
Esok paginya, Nina harus membujuk Bintang agar mau berangkat ke sekolah, tetapi, Bintang menolak dengan tegas keinginan Ibunya itu.
Nina menarik nafas dalam dan mengiyakannya. "Baiklah, tapi untuk hari ini saja, ya. Besok, Bintang harus sekolah," kata Nina dan Bintang pun mengangguk.
Setelah itu, semua orang sarapan bersama, sarapan dengan nasi goreng ternikmat yang pernah ada bagi Nina dan Endru karena nasi goreng itu adalah buatan Eny, ibu tercintanya.
Di meja makan, Nina yang menjadi Ibu sekaligus Ayah bagi Bintang itu harus bekerja keras dan pagi ini, Nina kembali pamit pada Bintang dan Eny.
"Bintang, hari ini Ibu banyak pekerjaan, Ibu harus berangkat cepat, kalau sudah selesai, nanti Ibu akan pulang sore dan kita akan makan di luar," kata Nina seraya menatap Bintang yang masih menikmati nasi goreng dengan telur mata sapinya.
Bintang yang sudah terbiasa dengan nenek pun mengiyakan.
"Pagi ini Ndru banyak waktu, Ndru mau ajak Bintang jalan, boleh?" tanya Endru pada Nina dan Nina yang sudah berdiri dari duduk itu mengiyakan.
****
Singkat cerita, Endru dan Bintang berada di sebuah taman, taman itu tidak jauh dari rumahnya, Endru mengajak keponakannya itu bermain pasir, perosotan dan ayunan.
Selesai dengan itu semua, Endru yang merasa lelah dan haus pun mengajak Bintang untuk pulang, tetapi, Bintang menolak, ia mengatakan kalau sedang senang bermain ayunan dan Endru yang melihat ada warung kelontong dekat taman pun pergi membeli air minum.
"Bintang, Paman mau beli minum dulu, Bintang jangan kemana-mana, ya!" pesan Endru pada Bintang yang sedang bermain ayunan, Endru yang sedang duduk di ayunan sebelah Bintang pun bangun, Endru berlari dan terus memperhatikan Bintang dari tempatnya berada, saat sedang membayar, Endru lepas pandangan dan setelah mendapatkan air minumnya, Endru melihat seorang pira bule asing yang tak pernah dilihatnya itu sedang bermain dengan Bintang.
Endru pun segera berlari, tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Bintang.
Sesampainya di taman, Endru melihat kalau Bintang memakan es krim dan Endru mengambil es krim yang sedang dipegang keponakannya itu.
"Siapa anda, apa yang anda lakukan?" tanya Endru seraya membanting es krim cup tersebut.
Pria bule itu pun berdiri dan mengatakan kalau dirinya hanya menemani Bintang yang tengah duduk sendiri.
"Tenang, tidak ada niatan saya untuk melukai Bintang," ucapnya dan Endru merasa penasaran dari mana pria itu mengenal nama keponakannya.
Dan di tengah perdebatan antara keduanya, Bintang yang masih duduk di ayunan itu terlihat lemas, Endru pun segera menyentuh kening Bintang dan terasa panas, lalu Bintang pun harus muntah.
Ya, Bintang alergi dengan semua produk yang mengandung susu sapi.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara anda. Seharusnya anda tidak perlu sok tau dengan memberikan es krim padanya!"
Setelah mengatakan itu, Endru pun membopong Bintang dan Endru harus memesan taksi untuk ke rumah sakit.
Lalu, pria bule yang masih mengikuti itu menawarkan tumpangan.
"Biar saya antarkan ke rumah sakit, saya harus bertanggung jawab," kata si pria bule.
Endru yang melihat Bintang sedang sakit pun menurunkan egonya dengan menerima tawaran tersebut.
Di perjalanan, pria asing itu bercerita, "Mungkin, sekarang saya orang asing, tetapi, setelah kemarin bertemu dengan Bintang, saya merasa kalau harus menyayanginya, saya hampir membuatnya celaka saat Bintang harus menyebrang jalan sendiri."
"Jangan banyak bicara, fokus saja mengemudi, Bintang membutuhkan dokter segera!" jawab Endru.
Dan pria bule itu memilih untuk diam.
Sesampainya di rumah sakit, Bintang segera mendapatkan pertolongan dan di sana, Endru menghubungi Nina.
