BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Aku Tidak Perduli


__ADS_3

Memaafkan semua kekecewaan tentu saja membutuhkan waktu, itulah yang saat ini Bintang rasakan.


Bintang tidur dengan membawa lukanya, berharap esok sudah membaik, namun, kenyataannya tak seperti itu, Bintang yang membuka mata itu masih ingat dengan kekecewaan yang ada.


Bintang bangun pagi, ia yang melihat meja makan sudah lengkap itu tersenyum pada semua, lalu, Bintang mengatakan kalau dirinya belum lapar dan ingin mencuci motornya.


Nina dan Sean hanya menatap, ia tidak menjawab, tetapi, keduanya merasakan ada yang berbeda dari Bintang.


Selesai dengan sarapan, Nina menghampiri Bintang, ia ikut berjongkok di samping Bintang yang sedang mencuci motornya.


"Kamu kenapa?" tanya Nina seraya mengambil selang yang tergeletak untuk membantu Bintang.


"Tidak apa-apa, memangnya kenapa, Bu?" tanya Bintang seraya menatap Nina. Lalu, Bintang mengambil selang itu dari tangannya.


"Bu, Ibu sudah rapih dan cantik, kenapa harus bermain air denganku, pergilah, Dady sudah menunggu," kata Bintang seraya menatap Sean yang berdiri tidak jauh dari belakang Nina.


Bintang memberikan senyumnya.


"Bintang, kamu mau bawa motor lagi?" tanya Sean seraya mendekat.


"Kalau boleh, bolehkan, Dad?" tanya Bintang, ia berbicara seolah tak menyimpan kekecewaan pada Sean.


"Baiklah, tapi kamu harus berhati-hati dan ingat untuk menghubungi Dady atau Ibu jika terjadi sesuatu!"


"Siap, terima kasih, Dad," kata Bintang, setelah itu, Bintang melanjutkan mencuci motornya.


****


Selesai dengan mencuci, Bintang sarapan seorang diri, ia menatap kursi meja makan yang kosong.


"Bu, kenapa Ibu bisa hidup bersama dengan orang yang menyakiti Ibu?" tanya Bintang pada dirinya sendiri.


Air mata pun menetes, ia segera menghapus air matanya setelah mendengar suara Eny yang datang.


Eny membawakan gado-gado kesukaan Bintang dan Bintang mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama, kalau begitu, Nenek akak ke kios, laundry Ibumu sedang sangat ramai," kata Eny seraya mengusap pucuk kepala Bintang.


Bintang mengangguk dan baru beberapa langkah, Eny harus berhenti karena Bintang memanggilnya.


"Nek," lirih Bintang seraya menatap Eny, Bintang bangun dari duduknya dan Eny yang berbalik badan itu melihat raut wajah sedih dari cucunya.


"Kenapa?" tanya Eny seraya mendekat dan Bintang tidak menjawab, justru ia menangis sesenggukan.


"Bintang, apa ada masalah?" tanya Eny yang sedang menepuk-nepuk punggung cucu tercintanya.

__ADS_1


"Tidak, Bintang hanya sedih," kata Bintang seraya melepaskan pelukan itu.


"Nenek akan mendengarkan, ceritalah!" perintah Eny dan Bintang menggeleng.


"Bintang harus kuliah, Nek. Terima kasih gado-gadonya, Bintang akan memakannya nanti sepulang kuliah," kata Bintang.


****


Di kampus, Bintang yang sedang memarkirkan motornya itu bertemu dengan Dante yang baru saja tiba.


Dante memarkirkan motornya di samping motor Bintang.


Dan Dante sudah tidak menghiraukan sikap cuek Bintang lagi, Bintang diam maka ia pun akan diam.


Dante yang ingin mengabaikan Bintang itu berjalan lebih dulu, tetapi, ia merasa penasaran dengan Bintang yang tiba-tiba saja berubah.


Lalu, Dante berbalik badan, ia langsung bertanya, "Salah ku apa? Kenapa kamu ikut membenciku?"


Seketika, Dante merasa malu karena yang ada dibelakangnya bukanlah Bintang.


"Maaf," lirih Dante yang segera berbalik badan, ia melanjutkan langkahnya seraya menggaruk kepalanya.


