BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Bintang Oh Bintang


__ADS_3

Sean yang sedang dalam perjalanan pulang itu melihat Bintang bersama Brian dan Sean bertanya-tanya, kenapa Bintang keluar padahal hari sudah malam.


Sesampainya di rumah, Sean menanyakan itu pada Nina.


"Oh, Bintang. Dia belajar sama teman-temannya," jawab Nina dan Sean yang tak ingin membuat Nina kecewa itu seolah tak tau, Sean ingin membahasnya berdua dengan Bintang setelah bertemu nanti.


****


Brian mengajak Bintang ke kelab dan Bintang yang masih duduk di motor itu bertanya, "Katanya jalan, kenapa ke sini?"


"Sebentar, karena ada yang harus ku selesaikan dan kamu harus ikut," jawab Brian seraya meraih tangan Bintang dan Bintang tersenyum.


Lalu, Bintang pun mengikutinya dan sesampainya di dalam, Bintang melihat gadis yang sempat menghampirinya beberapa waktu lalu dan Brian mengajak ke arahnya.


"Yura, diantara kita sudah selesai, aku sudah berlabuh di pelabuhan terakhir," kata Brian seraya menatap Yura.


Yura yang sedang ditemani oleh minumannya itu tak menjawab apapun. Ia hanya menitikkan air matanya karena masih terngiang dengan jelas di telinganya bahwa Brian pernah mengatakan hal yang sama pada dirinya waktu lalu.


"Baiklah, aku akan melihat sampai mana kalian berlayar!" kata Yura yang kemudian pergi dari hadapan Brian dan Bintang.


Bintang yang seolah sedang diperjuangkan itu merasa tersentuh dan ia mengeratkan tangannya.


Lalu, Brian mengecup tangan itu, ia juga menyatakan cintanya. Bintang menjawab dengan mengangguk.


Dan malam ini Brian membawa Bintang berkeliling kota dengan Bintang yang memeluk Brian dari belakang.


Pemandangan itu dilihat oleh Evan dan Evan merasa khawatir dengan anak gadisnya yang masih berada di luar padahal hari sudah malam.


****


Keesokannya, Di rumah, Bintang yang baru bangun itu harus duduk bersama Sean di teras dan Nina menyiapkan sarapan.


"Ada apa, Dad?" tanya Bintang seraya duduk.


"Dari mana kamu semalam?" tanya Sean seraya mengambil cangkir kopinya.


"Bintang belajar, Dad," jawab Bintang seraya tersenyum dan Sean menatapnya datar.


Mendapatkan tatapan yang seperti itu membuat Bintang sadar kalau Sean sebenarnya sudah mengetahui, lalu, Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dad, Bintang punya pacar dan ini pacar pertama Bintang," lirih Bintang yang menundukkan kepala.


"Brian?" tanya Sean dan Bintang mengangguk.


"Boleh, tapi ada aturan dari Dady," jawab Sean seraya meletakkan kembali cangkir kopinya.

__ADS_1


Dengan semangat, Bintang bertanya," Apa itu?"


"Tidak boleh keluar lewat jam 9, mengerjakan tugas bersama harus di rumah, pergi bersama harus meminta ijin," kata Sean dan Bintang menyanggupinya.


Bintang merasa senang karena sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi.


"Satu lagi," kata Sean, ia menatap Bintang, "kalian tidak boleh berbohong!" lanjut Sean dan Bintang berjanji kalau dirinya tidak akan bohong lagi.


"Kamu tau, ada yang lebih penting dari sebuah janji," kata Sean, ia menarik nafas, berharap putrinya tidak mudah mengucapkan janji, lalu, mengingkari.


"Apa, Dad?"


"Lebih baik berusaha dari pada berjanji, tanpa usaha untuk menepati janji itu, semoga kamu mengerti maksud Dady," ucap Sean.


Setelah itu, Sean bangun dari duduk. Ia harus mandi, lalu bersiap untuk bekerja dan Sean yang masih berdiri di teras itu melihat Evan.


"Ada apa, pagi-pagi sekali sudah bertamu," sergah Sean seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku ingin bertemu anakku," jawab Evan singkat.


Bintang pun ikut berdiri.


"Ada apa?" tanya Bintang yang ada di samping Sean.


"Ayah ingin satu hari ini untuk bersamamu, semoga kamu tidak menolak," harap Evan. Pria itu melirik pada Sean, berharap kalau Sean tidak akan menghalangi.


