BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Jangan Bodoh!


__ADS_3

Bintang tak menjawab dan sesampainya di toko, Bintang yang ditemani minuman dingin bersoda itu terus mencoba menghubungi Brian.


"Kamu sama siapa, sih?" tanyanya pada diri sendiri, Bintang yang tidak mendapat balasan apapun dari Brian itu merasa kesal dan Dante yang sedang mengambil uang di kasir itu dapat melihat Bintang dari dalam.


Dante mendengus dan sedikit merasa kasihan padanya.


Setelah mengambil uang dan mengecek laporan, Dante pun mengajak Bintang untuk pulang dan Bintang yang sedang fokus dengan ponselnya itu tak mendengar.


Lalu, Dante mengambil ponsel yang ada di tangannya. "Dia tidak akan membalas atau menghubungimu, jadi perempuan jangan bodoh!" ucap Dante dan Bintang menatapnya sebal.


Lalu, Bintang bangun dari duduk, ia segera naik ke motor Dante dan di perjalanan, Bintang merengek padanya supaya melihat keadaan rumah Brian.


"Yakin?" tanya Dante dengan tetap fokus mengendarai motornya dan Bintang menjawab dengan yakin, lalu, Dante menuju ke arah rumah Brian dan di sana terlihat sepi, motornya pun tidak ada.


Setelah itu, Bintang mengajak Dante untuk pulang dan selama perjalanan Bintang hanya diam. Walau gundah, Bintang tetap berpikir positif pada kekasihnya.


"Mungkin itu saudara perempuannya," batin Bintang.


****


Di rumah Nina, Sean sedang menanyakan kabar Bintang pada Evan dan Evan menjawab kalau Bintang pergi bersama Dante.


Karena hari sudah malam, Sean pun menjadi khawatir dan Evan membalas pesan Sean dengan mengatakan untuk tenang saja karena Dante pria baik, bisa diandalkan dan juga dipercaya.


"Ok, saya pegang ucapanmu," balas Sean.


"Jangan lupakan, saya ayah kandungnya sudah pasti akan menjaga putriku," jawab Evan.


"Hmm," balas Sean.


Lalu, Nina yang sedang memakai rangkaian skincare malamnya itu bertanya, "Kamu chat sama siapa, sih?"


"Bukan siapa-siapa," jawab Sean seraya meletakkan ponselnya ke nakas, lalu, Sean harus memeluk istrinya saat istrinya itu datang.


"Sayang," panggil Sean dan Nina menatapnya, "Iya."


"Aku ingin banyak anak, ayuk kita buat lagi," ajak Sean dan Nina mengatakan kalau terlalu banyak anak maka terlalu banyak juga membagi cintanya.


"Baiklah, tapi sekarang aku mau," tatap Sean yang sekarang sudah berada di atas Nina.


Nina yang sudah tau betul itu pura-pura tidak mengerti dan menanyakannya, "Mau apa?" tanyanya.

__ADS_1


Dan Sean menjawab dengan tindakan, ia segera melepaskan piyamanya dan piyama istrinya, olahraga malam pun terjadi.


****


Esok harinya, Bintang ke kampus bersama dengan Dante dan sesampainya di sana, Bintang langsung mencari Brian dan yang dicarinya itu ada di belakangnya, Brian mengejutkan Bintang dengan segera memeluknya dari belakang.


"Astaga, kamu bikin aku kaget, tau!" kata Bintang yang menoleh dan Brian mengatakan kalau dirinya sangat merindukannya.


"Yakin rindu?" tanya Bintang seraya melepaskan pelukan Brian.


"Kamu juga rindu, kan?" tanya Brian padanya dan Bintang mengedikan bahunya.


"Aku mencarimu bukan sekedar rindu, tapi hanya pertanyaan yang harus kamu jawab," kata Bintang dan saat itu juga, Dante yang berjalan melewatinya itu menggelengkan kepala. "Jangan percaya sama biaya buntung!" kata Dante seraya berlalu.


Walau begitu, keduanya tidak menghiraukannya dan Brian seolah mengerti pertanyaan dari Bintang.


"Maaf, semalam ponselku rusak dan harus menginap di konter," ujar Brian seraya membawa tangan Bintang untuk memeluknya.


Bintang yang baru merasakan manisnya cinta itu percaya dan mau saja diperlakukan seperti itu, justru Bintang mengira kalau Brian yang selalu menunjukkan sisi romantisnya di depan umum itu sangat mencintainya.


Tetapi, memang benar Brian mencintainya hanya saja cinta Brian yang begitu liar tidak dapat tersalurkan bersama Bintang saat ini.


