
Semuanya tertawa akan perkataan ibu Echa. Suasana malam ini terasa berbeda membuat hati Biru bahagia. Ditambah dirinya yang sudah sangat dekat dengan Echa, ingin mengutarakan perasaannya namun masih belum siap akan jawaban dari gadis yang di cintainya. Biru menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan cinta pada si penulis novel.
Keesokan harinya sesuai rencana. Biru dan ibu Echa tengah bersiap-siap membuat cake, nampak keduanya seperti anak dan ibu, senyuman manis terpancar dari wajah tampan Biru. Echa dan Ara memperhatikan itu dari ruang tengah, Kini dua gadis tersebut sudah seperti saudara, apa-apa selalu bersama. 2 jam berlalu, Echa kaget saat melihat keadaan dapur yang sudah seperti kapal pecah, 1 jam untuk ibu Echa mengajarkan dan 1 jam lagi untuk Biru mempraktikkan nya sendiri.
Tak hanya Echa, tetapi Andi, Ara dan pemilik rumah ikut terkejut melihat keadaan dapur. Biru hanya menatap ketiganya sembari cengengesan.
“Sudah selesai nak Biru?” tanya ibu Echa.
“Iya Tante, cobain deh buatan aku sendiri. Koreksi apa saja yang kurang,” ucap Biru menyodorkan cake buatannya. Dari luar memang nampak cantik dan menggiurkan, namun tidak tahu dengan rasanya. Echa memuji hiasan buatan Biru yang ada di cake, tenyata selain berandal lelaki nakal itu juga pandai dalam menghias serta pintar.
“Wah rasanya enak nak, cepat juga ya kamu belajarnya. Walau keadaan dapur jadi kapal pecah begini, Tante salut sama kamu, cepat bisanya.”
“Seriusan Tan cakenya enak? Ah jangan-jangan Tante bohong lagi, pura-pura bilang enak biar aku nggak kecewa.”
“Lah ngapain Tante bohong, coba aja kamu suruh mereka bertiga cobain cakenya.” Echa, Andi dan Ara maju mengambil potongan cake yang Biru buat. Ketiganya memakan cake tersebut bersamaan, wajah Andi terlihat berbeda, lalu dia bertepuk tangan memuji Biru. Sedangkan lelaki yang di puji terlihat salah tingkah.
Karena tidak membutuhkan waktu lama untuk dia belajar membuat cake, maka mulai Minggu depan Biru akan langsung menyiapkan semuanya. Dia memulai usaha kecilnya seorang diri, agar tidak terus-menerus merepotkan keluarga Echa. Biru juga akan membayar uang sewa rumah secepatnya, dirinya merasa tidak enak sudah menunggak beberapa bulan.
1 Minggu kemudian, hari dimana si ketua osis nakal merintis usahanya. Andi, dan Ara berniat ingin membantu namun di tolak oleh Biru. Dia tidak ingin menyusahkan sepupu juga sahabatnya. Hari pertama dagangan Biru ramai dan bahkan meminta Echa untuk datang membawakan cake yang sudah di simpannya di kulkas. Echa melihat kanan kiri betapa ramainya kedai Biru yang baru itu, kebanyakan yang berada di sana adalah kaum hawa. Mungkin karena si penjual memiliki wajah tampan maka mereka semua tertarik untuk berkunjung.
Echa sampai tak bisa masuk melewati kerumunan orang-orang yang mengantri bagiannya. Biru yang melihat kedatangan Echa langsung menghampiri, membawanya masuk. Dari kejauhan nampak pula Paris serta teman-temannya yang memperhatikan Biru. Lelaki nakal yang kini menjadi rival si ketos ingin menghancurkan usaha tersebut. Dia masih tidak terima akan semua yang telah Biru lakukan padanya.
__ADS_1
“Lu yakin mau nyari masalah lagi sama tuh ketos?” tanya temannya.
“Ya, gue nggak terima dia mempermalukan gue di depan para murid. Ngejadiin gue babu dia!”
“Tapi kan Ris itu semua kesepakatan lu sama dia waktu itu.”