Lalu, Nina yang menyusul ke depan itu bertanya, "Ada apa ini, kenapa ramai?"


"Nina, aku ingin mengajak Bintang untuk hari ini," jawab Evan.


"Jawabannya ada di Bintang," kata Nina dan Bintang mengiyakan.


Evan merasa bersyukur karena Bintang tidak menolak.


****


Singkat cerita, sekarang, Evan membawa Bintang ke rumahnya dan Kinan yang melihat itu merasa senang, ia segera membawa Bintang untuk masuk.


Dengan semangat, Kinan mengajak cucunya itu masuk dan Kinan memanggil Dante yang sedang menyiapkan sarapan.


"Dante, tolong bantu Omah, Nak. Omah harus masak yang enak," kata Kinan seraya bangun dari duduk.


Dante yang sedang di ruang makan itu membatin, "Tumben Omah sangat semangat."


Lalu, Dante keluar untuk menghampiri Kinan dan Dante mengerti kenapa Kinan begitu semangat.

__ADS_1


"Omah, Dante sudah masak dan Dante yakin kalau masakan Dante sangat enak," ujarnya, ia tidak ingin Kinan repot-repot memasak, ia takut Bintang tidak akan menghargai hasil masakannya yang biasa saja.


"Tidak baik juga, Omah. Nanti banyak makanan terbuang, itu mubazir," lanjut Dante.


"Ok, kita cicipi masakannya, biar Bintang yang jadi juri," kata Bintang seraya bangun dari duduk.


Ia berjalan di depan dan semua orang mengikutinya. Evan yang ada di paling belakang itu merasa senang, dengan kehadiran Bintang rumahnya menjadi ramai dan lebih berwarna.


Tanpa Evan sadari kalau ada niat buruk dari Bintang, niat apa itu?


Bintang yang melihat capcay di meja makan itu segera menarik kursi di mana Evan duduk dan Evan sama sekali tidak keberatan jika tempatnya di ambil olehnya.


Lalu, semua orang ikut duduk dan Bintang mulai mencicipi hasil masakan Dante.


"Lumayan," kata Bintang, setelah itu Bintang mencicipi telur dadar dan Bintang mengatakan pada Evan kalau dirinya menyukai telur ceplok masakan Sean.


"Kalau begitu, tunggu sebentar, biar Ayah buatkan," kata Evan seraya bangun dari duduk.


Evan mulai menyalakan kompor dan memecahkan telur.


Tidak menunggu lama, telur itu sudah siap dan Evan menyajikannya.


"Kenapa? Ini telur ceplok, katanya kamu suka," kata Evan seraya sedikit mengusap punggung Bintang.


Bintang hanya diam saja ia masih memperhatikan kuning telur yang tidak ada di tengah.


"Ayah, Bintang ingin telur ceplok dengan posisi kuningnya ada di tengah, seperti buatan Dady," ucap Bintang seraya menatap Evan.


Sementara itu, Dante menatap Bintang dengan begitu datarnya. "Sudah ku duga kalau dia hanya ingin menyulitkan," batinnya.


Lalu, Evan mengambil kembali piring berisi telur itu. Evan berusaha membuat kuningnya tetap ada di tengah dan itu cukup sulit baginya.


Sudah begitu tak membuat hati Bintang senang karena ada saja alasan Bintang untuk merepotkan Evan.


"Ayah, ini terlalu banyak mentega pasti rasanya asin," kata Bintang seraya mendorong piring berisi telur itu.


Lalu, Kinan bangun dari duduk, ia ingin membuatkan sesuai dengan keinginan cucunya. "Biar Omah buatkan," kata Kinan dan Bintang tersenyum.


Bintang yang menunggu itu tersenyum pada Evan dan Dante, Evan yang belum menyadari kalau Bintang tengah mengerjainya itu sama sekali tidak keberatan, berbeda dengan Dante.


Dante tau betul apa yang diinginkannya dan terbukti saat Kinan datang membawa telur, baru saja Bintang akan memprotesnya Dante sudah mengambil piring itu.


"Untuk hari ini, tidak ada yang makan telur!" kata Dante seraya membawa piring berisi telur itu ke wastafel.


Sudah cukup tingkah Bintang pagi ini dan Dante tidak menyukai sikapnya yang seperti itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2