Sementara Bintang, gadis yang mengenakan celana jeans dan hoodie putih polos itu datang lebih awal dari teman-temannya, ia memilih untuk duduk di bawah pohon, ia duduk seraya membaca buku.


Dan Bintang yang kacau itu berbalik badan, ia tak mengira kalau ada seorang pria yang juga duduk di bawah pohon itu. Pria tersebut menjawab, "Tidak, aku tidak menyebalkan!"


Bintang yang tak mengenalnya pun memilih bangun, ia pergi begitu saja sampai tak menyadari kalau dompetnya terjatuh.


Pria itu mengambil dompet Bintang, menyusulnya dan Bintang tetap mengabaikan.


"Astaga, ada ya cewek secuek dia, apa aku terlihat menakutkan?" tanyanya pada diri sendiri.


Merasa penasaran dengan identitas Bintang, ia pun membuka dompet itu. "Bintang Putri Ricardo, nama yang bagus," kata pria itu yang ternyata adalah kakak kelas Bintang.


****


Selesai dengan kuliah, Bintang segera pulang dan Bintang melihat pemuda yang sudah menunggunya.


"Kamu, dari mana tau alamat rumahku?" tanya Bintang yang masih berdiri di pintu utama.


Pria itu tak menjawab, tetapi, ia menunjukkan dompet Bintang.


"Ini milikmu!" kata pria itu yang kemudian meletakkannya di meja.


Setelah itu, pria yang berpakaian santai dengan kaos polo berwarna biru tua itu bangun dari duduk. Ia berjalan melewati Bintang yang sama sekali tidak mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"Terima kasih, Nona Ricardo!" lirihnya yang sedang menyindir Bintang.


Bintang tak menghiraukannya, justru ia segera menutup pintu dan karena sedang lapar, Bintang segera pergi ke meja makan, di sana, Bintang melihat Binar sedang memakan gado-gado miliknya.


Bintang yang melihat itu jengkel, ia mengambil piring Binar dan berkata kasar pada adiknya, "Apa kamu seperti ayahmu yang suka mengambil milik orang?"


"Kakak, Binar sudah membagi dua, Binar hanya mengambil sebagian, kenapa Kakak marah?" tanya Binar yang bangun dari duduk, ia terkejut dengan sikap Bintang yang tiba-tiba seperti itu.


Tak menjawab, justru Bintang pergi meninggalkan Binar yang sama sekali tak mengerti apa ucapan Bintang.


"Karena makanan kakak marah sama aku?" tanya Binar pada dirinya sendiri.


Dan Bintang yang kesal pada dirinya sendiri itu pergi ke rumah Mawar. Di sana, Bintang hanya bermain game online dan Mawar sedang menghibahkannya dengan Luna melalui chat pribadi.


Sesekali, Mawar melirik dan Bintang tetap fokus pada ponselnya sampai Bintang tak menyadari kalau Mawar mengatakan ingin keluar.


Karena tak ada jawaban, Mawar pun pergi begitu saja. Mawar pergi ke toko Dante dan di sana, Mawar mengambil berbagai macam cemilan.


Di kasir, Mawar bertanya pada Dante, "Apa kalian sedang bertengkar?"


"Siapa?" tanya Dante seraya mengambil belanjaan Mawar.


"Siapa lagi, kamu dan Bintang!"


"Entahlah, kalau bertengkar, aku pun tidak tau apa yang membuat kami bertengkar," jawab Dante.


Setelah membayar, sekarang, Mawar pun pulang, sesampainya di rumah, Mawar melihat Bintang sedang makan, Bintang membeli makanan online.


Terlihat ada bungkus mie ayam, cimol, batagor dan jus alpukat.


"Habis makan diberesin dong!" keluh Mawar yang duduk di samping Bintang dan Bintang tak menjawab, ia meraih kembali ponselnya.


"Bintang!" seru Mawar seraya kembali berdiri dari duduknya.


"Apaan, sih. Aku tidak tuli!" jawab Bintang dan Bintang harus melepaskan ponselnya saat Mawar mengambilnya begitu saja.


"Apa? Iya nanti aku rapikan semua!" kata Bintang seraya berusaha meraih ponselnya kembali.


Dan Mawar menyembunyikan ponsel itu dibalik badannya.


"Ada apa? Kenapa kamu seperti ini?"


Mendengar pertanyaan itu, Bintang tak mampu menjawab, bibirnya bergetar karena menahan tangis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2