BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Bertemu Dengan Masa Lalu


__ADS_3

Luna dan Mawar menepuk bahu Bintang.


"Sabar, masih banyak cowok lain," kata Mawar dan Luna menggeleng.


"Bukan banyak cowok lain, Mawar, tapi, kita harus fokus ke sekolah," timpal Luna yang berdiri di samping Bintang.


Setelah itu, Bintang yang berdiri di tengah menarik nafas, dia berjalan meninggalkan dua sahabatnya dan Bintang berjalan dengan begitu cepatnya, ia memotong jalan Dante.


Si pria berpakaian santai dengan kaos yang dilapisi kemeja kotak-kotak itu menatap Bintang.


"Dengar, aku menyapamu bukan berarti mengejarmu, apa salahhya seorang gadis menyapa pria lebih dulu?" tanya Bintang dan Dante sama sekali tidak menjawab.


Dante menepuk pucuk kepala Bintang menggunakan buku yang agak tebal, lalu, Dante menyingkirkan Bintang begitu saja.


Bintang menatap tak percaya kalau di dunia ini ada mahluk sedingin Dante.


"Baiklah, mulai sekarang, aku anggap tidak mengenalmu!" seru Bintang dan Dante sama sekali tidak menghiraukan.


Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat hidung Bintang kembang kempis.


Karena kesal, Bintang mengajak dua temannya ke kantin dan Bintang yang selalu lapar jika marah itu memesan banyak makanan.


"Bintang, aku iri sama kamu," kata Mawar seraya memperhatikan Bintang makan.


Sementara itu, di kantin, Dante memperhatikan Bintang yang terlihat banyak makan, pria tampan itu menggelengkan kepala.


"Yang akan menjadi suaminya harus berdompet tebal!" kata Dante yang sedang bekerja membantu Ibu kantin dan siang ini adalah hari terakhir Dante membantunya karena Dante harus membantu Evan.


****


"Iri kenapa?" tanya Bintang yang sedang menyantap mie goreng.


"Justru aku yang iri sama kamu, kamu diperbolehkan membawa mobil, sedangkan aku, apa?" tanya Bintang seraya menatap Mawar yang sedang menyangga dagunya, tangannya memegangi sedotan es jeruknya.


"Berat badanku akan cepat bertambah jika makan sedikit banyak," kata Mawar dan Luna yang cuek dengan penampilan itu memperdulikan dengan berat badan.


"Aku bagian nikmati apa yang ada," kata Luna dan Bintang mengingatkannya, "Luna, kamu harus sedikit memperdulikan penampilan, kita sudah besar bukan anak tk lagi."


"Memangnya kenapa? Aku suka seperti ini, dengan celana jeans yang dipadukan kaos berkerah, aku itu apa adanya," jawab Luna seraya menyantap makanannya.


"Bukan apa yang kamu pakai, tapi diantara kita, kamu yang paling gemuk!" timpal Bintang.


"Aku tidak bisa menahan setiap melihatmu makan, tau!" kata Luna seraya menatap Bintang dan keduanya saling menatap.

__ADS_1


****


Di rumah Endru, Eny sedang merasa tidak enak badan dan Nina menjaganya.


"Ibu tidak apa-apa, hanya ingin istirahat saja," kata Eny yang melihat Nina begitu khawatir.


"Nina khawatir, Bu. Usia Ibu sudah tidak muda lagi," jawab Nina, "Sekarang, kita harus ke rumah sakit, Bu," lanjut Nina, wanita yang kecantikannya tetap terpancar itu bangun dari duduk.


Tidak menerima penolakan dari Eny dan Eny pun pasrah.


Nina menghubungi Sean, mengatakan kalau akan ke rumah sakit dan Sean yang sedang sibuk itu tidak dapat mengantar.


Nina tidak keberatan karena bisa naik taksi.


"Bu, maaf, ya. Sean tidak dapat menjemput," kata Nina seraya membawakan tas Eny.


"Tidak apa," kata Eny, wanita yang rambutnya sudah hampir memutih semua itu memahami, "Nina, kenapa kamu tetap memanggil nama pada suamimu?" tanya Eny kemudian.


"Dia yang menolak, Bu. Tidak suka dengan sebutan Abang, Mas atau Kakak. Katanya sudah seperti memanggil abang-abang bakso," jawab Nina.


Tidak lama kemudian, taksi pesanan Nina datang dan selama perjalanan banyak yang Nina ceritakan termasuk adanya Evan di Jakarta.