"Aku ingin mengajakmu berlibur," kata Brian dan Bintang bertanya, "kemana?"


"Kenapa, kamu tidak mau menghabiskan waktu bersamaku?" tanya Brian dan Bintang menarik nafas.


"Bukan tidak mau, tapi aku akan sulit untuk mendapatkan ijin," ujar Bintang dan Brian segera melepaskan tangan Bintang yang melingkar di pinggangnya.


"Ya, selalu seperti itu," gerutu Brian seraya berjalan meninggalkan Bintang dan Bintang mengejarnya, lalu, Bintang berhenti saat dua sahabatnya itu menarik rambutnya dari belakang.


"Auu," pekik Bintang seraya menahan rambutnya.


"Astaga, kalian, kenapa narik rambutku?" tanya Bintang yang mengerucutkan bibirnya.


"Bintang, kalau cinta pasti menerima apa adanya, kok!" kata Luna. Ya, Luna mendengar apa yang Brian keluhkan tadi.


Lalu, Mawar dan Bintang mengapitnya, "Pegang yang kuat supaya tidak lepas!" ledek Mawar dan Bintang justru menggantungkan dua kakinya.


"Astaga, Bintang, berat tau. Kamu itu sudah besar!" seru Luna dan Bintang tertawa terbahak.


Keseruan itu dilihat oleh Yura dan temannya. "Kita lihat, sejauh mana Brian bertahan dengan gadis rumahan seperti Bintang."

__ADS_1


****


Di kelas, Dante menghampiri Brian, ia berbicara tanpa menatapnya, "Jangan pernah sakiti dia atau kamu akan menyesal seumur hidup!" Setelah mengatakan itu, Dante yang berdiri di sampingnya pun kembali ke kursinya yang ada di paling belakang.


Sementara itu, di kelas Bintang, seorang gadis menghampirinya, ia mengenalkan dirinya, "Namaku Naomi, aku ingin bertanya, kamu siapanya Dante?"


"Kenapa?" tanya Bintang seraya menatap gadis yang duduk di depannya.


"Aku suka dia," jawabnya tanpa basa-basi lagi.


"Oh, nanti akan ku sampaikan," jawab Bintang dan Naomi itu belum mau pergi sebelum Bintang menjawab pertanyaannya.


"Apa lagi?" tanya Bintang.


"Kamu siapanya?"


"Kenapa, kamu ini sangat kepo!" jawab Bintang dan Bintang merasa kesal ketika ada gadis lain yang bertanya-tanya tentang Dante dan gadis itu keluar dari kelas setelah dosen datang.


****


Evan sedang menemani Kinan untuk memeriksakan kesehatannya dan Evan merasa senang karena semua sudah kembali normal, Evan hanya perlu menunggu Kinan untuk bisa berjalan dengan normal lagi dan karena itu, Evan harus rajin mengajak Kinan untuk terapi dan belajar berjalan.


Singkat cerita, sekarang Evan harus mengantarkan Bintang pulang dan di perjalanan, Bintang merengek pada Evan supaya mengizinkannya untuk pergi bersama dengan Brian.


"Anak itu, ngajak anak orang tapi tidak ijin pada ayahnya, pria macam apa itu," gerutu Evan dalam hati.


Lalu, Evan ditatap datar oleh putrinya dan Evan menarik nafas dalam.


"Boleh," jawab Evan dan Bintang membulatkan matanya, ia seolah tak percaya dan kembali mengulangi permintaannya.


"Dengan syarat!" jawab Evan seraya memarkirkan mobilnya di depan rumah Nina.


"Apa itu?" tanya Bintang dengan semangat.


"Ayah hari ikut," jawabnya dan Bintang ragu kalau Brian akan mengiyakan syarat itu.


"Ayah, kenapa begitu, apa dulu Ayah dan Ibu tidak kencan?" tanya Bintang seraya melepaskan sabuk pengamannya.


"Tidak, dulu Ayah langsung melamarnya dan tidak usah membahas masa lalu Ayah," tegas Evan, ia tidak ingin membahas itu karena akan mengingatkan betapa manis dan bahagianya saat bersama dengan Nina dulu.


Bintang menarik nafas dalam, ia pun mengangguk dan bersambung..

__ADS_1


Dukung authornya, ya. Dengan like dan komen, jangan lupa difavoritkan juga, ya.


Yang baik hati boleh kasih bintang lima dan vote/giftnya. Terima kasih yang sudah mendukung.


__ADS_2