Nina yang sedang bekerja pun segera meninggalkan pekerjaannya, Nina mengendarai motor maticnya dengan kecepatan tinggi setelah mendengar kabar Bintang.
Di sana, pria bule yang melihat Nina pun segera pergi, ia merasa kalau Nina tidak harus melihat keberadaannya.
"Endru, kamu cari siapa?" tanya Nina pada Endru yang sedang menggendong keponakannya.
"Mister Sean, dia yang membuat Bintang seperti ini," jawab Endru seraya terus berjalan menuju parkiran.
"Apa tidak sebaiknya Kak Nina naik taksi saja, kasian Bintang saat ini kalau harus naik motor," kata Endru.
"Baiklah, tolong carikan taksi, biar Kakak dan Bintang tunggu di sini," kata Nina yang sekarang sudah memeluk Bintang.
Lalu, Bintang mendongak, ia menatap Ibunya yang sedang memainkan ponsel, ia mengirim pesan pada karyawannya, mengatakan kalau dirinya tidak kembali ke kios.
"Kenapa, Nak. Kenapa lihat Ibu seperti itu?" tanya Nina yang sudah kembali menyimpan ponselnya.
"Bintang, punya teman baru, Bu," kata Bintang dengan begitu polosnya.
__ADS_1
"Benar, kah? Siapa teman barumu, katakan pada Ibu," kata Nina seraya menatap buah hatinya yang sedang ia peluk, Bintang yang duduk di jok motor itupun mulai bercerita, "Namanya Uncle Sean, dia baik deh, Bu. Ajak main Bintang sama beliin es krim."
Nina menggelengkan kepala saat mendengar cerita itu, lalu, Nina pun berpesan pada Bintang, "Bintang, Ibu sudah sering kali katakan, kalau Bintang tidak boleh berbicara dengan orang asing dan ingat Bintang tidak boleh pergi sendiri, harus didampingi Nenek atau Paman kalau Ibu sedang tidak ada."
"Tapi, Uncle Sean bukan orang asing, Bu. Kan Bintang udah kenalan," jawab Bintang dengan begitu polosnya.
"Siapa yang mengajarkan seperti itu?" tanya Nina seraya mengelap ingus yang keluar dari hidung Bintang.
"Uncle Sean, Bu."
"Siapa dia, aku khawatir di jaman sekarang ini sangat banyak kejahatan apalagi penculikan," batin Nina.
Tidak lama kemudian, Endru pun datang, ia mengantarkan Nina dan Bintang ke taksi yang sudah menunggu.
Keesokan harinya, Bintang yang sudah mau ke sekolah itu kembali bertemu dengan Sean yang sudah menunggunya di sana.
Dan Bintang yang ingat dengan ucapan ibunya itu menolak untuk bertemu dengan Sean.
Eny yang mengantarkan Bintang pun bertanya padanya, "Apakah anda yang bernama Sean?"
"Iya, saya Sean," jawab pria bule itu.
"Kalau begitu, saya minta tolong, jangan dekati cucu saya lagi. Kami tidak bicara dengan orang asing," kata Eny, setelah itu, Eny menyuruh Bintang untuk masuk dan menyuruhnya untuk menunggu kalau Eny telat untuk menjemput, Bintang mengangguk, lalu mencium punggung tangan Eny.
Walau seperti itu, Sean tidak menyerah, ia ingin mendekati Bintang dan menjadi bagian dari hidup Bintang, rasa tanggung jawablah yang membuat Sean harus seperti itu.
Dan hari ini, Nina yang mendengar kabar itu dari Eny pun ingin menjemput Bintang, ia khawatir kalau pria bule itu masih mengikuti Bintang dan benar saja, sesampainya di sana, Nina melihat seorang pria bule sedang duduk di halte dengan memainkan ponselnya.
Nina menepikan motornya di halte dan setelah membuka helmnya, Nina dapat melihat dengan jelas wajah pria bule yang pernah dilihatnya lima tahun lalu.
Nina pun mengambil ponsel pria itu untuk membantingnya.
"Untuk apa anda di sini? Apa tidak puas anda merusak hubunganku dengan suami di masa lalu?" tanya Nina yang tak dapat menahan amarahnya.
"Dengar, saya datang untuk menebus kesalahan di masa lalu, tolong maafkan saya!" kata Sean dengan bersujud di kaki Nina.
__ADS_1
Apakah Nina akan memaafkannya?