Eny mendengarkan cerita Nina dan meminta pada Nina untuk tetap pada pernikahannya sekarang.


Eny pun tersenyum dan menggenggam tangan Nina. "Ibu percaya kamu, Nak."


"Terima kasih, Bu," ucap Nina seraya memeluk Eny.


Sesampainya di rumah sakit, Nina segera mengambil nomor antrian singkat cerita, sekarang, Nina dan Eny sedang menunggu obat di farmasi.


Setelah mendapatkan obat, Nina membantu Eny untuk bangun dari duduk.


"Tidak apa, Nak. Ibu bisa, Ibu hanya meriang saja sudah kamu perlakukan seperti sakit parah," protes Eny dan Nina memprotesnya balik, "Ibu, kenapa menolak mendapatkan perhatian dari anak, tidak semua orang tua mendapatkan perhatian dari anak, Bu."


"Iya... iya, terima kasih, sayang," kata Eny seraya tersenyum pada putrinya.


Setelah itu, Nina yang tersenyum pada Eny terdiam, wajahnya nampak tak bersahabat, Nina yang menatap ke depan itu mengajak Eny untuk berputar balik.


"Kenapa, Nak. Pintu keluar ada di sana," kata Eny yang menolak untuk berputar karena akan lumayan jauh untuk berjalan kaki.


"Tidak apa-apa, Bu. Lebih baik kita lewat pintu belakang," kata Nina tak mau memberitahu Eny kalau dia melihat Evan dan Kinan.


Ya, ternyata, Evan membawa Kinan ke rumah sakit yang sama dan keduanya melihat Nina yang sedang membantu Eny bangun dari duduk.

__ADS_1


Sekarang, Evan dan Kinan masih diam, memperhatikan Nina yang berusaha lari dari masa lalu.


Melihat Nina, Kinan menangis, ia sangat ingin meminta maaf atas dosanya di masa lalu.


Tetapi, Kinan tidak dapat berbuat apa-apa, wanita berbadan kurus itu hanya bisa menggenggam tangan Evan dengan begitu eratnya.


Evan mengira kalau Kinan sangat sakit melihat Nina sehingga terlihat cemas.


"Mah, ruangan dokter ada di ujung sana, ayo," ajak Evan yang kemudian menuntun Kinan, melewati Nina dan Eny yang masih berdiri di depan farmasi.


Setelah itu, Nina mencoba tersenyum walau sebenarnya sangat takut melihat Kinan, seketika, Nina teringat dengan penyiksaan Kinan di masa lalu.


"Ayo, Bu." ajak Nina dan Eny memperhatikan pria dan wanita yang baru saja berjalan melewatinya.


"Apakah dia Evan?" tanya Eny seraya menatap Nina.


"Iya, Bu." Nina menjawab dengan tanpa melihat Ibunya.


"Kenapa, kamu bilang sudah melupakannya, kamu tidak perlu menghindar," kata Eny yang sedang dituntun oleh Nina.


Dan Nina menitikkan air matanya.


"Sudah, jangan menangis, Ibu tidak akan mengungkit masa lalu lagi," kata Eny seraya mengusap punggung Nina.


Lalu, Nina melihat jam di tangannya, jam sekolah Binar sudah hampir selesai dan Nina mengajak Eny untuk sekalian menjemput.


Sesampainya di sana, Nina dan Eny menunggu sedikit lama, sekarang, Binar berlari ke arah Nina berdiri.


"Ibu!" seru Binar dan Nina menggelengkan kepala.


"Kamu ini, kaya anak kecil saja," kata Nina yang sedang dicium punggung tangannya oleh Binar.


"Bukan itu, Bu. Binar mau kasih tau Ibu sesuatu," kata Binar seraya menatap Nina yang tingginya sudah sama dengannya.


"Kmu dapat nilai bagus?" tanya Nina.


"Bukan itu, Bu. Ini tentang Kak Bintang, Kak Bintang suka sama cowok itu, Bu," kata Binar seraya menunjuk Dante yang ada di seberang jalan, terlihat Dante sedang menurunkan kardus dari mobil bak.


"Bule?" tanya Nina dan Binar mengangguk.


Dan Nina merasa kalau Bintang sepertinya yang menyukai bule.


Jangan lupa like dan komen, ya, all. Dukung author dengan vote/giftnya juga, ya, terima kasih. 💙

__ADS_1


Mohon maaf untuk typonya, 🙏


__ADS_2