
"Kak, itu Dady," kata Binar yang berjalan ke arah pintu dan Bintang yang melihatnya itu menahan.
"Berhenti, diam di situ, Kakak marah sama Dady, Kakak belum mau bertemu dengannya," kata Bintang yang sekarang sedang duduk di ranjang, menatap Binar yang terlihat bingung.
"Baiklah," jawab Bintang. Lalu, Binar menjawab Sean, "Dady, Kakak tidak mau bertemu, Binar minta maaf tidak bisa buka pintu."
Sean dan Nina menarik nafas.
Lalu, Nina mengusap lengan suaminya.
"Sabarlah, semoga hatinya cepat membaik," kata Nina dan Sean menjawab, "Hmm."
****
Malam telah berlalu, sekarang, Binar dan Nina sudah ada di meja makan menunggu Bintang dan Sean.
Dan Sean yang selalu rapi itu menghampiri Nina, ia mencium keningnya juga kening Binar, lalu, Sean merasa ada yang kurang yaitu Bintang.
"Di mana Bintang?" tanya Sean pada Binar.
"Kakak pergi," jawab Binar, ya, begitulah Binar, gadis dingin yang akan bicara atau menjawab seperlunya saja.
Dan sekarang, Bintang sedang bersama dengan teman-temannya, lari pagi di taman kota.
Bintang juga menceritakan kesedihannya karena dibentak oleh Sean.
Luna yang paling dewasa diantara ketiganya itu meminta Bintang untuk memaafkan Sean dan menanyakan apa yang membuatnya membentak.
Berbeda dengan Luna, Mawar menyarankan untuk sedikit diam dan mengabaikan supaya Sean akan berpikir dua kali jika akan memarahi Bintang.
Dan akhirnya, Bintang mengikuti saran Mawar dan itu Luna memarahi keduanya.
"Luna, kamu marah-marah terus, tidak takut keriput?" tanya Bintang.
Lalu, Bintang dan Mawar segera memeluk Luna yang berada di tengah.
Lalu, ketiga yang sedang berjalan santai itu menghentikan langkah saat melihat Dante yang sedang berdiri di antara kerumunan.
Terlihat Dante sedang membagikan brosur promosi dari toko Evan.
Lalu, Bintang mengajak kedua temannya untuk ikut mengambil brosur itu.
"Ok, nanti aku dan teman-temanku akan datang," kata Bintang seraya menatap datar Dante.
Dan Dante yang kemarin sempat menuduh Bintang itu meminta maaf.
"Maaf, kemarin aku menuduhmu."
"Apa? Sepertinya kurang jelas apa yang kamu ucapkan," kata Bintang yang sengaja agar Dante mengulangi ucapannya dan Luna yang begitu polos menimpali, "Katanya, dia minta maaf."
__ADS_1
Bintang dan Mawar pun menatap Luna.
"Astaga, otak kamu kurang seons, ya?" tanya Bintang dan Luna mengerucutkan bibirnya.
"Diantara kalian, aku yang paling pintar" jawab Luna seraya menatap Bintang juga Mawar dan tanpa ketiganya sadari, ternyata, Dante sudah pergi dari tempatnya berdiri.
Terlihat Dante sedang berjalan meninggalkan taman kota yang akan ramai di setiap akhir pekan.
****
Sepulang dari taman, Bintang melihat Nina ada di rumah dan Bintang menyalaminya.
"Ibu, tumben di rumah," tanya Bintang.
"Iya, berulang kali Ibu hubungi kamu kenapa tidak bisa?" tanya Nina seraya menepuk sofa sebelahnya, mempersilahkan Bintang untuk duduk.
Bintang pun duduk dan menanyakan kenapa Nina mencarinya.
"Kenapa tidak sarapan bersama?" tanya Nina seraya menyusun bunga dalam vas.
"Bintang sarapan bareng teman," jawab Bintang seraya mengeluarkan ponselnya dari saku hoodie.
"Kenapa tidak minta ijin?" tanya Nina seraya menatap Bintang.
"Ibu, Bintang sedang marah sama Dady, Dady membentak Bintang, Bu," lirih Bintang dan Nina memberikan senyum.
Sementara Bintang, ia terlihat sangat cemberut.
"Binar di mana, Bu?" tanya Bintang yang sudah berdiri dari duduk.
"Ada, dia menemani Nenek." jawab Nina yang juga bangun dari duduknya.
