
“Udah kasih aja lagipula ini tinggal dikit, hari juga udah mulai sore. Mending siap-siap pulang aja,” sahut Echa.
“Nah benar tuh kata Echa, kasih aja sama sahabat sendiri pelit amat lu.”
“Ambilin Ca buat nih anak, besok-besok bayar kalo mau.” Echa melangkahkan kakinya mengambil cake yang tersisa untuk Andi. Sedangkan Oma sibuk memakan cake, setelah kenyang dan Biru sudah membereskan kedainya, mereka pun berpamitan dan berpisah.
Sesampainya di rumah, nampak Ara yang sedang bermain ponsel seorang diri. Echa menanyakan keberadaan ibunya, dan Ara pun menjawab jika sang ibu sedang pergi ke warung. Di kediaman Pak Baba, dia masih merasa kesal dengan keponakannya itu. Padahal ulahnya sendiri yang mencari masalah terlebih dulu, sampai jabatannya sebagai kepala sekolah di cabut. Sifat tak terpuji serta selalu mencari sensasi bahkan memakai uang sekolah membuatnya tidak lagi mempunyai pekerjaan. Sang istri terus mengoceh sampai membuat kepala Pak Baba merasakan pening.
Di akhir pertengkaran mereka, istrinya ingin Ara sang anak kembali kerumah. Namun di tentang oleh suaminya, dia merasa malu mempunyai putri yang seperti itu. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, Ayah Echa baru saja pulang dari kerjanya. Wajah tua itu terlihat sangat lelah, Ara yang duduk saja berniat membuatkan sang tuan rumah teh hangat.
“Nak Ara duduk saja biar ibu yang buat kan, ini gulanya baru ibu beli, kata Dokter kan nggak boleh kecapekan,” ucap ibu Echa dari arah belakang. Dia baru saja pulang dari warung.
“Baik Bu. Kalo gitu Ara ke kamar dulu samperin Echa.”
“Iya sana.”
Kembali kerumah Pak Baba, sang istri ingin keluar untuk membeli beberapa bahan dapur. Warung yang terletak tak jauh dari rumahnya membuat dia tak takut walau berjalan seorang diri. Masih ada beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja. Dan tak sengaja mendengar perbincangan mereka.
“Bu Tania sama Pak Arya katanya mau punya cucu ya?”
“Lah, emangnya si Echa sudah menikah? Bukannya dia masih sekolah ya, anak mereka kan si Echa aja.”
__ADS_1
“Saya juga nggak tahu sih, tapi kayaknya itu anak dari selingkuhan Pak Arya deh. Terus ngebawa anaknya kerumah, tahu nggak Bu. Anaknya itu seumuran sama si Echa loh.”
“Yang benar Bu? Jangan mengada-ada deh, ntar malah jadi fitnah lagi kalo Pak Arya selingkuh. Dia kan setia sama istrinya, sudah terbukti pernikahannya damai saja selama 17 tahun ini.”
“Emang ciri-ciri anak selingkuhannya itu kayak gimana Bu?” sahut yang lainnya. Istri Pak Baba terus mendengarkan perbincangan para ibu-ibu itu. Mau pagi, siang, sore bahkan sampai malam mereka semua terus saja berghibah. Membicarakan rumah tangga orang lain.
Saat ibu-ibu yang pertama kali memulai perbincangan menjawab pertanyaan ibu-ibu lainnya tentang ciri-ciri. Istri Pak Baba terkejut, karena semua yang di sebutkan sangat mirip dengan anaknya, Ara.
Dengan cepat dia mengambil belanjaannya dan langsung menuju rumah. Ingin sekali bercerita pada sang suami, namun dirinya tak berani dan sudah merasa lelah terusan bertengkar. Keesokan harinya istri Pak Baba pergi tanpa berpamitan pada suaminya. Ternyata dia ingin memastikan anak gadis yang di maksud ibu-ibu saat malam tadi.
Andi yang sedang menunggu Biru terkejut saat melihat ibunya Ara tengah celingak-celinguk. Dia pun turun dari motornya lalu nyelonong masuk kedalam rumah. Biru heran dengan tingkah Andi, tak menjelaskan apa-apa, sang sahabat langsung menuntun Biru ke dekat jendela.
“Ngapain Bibi gue kesini?” tanya Biru.
