BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 42


__ADS_3

Di sekolah, benar saja Arka dan Nadia menanyakan keberadaan Biru serta Andi yang tak masuk pada teman-teman yang lain. Mereka sedikit kesal karena tidak diajak bolos oleh dua orang itu. Echa yang sadar Biru tak masuk juga terus memperhatikan kursinya. Sebenarnya dia ingin menceritakan perihal semalam.


Nadia menghampiri kursi Echa, dia bertanya kemana si ketos pergi. Namun, yang menjawab pertanyaan itu malah Bara, cowok yang akhir-akhir ini berada disamping Echa.


“Echa udah nggak ada urusan lagi sama Biru, kalo mau tanya keberadaan si ketua osis kenapa nggak lu telpon aja,” ujar Bara.


“Lu siapa sih? Ikut campur urusan orang, ngapain juga lu di samping Echa terus?”


“Gue tunangannya, kenapa? Kaget lu!”


Nadia menelan ludah tak percaya akan ucapan Bara barusan. Bagaimana bisa Echa bertunangan disaat dirinya masih menjadi kekasih Biru, sang sahabat. Nadia melirik Echa, memandangnya intens, gadis itu seperti meminta jawaban yang benar. Suara dering telpon terdengar, Arka merogoh sakunya mengambil handphone. Tertera nama Andi di sana dengan cepat Arka mengangkat telpon tersebut.


“Kampret lu! Bolos kagak ngajak-ngajak,” omel Arka dari balik telpon. Sedangkan Andi menjauhkan handphonenya dari telinga, malas mendengar omelan dari Arka.


“Bolos mau ngikut lu mah, gimana sih! Nggak baik Ka bolos terus, udah sana belajar. Oh iya nanti pulang sekolah datang ke kedai Biru ya,” jawabnya.


“Nggik biik Ki bilis tiris, halah! Gue tabok lu nanti, bosen nggak ada lu berdua, ege!”


Belum kelar Arka bicara telpon sudah terlebih dulu dimatikan oleh Andi. Setelah itu Arka mengajak Nadia pergi dari kelas. Echa yang masih duduk bersebelahan dengan Bara menghela napasnya dan mulai berbicara empat mata. Gadis itu berkata jika dirinya masih mencintai Biru, menerima Bara karena keputusan orang tuanya.


“Gue tahu kok Ca.”


“Kalo kamu tahu, bisakah batalkan tunangan ini Bara?”

__ADS_1


“Nggak bisa Ca,” ucapnya datar.


“Kenapa?”


Bara tidak menjawabnya dia memilih pergi meninggalkan Echa yang masih terdiam duduk menunggu jawaban teman kecilnya. Biru dan Andi memutuskan pulang kerumah untuk menceritakan semuanya kepada Ara perihal Nugraha. Entah apa reaksi adiknya saat tahu sang paman lah dalang dari penculikan anaknya, sampai dijual dan kini dibawa pergi ke luar negeri oleh keluarga angkatnya. Sesampainya dirumah, terlihat Tante Tania dan Ara sedang duduk santai berdua di teras. Sebelum masuk pagar Biru menghela napasnya.


“Kak Biru,” panggil Ara.


Andi menganggukkan kepalanya mengajak sang sahabat untuk memasuki pagar rumah Echa. Dia benar-benar tak ingin adiknya tahu tentang semua yang terjadi. Biru duduk disamping Ara, dia mulai menceritakan semuanya, gadis disebelah hanya diam tak mengeluarkan suara. Tanpa sadar dia mulai menitikkan air mata, lalu beranjak dari duduknya.


“Percuma, Ra. Mereka berdua udah jual Nugraha ke orang lain. Dan orang itu udah pergi ke luar negeri, kita berdoa aja semoga Nugraha dijaga oleh orang yang baik,” ujar Biru menenangkan adiknya.


“Kenapa mereka jahat banget sih kak? Sampai-sampai menjual anak gue!”


“Sabar nak Ara, benar kata Biru. Kita do'akan saja Nugraha supaya mendapatkan orang tua yang baik juga sayang sama dia. Suatu saat nanti tuhan akan mempertemukan kembali kamu dan anakmu,” ucap ibu Echa. Biru memeluk adiknya dengan erat, lelaki itu mencoba menahan air matanya untuk tidak keluar. Sedangkan Andi mengelus lembut punggung sang sahabat.


