
Nina yang sedang menunggu kios itu kedatangan tamu, tamu itu adalah Kinan, wanita tua yang berjalan dibantu tongkat itu berdiri di depan kios Nina.
Nina pun bangun dari duduk, ia keluar dari kios dan menanyakan maksud tujuannya.
"Evan di rumah sakit, bisakah kamu datang untuk menjenguk, siapa tau, setelah kamu datang menjenguk, dia akan bangun dan membuka mata," pinta Kinan yang berderai air mata.
Karena Nina tak kunjung menjawab, Kinan pun meraih tangannya, memohon pada Nina dan Nina menolak itu.
"Maaf, aku tidak bisa, aku bisa pergi sesuai dengan ijin suamiku dan suamiku tidak menyukai itu," kata Nina seraya melepaskan tangan Kinan.
"Maaf, aku harus pergi," kata Nina yang kemudian meninggalkan Kios. Nina ingin menemui suaminya dan di restoran, Sean sedang berbincang dengan salah satu pejabat negara yang kebetulan makan di restorannya.
Sean yang melihat Nina itu segera menyambutnya dan Sean juga memperkenalkannya.
Setelah itu, Sean, Nina dan pejabat negara itu mengambil gambar bersama, Sean mengucapkan terima kasih dan tidak lupa mempostingnya.
Setelah itu, Sean pamit pada pejabat tersebut dan Sean mengajak Nina ke ruangannya.
Di dalam, Sean menanyakan tujuan Nina dan Nina yang sekarang duduk di pangkuan suaminya itu menceritakan kedatangan Kinan yang memintanya untuk menjenguk Evan.
Sean terdiam, lalu, Sean mengatakan Nina boleh datang tetapi harus bersamanya.
Lalu, Sean menyuruh Nina untuk turun, tetapi, Nina tidak mau. Wanita itu sengaja menggoda Sean dengan melingkarkan lengannya di leher Sean.
"Astaga, sepertinya ada yang menginginkan jatah di sore hari," kata Sean yang kemudian membopong Nina, Sean membawanya istrinya yang tengah tersenyum itu ke sofa.
Setelah itu, Sean berjalan ke arah pintu, ia harus mengunci pintu itu dan baru saja Sean mengunci, ada kepala dapur yang datang, ia mengatakan ada bahan yang sudah habis.
"Ya, nanti akan ku belikan, sekarang aku harus sibuk dulu!" kata Sean, setelah itu, Sean menutup pintu tidak lupa menguncinya.
Sean kembali pada istrinya yang sedang menyisir rambut, lalu, mencepolnya.
Melihat leher Nina, Sean segera menelusupkan wajahnya di sana dan olahraga sore pun berjalan dengan sangat panas.
Selesai dengan itu, Sean dan Nina mandi bersama dan karena mandi bersama, olahraga susulan pun tak terelakkan.
Sekarang, Sean dan Nina sudah rapi dengan pakaiannya kembali, Sean mengajak Nina untuk berbelanja dan Nina tidak menolak.
Singkat cerita, Sean yang sudah mendapatkan belanjaannya itu membawa Nina ke rumah sakit.
"Tidak apa, sekali saja kita menjenguknya, walau aku sebenarnya menginginkan dia tak bangun lagi, tapi, aku tidak sejahat itu, Nina," ucap Sean seraya melepaskan sabuk pengaman istrinya.
__ADS_1
Nina menatap Sean dan mengusap pipinya yang ditumbuhi brewok tipis.
Setelah itu, keduanya masuk bersama dan di sana, Kinan merasa senang karena Nina datang.
"Evan," lirih Kinan seraya mengusap punggung tangan putranya.
"Nina datang, bukalah matamu, dia sudah memaafkan kita," lanjut Kinan dengan bibir yang bergetar.
Mendengar nama Nina, Evan menggerakkan jarinya dan Kinan merasa bahagia, berharap Evan segera membuka matanya.
Lalu, Nina mendongak, ia menatap Sean dan Sean mengangguk, setelah itu, Nina berjalan mendekat pada Evan.
"Mas, aku sudah memaafkan semua, bangunlah, buka matamu, lihatlah Ibumu, dia sangat bersedih," lirih Nina dan Evan yang mendengar itu seolah mendapatkan kekuatan baru, semangat baru.
****
Di rumah, Bintang yang sedang mengerjakan tugas itu mengabaikan Binar.
Binar yang sedari tadi mengajaknya bercerita itu menjadi diam dengan bibir yang mengerucut.
