
Pencarian terus berjalan sampai pukul 02.00. Namun Biru dan teman-temannya masih belum menemukan keberadaan si bayi. Karena pagi hari harus bersekolah, maka Andi menyarankan sahabatnya itu untuk pulang. Setelah sekolah mereka akan melanjutkan pencariannya kembali.
Sampainya dirumah, ternyata Ara dan keluarga Echa masih terjaga. Tidak ada satupun dari mereka yang tidur karena menunggu kepulangan Biru membawa Nugraha.
Melihat kakaknya pulang, sang adik langsung berlari menghampiri. Di lihatnya tidak ada keberadaan sang anak, Ara mencari dan bertanya kepada Biru dan Andi. Kedua lelaki tersebut menggelengkan kepalanya.
Di sisi lain, Nugraha kini telah berada ditangan seseorang. Dia memberikan senyum liciknya pada si bayi, bergumam dan membayangkan betapa banyaknya uang yang akan dia dapatkan.
Pagi hari tiba, Echa dan Biru bersiap pergi ke sekolah sedangkan Bu Tania dan suaminya akan melapor ke kantor polisi atas penculikan bayi.
Saat disekolah, si ketua osis sangat tidak pokus belajar. Dia terus memikirkan nasib keponakannya yang belum di temui. Si guru yang melihat muridnya bengong menegurnya dan menyuruh pokus akan pelajaran. Biru menghela napas kasar berharap ibu Echa dan polisi dapat menemukan Nugraha.
Pak Baba serta istrinya kini berada ditempat orang yang akan membeli Nugraha. Mata mereka berdua berbinar saat melihat sekoper uang berwarna merah. Tak lama datanglah seorang perempuan cantik, dia mengambil Nugraha dari gendongan istri pak Baba. Menatap gemas pada si bayi dan menyuruh suaminya untuk segera memberikan uang tersebut pada mereka berdua.
Setelah mendapatkan uang keduanya pergi. Berjalan sembari tertawa senang, mereka tak memikirkan perasaan ibu dari si bayi. Hanya mementingkan diri mereka sendiri. Rencana keduanya akan pergi ke luar kota, lari dari kejaran hutang dan menikmati uangnya di tempat baru.
Jam istirahat tiba, Biru sangat tidak sabar menunggu informasi dari Tante Tania. Dia menelpon terus menerus namun handphone mereka tidak ada yang aktif.
“Ra gue bakal temuin Nugraha,” gumam Biru. Dirinya merasa cemas dengan kesehatan sang adik jika anaknya itu tidak ditemukan. Andi, Arka, Nadia dan Echa datang, keempatnya berencana mengajak Biru bolos dari sekolah. Namun ajakan itu di tolak oleh si ketua osis, dia tidak ingin teman-temannya terkena masalah lagi.
“Ya udah deh pulang sekolah aja kita nyarinya,” seru Echa di angguki oleh Biru.
Heru yang tak sengaja mendengar perkataan kelima orang itu terdiam. “Bayi si Ara di culik? Anak gue?”
__ADS_1
••
••
Pak Baba sudah bersiap-siap pergi ke luar kota bersama istrinya. Rencana mereka berdua berjalan lancar tidak ada satu orang pun yang menghalangi pelarian keduanya. Istrinya sangat senang, bisa membuat adik kakak itu sengsara. Di tempat lain, ibu Echa dan suaminya telah melaporkan penculikan Nugraha pada polisi.
Nek Ijah yang sudah tua merasa kerepotan saat mengurus Senja seorang diri. Karena Mama Andi harus pergi bersama Oma kerumah sakit untuk periksa. Sedangkan asisten rumah tangga pergi ke pasar. Papa Andi yang harus balik lagi kerumah melihat itu merasa kasian, dia pun membantu mengurus Senja dan menyuruh nek Ijah beristirahat di sofa.
“Nggak usah repot nak, kamu harus ke kantor. Senja biar saya yang jaga.”
“Tidak apa, lagipula saya bisa meminta sekretaris saya ke sini dan mengurus semuanya.”
