
Nina yang tak sudi untuk disentuh itu mendorong Sean supaya tidak lagi menyentuh kakinya.
Nina yang sangat membencinya itu ingin menampar, memukul bahkan ingin menabraknya.
Dan karena Sean yang gigih itu membuatnya terus mengejar Nina dan sekarang Nina sudah berada di atas motornya lagi, Nina menatap penuh benci pada Sean dan Sean yang berdiri di depannya itu mengatakan siap mati untuk menebus segala kesalahannya.
Mendengar itu, Nina pun semakin memantapkan niatnya karena Sean memintanya sendiri.
Tetapi, Nina mengurungkan niat tersebut, Nina tidak ingin masuk penjara dan membuat keluarganya dalam kesulitan.
Lalu, Nina kembali turun dari motor dan berteriak meminta tolong.
"Tolong!"
Mendengar teriakan itu membuat banyak orang yang berdatangan.
"Dia... dia pedofil, tidak berhenti mendekati anak saya," seru Nina pada warga yang mulai berdatangan seraya menunjuk Sean.
Dan Sean yang merasa terancam itu menjawab, "Tidak, itu tidak benar, saya ayah dari anaknya, saya bukan pedofil."
Mendengar itu, Nina terdiam dan semua warga pun mulai pergi meninggalkan Nina dan Sean, mereka mengira ucapan Sean adalah benar dan menganggap keduanya pasangan yang sedang bertengkar.
Tanpa Nina ketahui, Bintang yang sudah keluar kelas itu mendengar ucapan Sean, Bintang merasa senang dengan itu, Bintang pun memanggil Sean dengan sebutan ayah.
"Ayah!" seru Bintang yang berdiri di belakang Nina.
Mendengar suara itu, Nina pun berbalik badan, ia terdiam dan harus seperti apa untuk menjelaskannya.
Berbeda dengan Sean, ia berjalan ke arah Bintang berdiri, Sean membelai rambut Bintang yang ikal.
"Bintang, panggil Daddy, bukan Ayah, ya!" perintah Sean dan Bintang dengan senang hati menurutinya, Bintang memeluk Sean seraya memanggilnya Daddy.
Bintang menangis karena akhirnya dia memiliki Daddy, sementara itu, Nina yang terdiam sempat membayangkan adegan tersebut kalau seharusnya Evan lah yang memeluk Bintang.
Tersadar dari angannya, Nina segera memisahkan Bintang dan Sean.
"Lepas, jangan mengaku yang tidak benar kamu," geram Nina seraya mendorong Sean dan Sean pun harus melepaskan Binatang.
Sean hanya bisa memperhatikan Bintang yang sudah berada di motor, Bintang duduk di depan Nina.
"Nina!" seru Sean yang berkacak pinggang, Sean yang pantang menyerah itu pun takan berhenti begitu saja.
__ADS_1
****
"Astaga, gila. Dari mana dia tau namaku dsb Bintang?" tanya Nina dalam hati, sekarang, keduanya sudah sampai rumah.
"Bu, Nina boleh minta tolong?" tanya Nina yang meletakkan helmnya di meja ruang tamu.
Eny yang sedang melepaskan atribut Bintang menanyakan itu, "Apa itu?"
"Mulai besok, Bintang tidak boleh sendiri, di luar ada orang gila yang mengejar kami," kata Nina seraya menatap Eny.
"Bukan orang gila, Nek. Orang itu Daddy Bintang, bukan orang gila," timpal Bintang seraya menangis. Setelah itu, Bintang yang sudah tanpa seragam sekolah berlari ke kamarnya, Bintang mengunci kamar itu.
"Apa yang anakmu bicarakan?" tanya Eny pada Nina dan Nina menangis, ia duduk di sofa seraya memijit pelipisnya.
"Dia orang gila yang menghancurkan pernikahan Nina dan Evan, Bu," jawab Nina seraya menangis.
"Apa?" Eny merasa salah dengar dan Nina mengulangi ucapannya, "Dia ada di sini, entah apa yang dia lakukan, mungkin dia belum puas menghancurkan hidup Nina, Bu," lanjut Nina seraya menatap Eny.