Setelah itu Bintang pergi ke kamarnya, ia bersiap dan Nina tidak menungggu lama.
Dan ternyata, Nina mengajak Bintang ke restoran Sean. Di sana Sean sudah menunggu dan ternyata ini adalah rencana mereka.
"Bu, kok kesini?" tanya Bintang dan keduanya masih ada di taksi.
"Kenapa, bukannya kamu sangat mengagumi Dady, sampai kamu ingin menjadi sepertinya?"
Bintang tak menjawab.
Lalu, Nina mengajak Bintang untuk segera turun, dengan langkah yang sedikit malas, Bintang tetap mengikuti Nina.
Nina menggandeng Bintang, ia mengingatkan waktu Bintang kecil yang hanya akan mau makan masakan Dadynya.
"Iya, Bintang masih sedikit ingat, Bu."
"Lalu, apa karena masalah kecil itu akan membuat jarak diantara kalian?"
__ADS_1
"Ya, Ibu benar. Tapi, Bintang kecewa sama Dady, seharusnya Dady bisa bicara baik-baik tanpa membentak," lirih Bintang seraya menundukkan kepalanya.
"iya, Dady sudah menyadari kesalahannya dan kita sekarang ada di sini karena perintah Dady," kata Nina dan Bintang pun mulai sedikit mengangkat kepalanya, menatap Nina, lalu, kedua tersenyum.
Sesampainya di dalam, Nina dan Bintang disambut oleh Sean.
****
Singkat cerita, sekarang Nina dan Bintang sudah ada di dapur. Keduanya memperhatikan Sean yang begitu lihainya memasak dan Bintang seolah mengalami flashback dimana saat itu dirinya melihat sean memasak untuk pertama kalinya.
Bintang pun mulai luluh dan sedikit memaafkan Sean.
"Ya, sampai saat ini Dady masih jadi idolaku," kata Bintang dan Sean pun tersenyum.
Sekarang, keluarga kecil itu sedang makan siang bersama di restoran Sean dan restoran sendiri menyajikan makanan khas Indonesia yang beragam.
"Bintang, bolehkah Dady meminta sesuatu?" tanya Sean seraya menatap Bintang yang sedang menikmati makanannya.
"Apa itu, Dady bukan mau minta uang, kan, soalnya, Bintang belum kerja," jawab Bintang yang belum mau menatap wajah Dadynya.
Sean dan Nina tersenyum. "Bukan itu," kata Sean.
"Lalu?" tanya Bintang yang masih menikmati makanannya.
Dan sebelum mengatakan apa yang akan disampaikan itu, Sean menatap Nina dan Nina menganggukkan kepala.
"Dady tidak mau kamu berhubungan dengan wanita tua itu, entah itu anaknya atau cucunya, Dady tidak mau," kata Sean seraya menggenggam tangan Bintang.
Bintang menatap Sean dan sebenarnya Bintang ingin menanyakan alasan itu, tetapi, Bintang mengurungkannya, Bintang berpikir kalau Sean memiliki masalah dengan keluarga wanita tua yang Sean maksud.
****
Di rumah Evan. Evan yang baru kembali dari toko itu melihat Kinan sedang bersiap dan Evan pun bertanya, "Mah, mau ke mana?"
"Mamah mau ke toko, di sana, Mamah bisa menemani Dante dan Mamah berharap bertemu dengan gadis itu, gadis yang sudah beberapa kali menolong Mamah."
"Kalau begitu biar Evan antar." Evan pun membantu Kinan dengan membawakan tasnya dan Kinan yang berjalan dibantu tongkat itu tersenyum, Kinan menolak evan yang akan membantunya berjalan.
"Biarkan Mamah mandiri, Nak."
"Baiklah."
"Kamu tau, gadis itu sangat cantik dan baik hati, dia yang membuat Dante masuk rumah sakit dan dia yang menolong Mamah, sangat lucu, bukan?" tanya Kinan Evan mulai penasaran dengan gadis tersebut yang tak lain adalah anak kandungnya.
"Mamah ingin menjodohkan Dante dengannya, tapi Mamah takut," kata Kinan seraya tersenyum tipis.
Ya, Kinan yang sekarang telah belajar banyak hal salah satunya adalah tidak lagi memaksakan kehendaknya.
Terkadang, apa yang kamu sukai belum tentu baik untukmu begitu juga dengan sebaliknya, bisa jadi kita sangat membenci yang ternyata itu adalah yang terbaik.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen, ya, all.
Terima kasih.