Binar menarik nafas dan selesai dengan belajarnya, Bintang meninggalkan Binar di ruang tengah, Bintang masuk ke kamar dan membuka ponselnya.
Bintang yang tak tau harus bilang apa pun memilih untuk mengabaikan Luna.
"Astaga, Bintang. Kenapa kamu berubah jadi dingin," kata Luna yang mendapati pesannya itu hanya di baca.
Sementara Bintang, ia menelusupkan wajahnya di bawah bantal, ia yang masih ingat dengan serpihan masa lalunya itu kembali menangi.
"Bu, kenapa Bu tidak pernah bercerita, padahal, Bintang dulu selalu rewel, selalu manja dan meminta ayah sama Ibu. Maafkan Bintang, Bu." Bintang menangis dalam hati.
Lalu, Bintang kembali melihat ponselnya saat ponsel itu bergetar, Bintang mendapatkan pesan dari Luna yang mengatakan kalau Dante menunggu di kafe dekat kampus.
"Biarlah dia menunggu," kata Bintang dan benar saja, Dante menunggu sampai kafe itu tutup dan setelah itu, Dante ke rumah sakit, ia mengatakan kalau Bintang tidak mau menemuinya apalagi menemui Evan.
Mendengar itu, Evan menitikkan air mata.
****
Keesokan harinya, Dante yang baru saja tiba di kampus itu melihat Bintang yang sedang berjalan dengan memeluk buku.
"Bintang!" seru Dante seraya berjalan cepat ke arahnya dan Bintang sama sekali tidak menoleh.
__ADS_1
Lalu, Dante mencekal lengannya.
"Apa sekarang telingamu tuli?"
"Iya, karena kamu yang memanggil, maka aku harus menjadi tuli!" kata Bintang seraya mengibaskan tangan Dante.
"Salah ku apa? Kenapa kamu jadi seperti ini?" protesnya seraya berusaha menahan Bintang yang akan kembali menghindar.
Lalu, Bintang menatap datar Dante. "Lalu, kamu pikir aku salah apa?" tanya Bintang dan tentu saja Dante tidak mengerti maksudnya.
Bintang yang sudah berkaca-kaca itu mengusap matanya yang basah, lalu, gadis yang selalu rapih dengan dressnya itu berjalan meninggalkan Dante.
"Astaga, apa dia membenciku karena aku anak Ayah?" tanya Dante pada dirinya sendiri.
Dante pun melanjutkan langkah kakinya dengan perasaan kesal.
****
Beberapa hari berlalu, Dante hanya bisa melihat Bintang, ia merindukan Bintang yang sama sekali tak perduli jika diabaikan dan akan selalu bersikap ramah.
Kondisi Evan pun sudah membaik, ia sudah membuka matanya dan sekarang, Evan sedang makan siang, disuapi oleh Kinan.
"Kamu tau, ketika Mama menyuapimu seperti ini, Mama ingat dengan Evan kecil yang selalu menolak jika makan tanpa disuapi Mama," lirih Kinan seraya menangis.
Evan yang sudah mulai memaafkan Kinan itu menghapus air matanya dan Evan mengangguk, Evan mengatakan kalau dirinya akan selalu menyayangi Kinan dan itu membuat Kinan semakin menyesal karena telah menghancurkan kebahagiaan putranya yang begitu nyata.
Kinan menangis dan Evan mengatakan untuk melupakan masa lalu. "Ma, sudah. Jangan menangis lagi, mungkin memang sampai di situ jodoh Evan," lirih Evan.
Ya, pria dengan perban di kepalanya itu mencoba bersabar walau dalam hatinya ia sangat menyesal karena sama sekali tidak mempercayainya Nina.
****
Sementara Sean, ia masih ada di restoran, di ruang kerjanya, pria itu sedang berbaring di sofa panjang yang tersedia, Sean ingat dengan masa lalunya ketika bertemu dengan Evan di Singapura dulu.
Sean yang mengaku telah menjelaskan pada Evan itu hanya bohong.
Sean ingin menjelaskan itu, tetapi, Sean takut. Namun, Sean merasa harus mengatakan pada Nina sebelum Nina mendengarnya dari Evan.
Benarkah Sean akan mengakui kesalahannya?
Bersambung, like dan komen, ya all. Beri hadiah (Vote/gift) juga Bintangnya supaya tetap semangat walau kekecewaan akan ia dapatkan.
__ADS_1