat untuk membawakannya, Evan ingin mengantarkan tas itu.
Tetapi, Mawar yang belum mengetahui kalau Evan adalah ayah Bintang itu melarang, ia mengambil tas Bintang saat Evan akan mengambilnya.
"Kenapa? Om akan mengantarkan tas itu pada pemiliknya," kata Evan seraya menatap Mawar.
"Tapi... Bintang tidak suka kalau ada orang asing yang datang ke rumahnya," jawab Mawar.
Setelah itu, Mawar mengajak Luna untuk pulang dan keduanya pun pamit pada Evan yang mereka ketahui sebagai Ayah Dante.
"Kami permisi," kata Luna dan Evan hanya membalasnya dengan senyum.
****
Di halte, dengan sedikit menahan rasa malu, Bintang mengatakan ingin meminjam uang Brian dan akan mengembalikannya esok di kampus.
"Untuk apa? Aku lihat di dompetmu banyak uang, kenapa pinjam, apa kamu seboros itu?" tanya Brian seraya mengambil dompetnya di saku celana bagian belakang.
"Bukan seperti itu, dompet dan tasku tertinggal di mall," lirih Bintang yang sedang menunduk.
"Jadi, kamu mau pinjam berapa?" tanya Brian seraya membuka dompet yang cukup tebal isinya.
"Tidak banyak, hanya untuk naik taksi, aku mau pulang," jawab Bintang dan Bintang tersenyum saat melihat Brian mengulurkan tangannya, tetapi, tiba-tiba saja, Brian kembali menarik tangannya.
"Pulang? Kenapa tidak ku antar saja?" kata Brian seraya bangun, ia segera berjalan ke arah motornya berada, tidak jauh, itu ada di depan Bintang dan Bintang menggelengkan kepala.
"Ayo cepat, keburu hujan," kata Brian dan Bintang menarik nafas.
"Panas gini kok hujan," jawab Bintang yang masih duduk, Bintang masih bingung, ia harus menerima atau menolak.
Dan karena berasal dari kampus yang sama, Bintang pun tak menolak. Ia segera bangun dan membonceng motor sport Brian.
Brian melajukan motornya dengan kecepatan sedang dan benar saja, belum sampai di rumah, keduanya sudah kehujanan.
Brian yang hanya memiliki satu jas hujan itu memberikannya pada Bintang.
"Pakailah," kata Brian dan Bintang yang diperlakukan baik itu mulai sedikit luluh.
Ia menurut dan bersambung..
__ADS_1