“Nggak usah banyak bacot deh, kali lu masih mau berteman sama gue dan yang lainnya. Mending ikutin apa yang gue suruh, jangan banyak protes.”
“Iya sorry.”
Entah apa yang Paris dan temannya rencanakan untuk menghancurkan usaha Biru. Mereka semua tersenyum licik. Di tempat lain, Andi sedang menemani Ara, keduanya asik berbincang di halaman rumah Echa. Tak di duga gadis yang tengah mengandung itu merasakan sakit pada perutnya. Andi panik lalu memanggil ibu Echa di dalam. Biru yang masih sibuk tak sempat memegang ponsel begitupun dengan Echa. Dua remaja tersebut terus menerus melayani pembeli.
Andi dan ibu Echa telah sampai di rumah sakit. Setelah diperiksa Ara pun keluar bersama sang dokter, raut wajah Andi terlihat khawatir takut terjadi sesuatu pada sepupu sahabatnya itu.
“Iya Bu, oh iya Pak. Mohon di jaga istrinya,” ujar Dokter pada Andi.
Andi melototkan matanya tak percaya, ibu Echa hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Baik saya akan jaga istri saya Dok, mari.” Kali ini Ara yang melototkan matanya saat mendengar jawaban Andi pada Dokter.
Tak lama mereka bertiga telah sampai dirumah. Ara di titah untuk istirahat oleh ibu Echa, dan Andi memutuskan pulang kerumahnya. Baru saja memasuki gerbang rumah, Oma sudah menunggu kepulangan Andi, nenek-nenek itu meminta cucunya untuk mengantarkan dia berkeliling komplek. Merasa bosan saat terus berada dirumah yang hanya ditemani oleh para ART.
“Oma, please! Andi baru pulang, istirahat dulu lah.”
__ADS_1
“Salah siapa main terus, ayo cepat Oma tunggu.”
“Okey okey,” jawabnya pasrah.
Di perjalanan nenek dan cucu itu tak sengaja melihat Biru juga Echa yang tengah sibuk melayani pembeli. Oma pun meminta Andi untuk mampir terlebih dahulu di sana. Mereka sampai namun belum sempat bersapa dengan pemilik kedai karena suasana yang begitu ramai. Setelah menunggu beberapa menit, keadaan mulai sepi, dagangan Biru juga sudah hampir habis. Baru lah mereka berdua menyapanya.
“Oma lagi apa di sini?” tanya Biru sopan sembari mencium punggung tangan Oma Andi.
“Oma hanya jalan jalan aja terus nggak sengaja lihat kamu di sini, jadinya Oma mampir deh.”
“Ngomong-ngomong gadis ini kekasih kamu?” sambung Oma. Biru tersenyum menjelaskan jika Echa hanya temannya saja tidak lebih, dia membantu dirinya berjualan cake karena kewalahan.
“Kirain pacar kamu, cantik, siapa namanya?”
“Echa Nek.”
“Panggil Oma aja,” ujarnya. Echa mengangguk sambil memberikan senyum.
Biru berjalan kembali menuju kedainya mengambil beberapa potong cake yang masih tersisa lalu menyuguhkan cake tersebut pada Oma juga Andi. Cake itu terlihat sangat menggoda, hiasan cantik serta aesthetic membuat siapa saja ingin langsung melahapnya, namun sayang juga untuk dimakan karena hiasannya itu. Oma merasa bingung ingin dimakan atau terus dia lihatin. Andi mengerutkan kening melihat Omanya yang kebingungan. Tanpa ba-bi-bu tangan nakal itu menyerobot cake yang masih Omanya perhatikan. Sontak saja tangannya di pukul Oma.
“Dasar kamu ya! Ini kan buat Oma, kalo kamu mau beli sana sama Biru.”
__ADS_1
“Biru kan ngasihnya ke kita berdua Oma, iya kan Biru?” ujar Andi cemberut.
“Gue ngasih buat Oma, ege! Kalo lu mau sesuai kata Oma, harus beli. Enak aja gratis.”