Siang berganti sore. Arka dan para siswa lain tengah bersiap untuk pulang. Setelah menunggu bel beberapa menit, semua murid akhirnya membubarkan diri dari kelasnya masing-masing. Di parkiran, dua sahabat Biru itu melihat Echa dan Bara. Nadia menyunggingkan bibirnya tak suka melihat kedekatan mereka berdua. Bukan karena tak ada alasan, Echa masih menjadi kekasih sahabatnya.


“Tuh bibir! Udah biarin,” ucap Arka mencomot bibir Nadia yang manyun.


“Nggak nyangka aja sama si Echa. Bisa-bisanya dia..., aish! Dah lah ayo kita ke si Biru.”


Tak lama kemudian keduanya sampai di kedai milik Biru. Namun, mereka tak menemukan kedua sahabatnya, hanya ada anak-anak motor saja. Arka merogoh sakunya mengambil ponsel untuk menelpon Andi, orang yang memintanya datang. Beberapa menit dia menunggu akhirnya Biru dan Andi terlihat. Ternyata mereka semua ingin membahas tentang pembukaan kedai baru milik ketua mereka.

__ADS_1


Wajah Nadia terlihat senang mendengar penuturan Biru. Usahanya untuk memperbanyak cabang akhirnya terwujud, dia merasa bangga akan kerja keras dan gigihnya sang sahabat. Di balik suksesnya Biru, ada orang-orang hebat yang membantu dan mendukung, yaitu para sahabat, adik dan keluarga Echa. Kini dia telah menjadi pemuda sukses diusianya yang masih remaja, sisa temannya pun dia rekrut menjadi pelayan di kedai Baru. Itu semua Biru lakukan agar mereka semua mempunyai kesibukan dan tidak balapan liar lagi.


“Eh gimana ini, kita datang ke acara ulang tahunnya si manusia brengsek itu?” tanya Nadia.


“Gue sebenarnya malas sih. Tapi karena diundang ya harus datang,” sahut Andi.


“Benar kata Andi, seenggaknya kita datang. Kalo nggak mau berlama-lama kita langsung pulang,” ujar Arka.


“Yang penting kita berempat udah setor muka ke dia,” sambung Biru.


Ditempat lain, Heru dan Sasa tengah berbincang berdua. Entah apa yang mereka rencanakan dihari ulang tahun nanti. Laki-laki itu juga menceritakan kejengkelannya terhadap Ara dan Biru, begitu juga dengan Sasa. Kini dia sudah tak peduli lagi orang-orang menganggapnya apa, kedua orang tua mereka berdua pun sudah pasrah akan sifat anak-anaknya.


Sasa hidup dengan bebas tanpa adanya aturan dari keluarga. Sedangkan kedua orang tua dan neneknya merasa malu akan perbuatan Sasa. Para tetangga sering membicarakan hal buruk tentang keluarga mereka. Mama Heru yang mulai lelah akan sifat anaknya juga ikut pasrah. Dia menyerahkan anaknya pada sang suami, tapi sayang suaminya tidak mau merawat anaknya. Dia sudah bahagia hidup dengan istri baru dan kedua anak lainnya.


Pantas saja kedua orang licik tersebut seperti itu, ternyata mereka kurang akan kasih sayang orang tua. Setelah tumbuh malah menjadi orang yang tidak dapat diatur dan bertindak sesuka hatinya.


“Gue udah sewa orang, Sa. Dia profesional jadi aman nggak bakal ada orang yang tahu,” ujar Heru tersenyum.


“Lu yakin? Kalo orang sewaan lu ketangkap terus jujur kita yang nyuruh gimana?”


“Percaya sama gue. Nanti pas acara ulang tahun kita lihat siapa yang akan tumbang, Biru, Ara atau Echa.”


“Jangan sampe salah orang, nanti malah kena teman-temannya lagi,” ucap Sasa.

__ADS_1


“Bagus dong, kalo bisa sih semuanya. Gue muak dan benci sama geng mereka yang selalu ikut campur urusan gue.”


__ADS_2