“Terima kasih nak, kalian sekeluarga sangat baik pada saya. Entah dengan cara apa nanti membalasnya,” ucap nek Ijah.
Papa Andi menggendong Senja dan mengelus lembut pindah nek Ijah. Lelaki itu sangat telaten merawat si bayi, mengganti popok dan membuatkan susu. Tak lama istrinya dan ibunya pulang.
“Tadi ada berkas yang ketinggalan, terus lihat nek Ijah kelelahan merawat Senja. Ya udah Papa aja yang gantiin.”
“Ouh, sini biar aku aja yang gantiin. Kamu pergi ke kantor, aku antar ibu ke kamar dulu.” Papa Andi mengangguk, istrinya turun kembali mengambil Senja dari gendongan sang suami. Setelah itu dia pun berpamitan kembali bekerja.
Heru mencari keberadaan Sasa, dia ingin rencananya segera di mulai. Lelaki itu sudah tak sabar melihat kesedihan Biru yang bertubi-tubi. Dalam hatinya masih tersimpan dendam saat si ketua osis memukul dirinya tanpa ampun.
Sasa tersenyum melihat Heru yang sangat kesal. Namun dia juga meminta untuk tidak menghajar Biru, cukup buat si ketos bersedih saja. Heru mengangguk malas, sebenarnya dia tidak akan membuat musuhnya itu bersedih saja, akan tetapi menghajarnya sampai masuk rumah sakit juga.
__ADS_1
“Ya udah nanti datang ke tempat yang gue kirimin. Itu semua cukup buat lu bersenang-senang sama si cewek caper. Buat dia merasa malu,” ujar Sasa tersenyum licik.
“Gue suka wanita. Nggak salah ketemu sama lu yang cerdas.”
Selesai berbincang dengan Heru, Sasa berjalan menghampiri Echa yang sedang duduk sendiri sembari memainkan laptop. Dia duduk disamping lalu mengajak Echa pergi. Gadis itu berkata ingin mengenal Echa lebih dekat lagi, dia juga akan mengenalkannya dengan teman-teman dari sekolah lama.
Awalnya Echa akan menolak ajakan itu karena mau ikut mencari Nugraha dan menjaga Ara. Tapi Sasa memasang wajah memelas dan memohon membuat Echa tidak enak menolaknya.
Senyuman licik sekali lagi terpancar dari wajah Sasa. Dia merogoh handphonenya dan mengirimkan pesan pada Heru jika dia berhasil mengajak Echa pergi.
Biru dan ketiga temannya masuk kedalam kelas, melihat Echa yang sedikit akrab dengan Sasa merasa heran.
“Gue kenapa nggak suka ya sama tuh cewek,” bisik Nadia pada Andi.
“Mungkin kalah cantik,” jawabnya.
Nadia memukul Andi dengan keras, padahal dirinya sedang berkata serius namun teman cowoknya itu malah bercanda. Biru duduk disamping Echa membuat Sasa pergi dari sana. Dia menanyakan sedang membicarakan apa sang pacar dengan perempuan tersebut. Echa menjelaskan jika dirinya baru saja akan di ajak pergi, mereka berempat pun mengerutkan kening.
“Kalo gue boleh saran sih lu jangan pergi Ca,” ujar Nadia.
“Gue setuju sama si Nadia,” seru Andi.
“Tapi aku udah bilang iya. Nggak enak juga nolak ajakannya. Sasa kan murid baru dan belum dapat teman,” jawab Echa melirik ke arah Biru.
__ADS_1
“Terserah kamu Ca, tapi kalo ada apa-apa langsung telpon. Sebenarnya aku setuju sama perkataan Nadia,” ucap Biru.
Echa mengangguk, lalu bel masuk berbunyi. Para siswa mulai bermasukan kedalam kelas. Tak terasa waktu pun berjalan cepat. Sasa sudah menunggu Echa, ternyata di sana banyak teman-teman dari sekolah lama Sasa. Echa di sambut baik oleh mereka semua dan tidak ada yang mencurigakan sama sekali membuat Echa tak curiga lagi. Dia mengirimkan pesan kepada Biru bahwa dirinya baik-baik saja.