BINTANG DARI SURGA

BINTANG DARI SURGA
Perasaan Bintang


__ADS_3

Sekarang, di kamar, Sean sedang memperhatikan Nina yang sedang memakai rangkaian skincarenya.


Nina berbalik badan, ia menatap Sean yang tersenyum padanya.


"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Nina dan Sean menjawab tidak.


"Lalu, kenapa kamu agak berbeda?" tanya Nina yang kemudian bangun dari duduk.


Ia berpindah ke pangkuan Sean. Menatap Sean yang tersenyum padanya.


"Sudah lama kita tidak berlibur, aku ingin ke Bali. Ayo, kita ke Bali!" ajak Sean dan Nina mengiyakan.


Sekarang, Sean mengangkat Nina, memindahkannya ke ranjang, tidak ada yang mereka lakukan, Sean hanya memeluk istrinya sampai pagi.


****


Setelah keadaannya membaik, Evan sudah diperbolehkan pulang dan Evan sekarang semakin membenci Sean.


"Sudah beberapa kali kita bertemu, tapi tidak pernah sekalipun kamu mencoba untuk menjelaskan, Sean!" geram Evan dalam hati.


"Aku harus kembali mengambil keluargaku yang telah kamu curi!" kata Evan dalam hati.


Pria yang menyimpan perih di hatinya itu segera berbaring dan semakin bersemangat untuk segera pulih.


Keesokannya, di kampus, Dante tidak melihat Bintang, Dante pun menanyakan itu pada dua sahabatnya.


"Bintang sedang berlibur," jawab Mawar dan setelah itu, Mawar juga Luna meninggalkan Dante yang ingin bertanya lagi.


Dan tanpa sepengetahuan orang-orang, Evan yang ingin mengambil hati Bintang itu pergi ke rumahnya, sayangnya, rumah itu kosong, hanya ada Eny yang dititipi kunci.


Eny yang keluar dari rumah Nina itu melihat Evan dan menanyakan tujuannya.


"Apakah anda Ibu Nina?" tanya Evan dan Eny mengangguk, lalu, Evan segera bersujud di kaki Eny.


"Bu, maafkan saya, saya tidak dapat menjadi suami yang baik untuk putri Ibu," lirih Evan.


Eny segera meminta padanya untuk bangun, karena Eny merasa risih dan malu dilihat orang.


"Evan tidak akan bangun sebelum Ibu memaafkan," kata Evan yang masih memegangi kaki Eny.

__ADS_1


"Saya sudah memaafkan, lagi pula, sekarang, Nina sudah bahagia, lebih baik Nak Evan tidak mengungkit masa lalu," kata Eny seraya melepaskan tangan Evan, setelah itu, Eny pergi meninggalkan pria yang masih berjongkok itu.


Evan merasa tidak terima diperlakukan seperti itu dan Evan ingin menghancurkan kebahagiaan itu.


"Sean, tunggu saja!" ancam Evan yang kemudian bangun dan mulai pergi meninggalkan rumah Nina.


Evan menyuruh orang untuk merusak reputasi restoran Sean dan benar saja, seseorang keracunan makan setelah makan di restoran Sean.


Sean yang sedang memanggang barbeque itu menerima telepon dari asistennya.


"Tuan, ada yang keracunan makanan di restoran kita, dia menuntut dan cobalah anda lihat di sosial media, berita itu sudah ramai," kata asisten Sean.


Setelah itu, Sean menyuruh asistennya itu untuk membayar kerugiannya.


Sean yang sedang berlibur itu menjadi tenang, selama ini tidak ada yang pernah keracunan.


Setelah itu, Sean mengajak Nina dan yang lainnya untuk pulang.


Karena pulang lebih cepat dari jadwal membuat Sean mendapatkan banyak pertanyaan dan Sean menjawab apa adanya.


Sesampainya di Jakarta, Sean memenuhi panggilan polisi dan Sean harus membayar denda.


Sementara itu, Evan merasa puas dengan kinerja orang yang ia suruh untuk membuat onar di restoran Sean. Evan yang sedang berbicara melalui telepon itu terpergok oleh Kinan dan Dante.


