BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 27


__ADS_3

Bel masuk telah berbunyi, Biru dan Echa pergi kelas. Mereka mengikuti pelajaran terakhir dengan damai tanpa ada seorang murid pun yang berbuat onar. Sampai waktu pulang tiba, Biru meminta Andi untuk mengantarkan Echa pulang kerumahnya karena dia akan langsung pergi ke kedai. Di sana Biru akan membuat cakenya langsung tidak lagi dirumah. Itu semua agar tidak merepotkan orang-orang dirumah Echa. Sore sampai malam kedai Biru selalu saja ramai oleh anak-anak muda seumurannya. Mereka datang bukan hanya untuk membeli akan tetapi melihat ketampanan si penjual.


Biru tak menghiraukan setiap godaan dari pada gadis padanya. Dia hanya fokus melayani pembelinya, kadang dengan raut wajah datar kadang juga sembari tersenyum ramah. Saat itu Galang dan anak geng motornya mampir di kedai Biru, namun dia tidak membuat onar di sana melainkan untuk memesan satu cake bulat. Biru pun melayaninya dengan baik, membantu rivalnya memilih cake yang bagus karena akan diberikan kepada sang kekasih.


Setelah selesai Galang pergi bersama temannya. Dia mengucapkan terima kasih kepada Biru sembari mengacungkan jari tengahnya. Awalnya si ketos senang karena Galang tidak rusuh, tapi setelah rivalnya mengacungkan jari tengah Biru melemparkan sepatunya. Bukannya marah Galang justru tertawa renyah melihat musuhnya kesal akan tingkah dia.


Malam semakin larut, Lampu rumah samping masih gelap, itu menandakan jika Biru belum pulang juga kerumah. Ara yang kewalahan mengurus anaknya yang selalu menangis ingin meminta sang kakak untuk mengantarkan kerumah sakit. Sebab Ara merasa jika Nugraha sedang demam, dirumah saat itu sedang tidak ada siapapun. Echa dan ibunya pergi dan pak Rangga belum pulang dari kantor.


“Gue harus gimana ini? Biru lu kapan pulang, gue butuh lu,” gumam Ara menenangkan bayinya.


Dengan terpaksa Ara pun pergi seorang diri. Dia berjalan kaki membawa Nugraha mencari angkutan umum dimalam hari. Tanpa dirinya sadari, dua orang lelaki tengah mengikutinya dari belakang.


Ara merasakan tidak enak dalam hatinya. Dia melirik kanan-kiri memastikan perasaannya itu salah. Tak lama dirinya sampai di salah satu rumah sakit.


Tidak butuh waktu lama Ara kembali keluar. Mencari lagu angkutan untuk dirinya pulang. Saat sedang berjalan sembari memperhatikan wajah anaknya, tiba-tiba saja satu lelaki mendekat. “Mbak boleh saya pinjam ponselnya?” ujar si lelaki.


“Eh mau apa ya mas?” tanya Ara.


“Saya mau menelpon istri saya kalo pulang telat, handphone milik saya mati, boleh kan?”


Ara terdiam, ada perasaan ragu dalam hatinya untuk berbincang lebih lama lagi dengan lelaki didepannya itu. Karena tak ingin berlama-lama maka Ara memberikan ponselnya. Tak lama si lelaki mengembalikannya, saat Ara akan memasuki ponselnya ke saku lelaki itu mencoba merebut Nugraha dari gendongan ibunya. Awalnya Ara masih berhasil mempertahankan bayinya, namun lama kelamaan datang satu lelaki lagi. Perkiraan Ara lelaki yang datang itu akan menolongnya, akan tetapi malah membantu orang yang merebut Nugraha.

__ADS_1


Tidak ada satupun kendaraan atau orang yang melintas disekitar jalan. Membuat Ara semakin ketakutan, dia mencoba berteriak tapi mulutnya di bekal oleh si lelaki. Bekapan itu membuat Ara tak sadarkan diri, hal tersebut memudahkan mereka berdua mengambil di bayi. Setelah berhasil keduanya pergi begitu saja tanpa memperdulikan keadaan Ara yang tergeletak di pinggir jalan.


“Bos pasti senang kita berhasil mengambil bayi ini,” ujarnya.


“Sudah pasti itu. Kita juga akan mendapatkan imbalan yang lebih besar dari bos.”


