
Bintang tersenyum setelah mendengar apa yang Binar katakan. Lalu, Bintang kembali menatap buku menu yang ada di tangannya. "Sepertinya tidak ada yang bisa menjawab," kata Bintang.
Dan Sean menatap Nina, ia merasa kalau Bintang sudah mengetahui yang sebenarnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tidakkah kamu bahagia hidup bersama Dady dan Ibu?" tanya Sean.
"Kenapa harus bahagia kalau terlalu banyak yang kalian sembunyikan," jawab Bintang seraya menatap Sean, setelah itu Bintang menutup buku menunya, ia menatap Nina, lalu bertanya, "Bu, bukankah Ibu tau, betapa Bintang menginginkan sosok ayah?"
"Bintang, sosok ayah yang kamu maksud itu adalah Sean, dia ayahmu, tidak ada lagi yang lain," jawab Nina.
"Entah... yang Bintang tau saat ini adalah kecewa, karena Dady yang memisahkan keluarga kita, lalu, Dady juga yang datang ke keluarga kita, apakah Ibu tidak berpikir kalau ini adalah rencananya?"
Mendengar itu, Nina merasa kesal dan sudah habis kesabarannya, Nina bangun dari duduk, ia menampar Bintang.
Plak!
Dan Nina menatap tangannya sendiri, ia terduduk dan Bintang yang baru saja mendapatkan tamparan itu menitikkan air matanya.
Bintang yang menjadi pusat perhatian di restoran itu pun bangun, ia berlari keluar tanpa pamit.
Sean yang merasa bersalah itu bangun, ia memeluk Nina. "Sudah, kita selesaikan ini di rumah," kata Sean yang sedang mengusap lengan istrinya.
Setelah itu, Sean menggenggam tangan Binar. "Ayo, kita pulang!"
Dan acara makan malam pun dibatalkan.
****
Bintang yang berlari keluar itu tak tau arah tujuannya dan Bintang terus berlari.
Lalu, sebuah mobil berwarna putih memotong jalannya.
Bintang pun berhenti dan Bintang tersenyum smirk saat si pemilik mobil itu turun. Ia adalah Evan yang kebetulan ada di jalan yang sama.
Lalu, Bintang yang tak menyukai Evan itu berusaha menghindar, Bintang melihat seorang pemuda di samping trotoar yang sedang duduk di atas motor dan dengan tiba-tiba Bintang naik ke atas motor tersebut.
"Bang, jalan Bang!" perintah Bintang dan pria yang tak mengenal Bintang itu menolak.
"Mbak, saya bukan ojek!"
"Tidak apa-apa, nanti saya bayar!" kata Bintang seraya menepuk-nepuk punggung pria itu meminta cepat dan belum sempat menancap gas, Evan sudah berdiri di depan motor tersebut.
__ADS_1
"Dia anak saya, saya yang akan mengantarnya pulang," kata Evan seraya meraih tangan Bintang dan Bintang mengibaskan tangan Evan, Bintang berlari tanpa memperhatikan jalan dan saat itu juga, Bintang tertabrak mobil.
Tentu saja, Evan panik dan segera meminta pertolongan.
Lalu, pemilik kendaraan itu keluar dan tanpa di duga, Seanlah pemilik kendaraan tersebut.
Evan yang melihat Sean segera meninjunya.
"Matamu di mana, hah!" bentak Evan.
Lalu, Nina dan Binar mengingatkan untuk menolong Bintang lebih dulu.
Beruntung, Bintang hanya mengalami luka kecil dan Bintang yang kepalanya diperban itu menurut pada Nina untuk ikut pulang.
Tidak hanya Bintang, tetapi juga ada Evan. Semua orang selain Binar duduk di ruang tamu.
Bintang ingin mendengar penjelasan dari semua.
"Kalian tau, awalnya, Bintang hanya bersedih karena Bintang bukan anak Dady, tapi, setelah Bintang mendengar sendiri kalau Dady yang menghancurkan rumah tangga Ibu dan Ayah, Bintang sangat kecewa, Bintang sakit. Bintang ingin menanyakan semua, tapi Bintang melihat Ibu baik-baik saja, padahal, Ibu tinggal bersama dengan pria yang dulu menghancurkan hidupnya," ucap Bintang seraya menangis menangis sesenggukan.