"Ya Tuhan. Apa yang dia lakukan di sini, apa mungkin dia mengejar kamu sampai ke sini?" tanya Eny pada Nina.
"Nina juga tidak tau, Bu. Nina merasa takut, Nina takut, Bu," lirih Nina, kemudian, Eny memeluk putrinya.
"Ada Ibu dan Endru, Nak. Kamu tidak perlu takut!" kata Eny seraya mengusap rambut halus Nina.
****
Bayangan Nina di masa lalu pun kembali muncul ketika Nina memohon di kaki Evan dan itu mengganggu pikirannya selama lima tahun ini, Sean merasa tidak tega membuat gadis polos seperti Nina harus menderita dan di ceraikan di depan umum oleh Evan.
Sean pun menyesal, ia menyesal telah menerima tawaran Kinan untuk uang yang sedang dibutuhkannya saat itu.
Dan dari KTP Nina lah Sean mengetahui semuanya tentang Nina.
Merasa kepalang tanggung, malam ini Sean pun pergi ke rumah Nina.
Di sana, Nina yang sedang bersama dengan Bintang itu pun mendengar Endru memanggilnya.
"Ada apa, Ndru?" tanya Nina yang keluar dari kamar.
"Ada tamu, dia nunggu di depan," kata Endru yang baru saja pulang dari bekerja.
"Siapa?" tanya Nina seraya menatap Endru dan Endru menjawab kalau dia adalah Sean.
__ADS_1
"Usir dia, Kakak tidak mau melihatnya!" perintah Nina dan Bintang yang mendengar nama Sean itu justru berlari keluar.
Bintang memanggil pria bule itu dengan sebutan Daddy, "Daddy, Bintang kangen Daddy," kata Bintang yang sekarang sudah berada di pelukan Sean.
Dan Nina tak tinggal diam, Nina memisahkan Bintang dengan Sean.
"Ibu jahat!" kata Bintang yang kemudian berlari kembali masuk ke kamar.
"Puas anda membuat hidup saya menjadi berantakan?" tanya Nina dengan nada tinggi sehingga membuat Endru yang berada di belakangnya itu bertanya-tanya.
"Kak, ada apa? Apa sebelumnya kalian saling mengenal?" tanya Endru seraya menyentuh bahu Nina yang tipis.
Nina menurunkan tangan Endru, lalu, Nina yang tidak menjawab itu menyuruhnya mengusir Sean.
"Suruh dia pergi dan jangan pernah untuk datang lagi!" perintah Nina yang kemudian masuk ke rumah.
Sean yang masih berada di depan itu pun menolak untuk pergi, Sean ingin menjelaskan sesuatu pada Nina.
"Ada yang harus ku jelaskan untuknya, kami harus bicara," kata Sean yang menolak untuk pergi.
"Apa anda tidak mendengar, Kak Nina menolak untuk bertemu dengan anda."
"Tolong, biarkan saya menebus kesalahan saya di masa lalu," kata Sean yang mencoba meyakinkan Endru dan Endru merasa penasaran dengan masalalu itu.
"Masalalu apa yang anda bicarakan?" tanya Endru seraya menatap tajam Sean.
"Ini urusan saya dan Nina, kamu hanya perlu membantu saya untuk bicara dengannya," jawab Sean dan jawaban itu membuat Endru merasa sedikit jengkel.
Apalagi Endru sempat mendengar Bintang memanggil Sean sebagai Daddy.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Evan seraya menarik kerah kemeja Sean.
Sean melepaskan tangan Endru dari kerahnya dan Endru mendorong Sean sampai pria itu jatuh ke meja yang ada di teras.
"Katakan!" bentak Endru yang sudah tidak dapat menahan amarahnya.
Sementara itu, Sean hanya bisa diam, lalu, Sean mengembalikan barang milik Nina.
"Saya mengembalikan ini," kata Sean seraya mengulurkan tangannya pada Endru.
Endru tau betul kalau itu adalah milik Nina yang dulu tertinggal di Singapura.
__ADS_1
Endru berpikir kalau Sean adalah pria yang merusak rumah tangga Nina dan Evan.
Apa yang akan Endru lakukan?