
Sean dan Binar yang sedang duduk di kursi meja makan itu menatap ke arah Nina yang baru saja datang.
"Sean, ada yang ingin aku luruskan antara aku dan Bintang," kata Nina seraya menatap Sean dan Sean mengangguk.
Lalu, Nina mengusap pucuk kepala Binar tidak lupa mengecupnya.
"Sarapan yang banyak, biar tidak lemas nanti saat sekolah!" pesan Nina dan Binar tersenyum.
Setelah itu, Nina pun menyusul Bintang di rumah Eny dan Nina bertemu Endru di depan gerbang.
"Kak, inilah yang Ndru takutkan dan benar terjadi, dari awal memang Sean adalah masalahnya!"
"Kakak tidak berpikir seperti itu," jawab Nina seraya menatap Endru. Nina yang sedang kedinginan itu memasukkan dua tangannya ke dalam saku jaketnya dan Endru yang selalu perhatian itu menanyakannya, "Kakak sakit?"
"Tidak, hanya sedikit dingin saja," jawab Nina, setelah itu, Nina menyuruh Endru untuk segera berangkat.
"Ya, semoga semua segera membaik," harap Endru dan Nina pun mengiyakan.
Setelah itu, Nina pun masuk dan tidak lupa menutup gerbang, Nina yang berbalik badan itu melihat istri Endru yang sedang bersiap untuk mengantar putrinya ke sekolah.
Nina pun memberi senyum, ia menyapa adik ipar dan keponakannya, Nina juga menambahkan uang saku untuknya.
"Terima kasih, Bude," ucap putri Endru seraya menerima selembar uang kertas berwarna biru itu dan Nina membalasnya dengan senyuman.
Nina menarik nafas dalam dan singkat cerita, sekarang, Nina sudah duduk di ruang tamu, ditemani Bintang yang duduk dengan melipat kaki dan memeluk kakinya.
"Bintang, Ibu ingin bercerita tentang Ibu, Ayah dan Nenekmu," lirih Nina seraya menatap Bintang.
"Ya, memang seharusnya begitu," jawab Bintang seraya menurunkan kakinya.
"Dulu, Ibu bahagia hidup bersama ayahmu, tapi, perbedaan kasta membuat Ibu terbuang. Nenekmu tidak menyukai Ibu karena Ibu miskin dan selama Ibu tinggal bersama ayahmu, Ibu banyak mengalami kekerasan fisik dan Ibu juga menderita tekanan batin, Ibu bertahan demi cinta Ibu pada ayahmu, tapi fitnah kejam itu datang, Ibu marah pada semua orang, Ibu tidak lagi mempercayai cinta dan setelah Dadymu datang lagi, Ibu berpikir kalau semua adalah takdir dan itu cara Tuhan menyudahi penderitaan Ibu di rumah Nenekmu."
Bintang mendengarkan seraya membayangkan, betapa sedih ibunya di masa lalu.
"Bintang, memang benar Dadymu bersalah karena telah memisahkan kamu dan ayahmu, tapi, di situ ibu berpikir lagi kalau semua adalah takdir dan Ibu sedikit berterima kasih padanya, karenanya lah Ibu terbebas dari siksaan mertua." Nina menjelaskan seraya menangis, "Bintang, kamu tau, awal kehidupan kita sama-sama sulit, bukan hanya kamu saja yang mengalami kesulitan, belajarlah dewasa, sayang!" lanjut Nina seraya mengusap pucuk rambut Bintang.
Bintang masih diam, sepertinya, Bintang belum memaafkan keluarga ayahnya.
Setelah itu, Nina bangun, ia pulang ke rumah dan tidak melihat suaminya karena ia sedang mengantarkan Binar ke sekolah.
__ADS_1
Di sekolah Binar, Sean melambaikan tangan pada putri cantiknya dan Binar membalasnya dengan senyum.
Setelah itu, Sean pun segera melanjutkan perjalanannya, ia ke restorannya karena tidak tau sedang ditunggu oleh Nina.
Yang Sean tau adalah, berkurang rasa cinta Nina setelah mendengar ucapan Bintang semalam.
Sean yang duduk di kursinya itu menatap fotonya yang sedang bersama Bintang dan Binar.