"Nak, Dady-" ucap Sean dan ucapannya terpotong saat Bintang meminta pada Sean untuk mendengarkannya lebih dulu.
"Bintang, sudah 13 tahun Dady menebusnya dengan menjadi ayah yang baik untukmu, apakah itu tidak cukup?" tanya Sean dan Bintang menundukkan kepala.
Sementara Nina, ia sudah menangis, ia membenarkan ucapan Bintang, mengapa dirinya bisa hidup bersama dengan Sean, pria yang telah menghancurkan hidupnya di masa lalu.
Lalu, bagaimana dengan Evan, pria itu terus menatap Sean, menunggu gilirannya untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Sean sekongkol dengan Omahmu dan yang Ayah sayangkan adalah, kenapa tidak sekalipun untuknya menjelaskan padaku dan sepertinya, dia datang seperti pahlawan," kata Evan yang masih menatap tajam Sean.
Mendengar itu, Nina menatap Sean, ia menunggu pembelaannya dan Sean yang menatap Evan hanya diam saja, Nina pun mengerti kalau yang Evan katakan adalah benar.
Nina bangun dari duduk, ia meninggalkan tiga orang itu ke kamar.
Lalu, Sean pun ikut bangun, ia mengejar Nina. Dan sekarang, tinggallah Bintang dan Evan. Evan yang semula duduk berjauhan itu mendekat.
"Bintang, maukah kamu memaafkan Ayah?" tanya Evan seraya menggenggam tangan Bintang.
Bintang melepaskan tangan itu dan bangun dari duduk.
"Kalau Ayah bisa menebus dan menggantikan waktu, waktu yang sudah belasan tahun Ayah tak mencari kebenarannya, Bintang akan memaafkan," jawab Bintang seraya bangun dari duduk.
__ADS_1
Bintang pun meninggalkan Evan ke kamar.
Evan menundukkan kepalanya dan karena keadaannya tak dibutuhkan lagi, Evan pun memilih bangun, ia pergi tapi tidak pulang, entah kemana tidak ada yang tahu.
****
Sementara itu, di kamar, Sean sedang menatap Nina yang memunggunginya, Nina yang sedang berbaring itu menangis.
"Sean, aku merasa jahat pada Bintang!" ucap Nina seraya sesenggukan dan Sean masih diam, ia hanya bisa mendengarkan.
"Sean, setelah aku menerimamu, aku sudah memaafkan semua, tetapi, kenapa sekarang menjadi seperti ini? Kamu tau, bahkan, sekarang aku sangat mencintaimu," lirih Nina dan Sean yang mendengar kata cinta dari istrinya itu segera memeluk.
"Nina, maafkan aku, aku berjanji, aku akan membuat keluarga kita utuh lagi seperti semula," lirih Sean seraya mengeratkan pelukannya.
"Entahlah," jawab Nina yang masih membelakangi Sean.
****
Di kamar Bintang, Bintang yang berbaring membelakangi Binar itu merasakan pelukan hangat dari adiknya.
"Kakak, kalau Kakak marah sama semua orang dewasa, Kakak tidak marah padaku juga, kan?" tanya Binar.
Bintang yang sedang menangis itu pun segera berbalik badan, Bintang dan Binar saling berpelukan.
"Maafkan Kakak, belakangan ini Kakak bersikap buruk," lirih Bintang dan Binar mengangguk.
"Kita tetap saudara, kita lahir dari rahim ibu yang sama, jangan berubah, Kak," pinta Binar.
Bintang melepaskan pelukan itu dan mata sembabnya menatap adiknya yang begitu polos.
"Iya," jawab Bintang.
Setelah itu, keduanya pun tidur dan di pagi hari, Binar tidak melihat Bintang. Binar keluar untuk mencari kakaknya dan yang dicari pun tidak ada.
"Kakakmu di rumah Nenek, dia ingin menenangkan dirinya," kata Sean yang sedang menyiapkan sarapan.
Dan Nina masih ada di tempat tidurnya, Nina masih memikirkan ucapan Bintang dan apakah ucapan Bintang akan menggoyahkan cintanya pada Sean?
Bersambung..
Like dan komen, jangan lupa untuk beri rate bintang lima, ya.
__ADS_1