Sebuah motor melintas di sekitar Ara tak sadarkan diri. Itu adalah Galang, lelaki tersebut menghentikan motornya. Melihat siapa yang sedang tergeletak itu. Di lihatnya dengan teliti ternyata Ara sepupu Biru. Awalnya Galang ingin pergi, dia berusaha untuk tidak peduli. Namun entah bagaimana hatinya meminta dia untuk membantu Ara.


“Kemana gue harus antar nih cewek?” pikirnya. Mengingat kedai Biru maka Galang pun langsung mengantarnya ke sana.


Melihat rivalnya datang kembali, Biru segera menghampirinya. Hal yang membuatnya salah fokus adalah saat melihat adiknya bersama sang musuh. Tanpa bertanya terlebih dulu Biru langsung melayangkan pukulan.


“Lu apain adik gue?” ucap Biru kesal dan dengan nada keras.


“Nggak usah alesan lu!”


“Okay fine! Kalo lu nggak percaya bisa tanya sama nih cewek jika sadar nanti.” Tak lama Ara sadar dari pingsannya. Dia langsung teriak histeris memanggil nama Nugraha anaknya. Biru mencoba menenangkan adiknya dan pelan-pelan bertanya.


Galang yang penasaran pun tidak jadi pergi. Cowok itu malah ikut duduk disamping Biru mendengarkan perkataan Ara yang bicaranya terbata-bata.


“N—nugraha di culik kak,” ujar Ara menangis.

__ADS_1


“Kok bisa? Darimana emangnya lu? Malam-malam gini pergi keluar tanpa ditemani Tante Tania dan Echa.”


“Mereka pergi, gue juga udah coba buat hubungi lu tapi handphonenya nggak pernah aktif. Sebenarnya gue abis dari rumah sakit sebab Nugraha demam tinggi.” Biru melihat ponselnya yang ternyata mati. Dia terlalu sibuk akan jualannya sampai lupa untuk men-charge. Sang kakak memeluk adiknya mencoba menenangkan. Galang hanya mengernyitkan dahi setelah tahu jika Ara adalah adiknya dan bahkan telah memiliki anak. Setahunya gadis di samping itu adalah sepupu sang musuh dan masih bersekolah.


“Lang, lu lihat orang mencurigakan sebelum nemuin adek gue?”


“Gue nggak tahu.”


Biru menghela napasnya, meminjam ponsel Ara untuk menghubungi Andi dan anak motor lainnya. Dia meminta bantuan dari teman-teman mencari keberadaan Nugraha. Setelah selesai menelpon, Biru sekali lagi meminta bantuan kepada Galang mengantarkan Ara kerumah Echa.


“Ugh! Kali ini aja gue bantuin lu,” ujar Galang menghela napas. Didalam hatinya ada sedikit rasa kasian saat tahu anak Ara di culik seseorang. Dia merasakan betapa khawatirnya seorang ibu akan sang anak. Sebab dulu dirinya pun pernah hilang saat bermain dengan Mamanya.


“Thanks Lang, Ra lu balik sama dia ya. Gue bakal cari Nugraha sampai ketemu sama anak-anak yang lain.”


Ara mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Mengikuti langkah Galang menuju motor. Pukul 23:00, semua geng Biru telah berkumpul ditempat yang sudah Andi katakan. Mereka hanya menunggu kedatang sang ketua, tak lama orang yang di tunggu pun hadir. Tanpa basa-basi mereka semua langsung berpencar, sebelum itu Biru mengirimkan sebuah poto Nugraha kepada teman-temannya agar memudahkan mereka.


Andi yang mencari bersama Biru pun bertanya. Bagaimana kejadian yang sebenarnya sampai bisa seseorang menculik Nugraha. Biru menjelaskan semuanya, dia merasa menyesal saat adiknya itu mencoba menghubungi namun dia tidak tahu.


“Bukan salah lu, kita cari kemana lagi nih? Btw ciri-ciri orang yang nyuliknya gimana?”


“Katanya sih dua orang, yang satu pakai baju coklat dengan jaket kulit hitam, satunya lagi pakai kaos warna abu.”

__ADS_1


“Semoga aja Nugraha nggak kenapa-kenapa, gue khawatir,” seru Andi.


__ADS_2