“Baru di cari? Keknya udah beberapa bulan mereka nggak peduli sama anaknya. Kenapa sekarang nyariin?”
“Ya mana gue tahu, coba sana lu keluar. Tanya lagi ngapain. gue nggak berani ah galak tuh emak-emak,” ucap Andi.
Biru menghela napasnya. Sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan Bibinya itu, dengan langkah malas dan terpaksa Biru membuka pintu dan menyapa Bibinya. Sang Bibi melihat kearah Biru, dimatanya dapat terlihat jika wanita itu ingin menanyakan sesuatu padanya, sudah jelas dan bisa ditebak, pasti ingin tahu dimana Biru membawa Ara.
Saat sedang mengobrol, Echa, ayah, ibu dan Ara keluar dari rumah. Putri dan ayah itu berpamitan untuk kerja juga sekolah, namun belum melangkah mata mereka berempat tertuju pada Biru yang tengah bicara dengan seorang wanita dewasa.
__ADS_1
“Ada tamu nak Biru?” tanya ibu Echa. Biru dan Bibinya melihat ke arah suara, betapa terkejutnya Ara saat melihat keberadaan sang ibu. Dia ingin masuk kedalam namun dengan cepat sebuah tangan mencegahnya. Tangan itu milik ibunya, dia memohon pada Ara untuk pulang kerumah.
“Aku nggak mau pulang, bukannya kalian sudah ngusir aku?!” ucap Ara.
“Maafin Ayah, ayo ikut pulang.”
“Nggak!! Aku udah nyaman ada dirumah ini, mereka semua baik, menjaga aku kayak anaknya sendiri. Mau sekeras apapun kalian memaksa aku nggak akan pulang, pasti kalian ada maunya menginginkan aku pulang.”
“Ibu siapa ya?” tanya ibu Echa.
“Saya orang tua dia, jangan ikut campur kamu! Kalian semua pasti sudah mencuci otak anak saya agar tidak mau pulang kan?” jawabnya menuduh keluarga Echa.
Karena Ara yang tidak menurut padanya, tamparan pun melayang di pipi lembut sepupu Biru.
“Mohon jangan membuat kegaduhan di sini, masih pagi tidak enak dengan tetangga,” lerai Ayah Echa. Sedangkan istri dan anaknya membawa Ara masuk kedalam, menenangkan gadis itu. Tamparan yang di layangkan ibunya sendiri membuat pipi Ara merah, ibu Echa merasa sedih seorang anak mendapatkan kekerasan dari orang tuanya sendiri.
“Sudahlah Bi, Ara nggak akan mau pulang. Lagipula Bibi dan Paman sudah mengusirnya dari rumah, tidak mau membuat nama keluarga Bibi jelek kan karena keadaan Ara yang sedang mengandung tanpa seorang Ayah? Kemana aja selama beberapa bulan ini? Bibi dan Paman tidak pernah mencari Ara, dia sudah terlanjur bahagia serta nyaman berada di sini, jangan ganggu Ara lagi, Bi.”
“Pasti ini semua ajaran kamu kan Biru?! Dasar anak wanita ******, Bibi akan tetap membawa Ara pulang, dia anakku.”
“Bibi boleh ngehina atau berkata apapun sama aku, tapi jangan pernah menjelekkan Mama dan menyebutnya seperti itu. Kurang baik apa Mama sama keluarga Bibi? Dia selalu membantumu dan balasan Bibi malah menghinanya.” Biru pergi meninggalkan Bibinya yang masih berdiri di lanjut oleh Ayah Echa yang masuk kedalam. Andi menelan ludahnya saat ibu Ara menatap tajam kearah dirinya.
__ADS_1
Kejadian pagi tadi membuat mood Biru menjadi jelek, wajahnya sedikit menyeramkan daripada hari-hari lain yang masih ada senyum serta tawa. Anak-anak anggotanya pun tidak berani berbicara saat perkumpulan Osis, begitupun dengan Arka dan Nadia. Mereka sama-sama tidak berani mengeluarkan sekecil apapun suara.
Rapat osis telah selesai, Arka menghampiri Andi yang sedang duduk sembari memakan cemilan. Dia menanyakan keadaan Biru, mengapa lelaki nakal itu tidak membuat onar saat datang kesekolah.