"Nak. Itu tidak benar, jangan lakukan, cukup Mama yang melakukan kesalahan itu di masa lalu," kata Kinan yang sedang berdiri di pintu kamar Evan.


Evan menyudahi teleponnya, ia menjawab, "Kenapa, bukankah ini yang dulu Mamah dan Sean lakukan?"


"Nak, bolehkah Mamah minta kamu untuk mengikhlaskan semua?" pinta Kinan dan Evan tersenyum.


Evan yang tersenyum itu keluar dari kamar, masih dengan kepala di perban, Evan menemui Nina di kios dan Nina tidak ada di sana, yang ada adalah Bintang dan Eny.


Eny yang sedang duduk di kursi kayu depan kios itu menatap Bintang yang sedang mengecek pembukuan.


"Nak, ada ayahmu," lirih Eny dan Bintang menjawab kalau dirinya tidak memiliki ayah.


"Bintang hanya punya Dady, bukan Ayah, Nek."


Evan yang mendengar itu pantang menyerah, ia terus melanjutkan langkah dan saat ia sudah sampai di depan Bintang, Bintang yang semula duduk itu harus bangun.

__ADS_1


"Nek, Bintang sudah mengerjakan tugas, sekarang, Bintang harus pulang," kata Bintang pada Eny dan Eny hanya bisa diam saja.


Dan Evan yang sudah sampai itu merasa kalau Bintang sedang menghukumnya dengan seolah tak melihat keberadaannya.


Evan terus mengikuti Bintang dari belakang dan Bintang tak menyukai itu, Bintang pun menghentikan langkahnya.


"Aku tidak suka jika ada yang menguntit!" kata Bintang tanpa menoleh dan Evan menjawab, "Ayah akan terus mengikuti sampai mendapatkan maafmu."


Bintang tak mau meladeninya, ia pun melanjutkan langkah kakinya dan sesampainya di rumah, Evan melihat Nina yang sedang berbicara dengan tetangga di luar pagar.


Nina yang melihat Bintang masuk ke rumah tanpa menyapa dan diikuti oleh Evan, membuat Nina mengerti kalau Evan sedang berusaha mendapatkan maaf dari putrinya.


Lalu, Nina mengatakan pada tetangganya kalau akan datang ke undangannya, setelah itu, tetangga pun pamit dan Nina menatap Evan yang juga menatapnya.


"Mas, aku minta sama kamu untuk berhenti, biarkan kami menjalani hari seperti biasa tanpa adanya kamu dan kamu tidak perlu susah payah melakukan ini, biarkan Bintang, jangan kamu lukai dengan terus menerus muncul dihadapannya!" kata Nina, setelah itu, Nina masuk tidak lupa menutup gerbang dan saat itu juga Evan tak tinggal diam.


"Nina, Sean pria bajingan, dia pria bayaran, kamu harus tau itu," kata Evan yang berusaha membuat Nina untuk tak menyukai masa lalu suaminya.


"Ya, memang. Dia bayaran Ibumu untuk menghancurkan rumah tangga kita dan aku bersyukur karena itu juga aku sekarang bahagia karena dia telah menebus semua kesalahannya," jawab Nina.


Setelah itu, Nina benar-benar meninggalkan Evan yang masih mematung.


Tanpa Nina dan Evan ketahui, ternyata, Bintang memperhatikan dari dalam. ia melihat dari celah tirai dan remang-remang mendengar suara keduanya.


Bintang yang mengetahui itu pun menjadi kecewa, ternyata, dirinya di kelilingi oleh kebohongan.


Setelah itu, Bintang masuk ke kamar sampai tiba waktunya makan malam.


Bintang yang biasanya sangat ceria dan centil itu berubah, berubah menjadi pendiam.


Untuk sekarang ini, Nina dan Sean belum menyadari, mereka hanya mengira kalau Bintang sedang kelelahan.


Setelah itu, Bintang yang sudah selesai dengan makan malamnya segera bangun, Bintang memberi senyum pada Nina dan Sean yang menatapnya.


Sean dan Nina membalas senyumnya, setelah itu, Bintang yang berbalik badan segera meneteskan air mata.


Entah sampai kapan Bintang dapat menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2