"Maafkan Dady, Bintang. Memang benar, Dady merebutnya dari ayahmu, tapi Dady bukan pria jahat, Dady menyayangi kalian sepenuh hati," lirih Sean.
****
Di kampus, Bintang yang bersama Brian itu menatap Dante, begitu juga dengannya.
Dante sangat sebal dengan Brian dan Brian menatapnya remeh.
Dante yang baru saja turun dari motornya itu pergi meninggalkan mereka yang dianggapnya pasangan.
Lalu, Bintang mengatakan kalau dirinya akan menunggu dua sahabatnya di parkiran dan Brian yang ada kelas pagi itu pun pamit.
"Ya, semangat!" kata Bintang yahh terdengar sangat lemas.
"Bagaimana mau semangat, kalau yang menyemangati saja seperti ini," jawab Brian, "yang semangat itu kamu!" lanjut Brian, setelah itu, tanpa meminta ijin Brian mengecup kening Bintang, ia juga mengusap pucuk kepalanya.
Lalu, setelah itu, ada dua orang gadis yang menghampiri Bintang.
"Kamu pacar baru Brian?" tanya salah satu gadis itu yang berpenampilan trendy.
"Kenapa memangnya?" tanya Bintang seraya menatapnya.
"Tidak ada apa-apa, hanya mau mengingatkan, Brian itu bajingan," jawabnya, setelah itu, dua gadis itu pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Setelah itu, datang Evan yang menghampiri, Evan bertekad akan menebus kesalahannya di masa lalu.
"Bintang!" seru Evan saat melihat Bintang yang ingin menghindar.
Bintang tak menghiraukan, ia tetap berlalu sampai Evan meraih lengannya.
"Ayah ingin mengajakmu berlibur di akhir pekan, Ayah berharap kalau kamu tidak akan menolak," ajak Evan seraya melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Bintang sibuk, Bintang ingin istirahat, Bintang sangat lelah," jawab Bintang, setelah itu, Bintang pun pergi menuju kantin.
Evan mengusap dadanya, ia mencoba memahami kekecewaan putrinya dan Evan tidak akan menyerah.
Evan yang berbalik badan itu bertemu dengan Mawar dan Luna, lalu, Evan yang mengenal dua gadis itu pun mengeluarkan dompet.
"Om titip uang saku Bintang, tolong berikan padanya," kata Evan seraya mengulurkan tangannya pada Mawar.
Mawar menerima itu dan mengiyakannya.
"Terima kasih," ucap Evan, setelah itu, Evan pun pergi, ia pergi dengan mengusap matanya yang basah.
"Maafkan Ayah, Bintang. Selama ini Ayah tidak tau kalau Ayah memiliki putri secantik kamu!" lirih Evan yang sekarang sudah duduk di kursi kemudinya.
Evan mengusap dadanya yang merasa sesak, lebih sesak lagi saat Kinan mengakui semua kekejamannya di masa lalu.
Dan itu membuat Evan tidak tinggal di rumah bersama Kinan.
****
Di kantin, Mawar dan Luna menepuk bahu Bintang dari belakang. Setelah itu, Mawar dan Luna pun duduk di bangku depan Bintang.
Mawar segera mengeluarkan beberapa lembar kertas uang merah pemberian Evan.
"Bintang, ada titipan dari Ayah kamu," kata Mawar dan Luna yang mendengar itu menginjak kakinya.
Mawar tersenyum pada Luna dan segera menutup mulutnya yang tidak memiliki rem.
"Maaf, kami tidak sengaja mendengarnya," timpal Luna dan Bintang membalasnya dengan senyum.
"Ini, ambil," kata Mawar seraya meletakkan uang itu di meja.
Bintang menatap uang itu dengan meneteskan air matanya, lalu, Bintang menjatuhkan kepalanya di meja, ia menangis sesenggukan membuat Mawar dan Luna tidak tau harus berbuat apa.
Lalu, Bintang segera mengangkat kepala, ia menghapus air matanya, gadis yang masih dengan perban di kepalanya itu mengambil uang tersebut dan segera menyimpannya di dompet.
Dengan menerima pemberian Evan, apakah itu pertanda kalau Bintang sudah memaafkan ayahnya?
Bersambung.
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan like dan komen, subscribe, juga bintang limanya, ya.
Jangan lupa untuk tampol vote/gift juga, ya. Terima kasih yang selalu mengikuti cerita Bintang.