
...Happy reading all...
Nek Ijah pun menurut setelah di bujuk beberapa kali oleh Mamanya Andi. Esok pagi mereka akan mencari keberadaan Tita.
“Andi kamu sudah pulang? Bolos lagi kan sekolahnya, tadi wali kelas kamu telpon Mama.”
“Iya, Andi ada urusan. Siapa nenek itu?” jawabnya datar.
“Dia nenek yang sedang nyari cucunya.”
“Ouh, ya udah Andi ke kamar dulu. Oh iya Oma, ada salam dari Biru.”
Andi melangkahkan kakinya menuju kamar. Di dalam lelaki itu merebahkan tubuhnya di kasur yang sangat empuk. Ingin meminta maaf pada sang Mama atas sikapnya selama ini, namun dia merasa canggung. Hanya kepada Omanya saja dia berani mengatakan sebuah kata sayang, tidak pada kedua orang tuanya. Setiap ingin berkata seperti itu dia selalu merasa malu.
Tak lama matanya mulai terpejam. Pintu kamar terbuka lalu masuklah Mamanya. Mengelus rambut sang anak dengan lembut sembari meminta maaf dan tanpa di sadari air mata mulai menitik.
“Maafin Mama ya Ndi, belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu. Mulai sekarang Mama akan mengurus kamu dan Mama juga sudah berhenti bekerja,” ucapnya pelan.
Dirumah sakit, Ara sendirian. Echa dan kedua orang tuanya pamit pulang dahulu sedangkan Biru pergi ke kantin untuk membeli makan. Di saat Ara sedang bermain dengan anaknya tiba-tiba saja orang yang tidak dia kenal datang. Meminta Ara untuk memberikan anaknya, jelas saja permintaan itu dia tolak. Satu pria melangkah maju mendekat ke samping Ara sembari mengancam.
Biru yang baru kembali melihat pintu ruangan adiknya yang tidak tertutup rapat. Awalnya dia mengira jika Echa sudah datang kembali. Namun, setelah dekat dengan pintu betapa terkejutnya melihat dua orang yang tidak di kenal berada di dalam. Biru langsung masuk dan menanyakan siapa keduanya. Bukannya menjawab salah satu dari mereka malah memukul perut Biru dan mengajak temannya untuk pergi.
“Sialan! Mereka siapa Ra? Lu nggak papa kan?”
“Gue nggak papa, kayaknya mereka mau ambil anak gue.”
__ADS_1
“Mau ambil anak lu? Buat apa coba?” seru Biru heran. Siapa orang yang menginginkan bayi Ara sampai menyuruh dua orang lelaki tersebut untuk mengambilnya.
Ara menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Dia memeluk anaknya dengan erat.
“Ya udah nih minuman yang lu minta. Btw Echa belum datang?”
Ara tersenyum, dia tahu jika Biru juga menyukai Echa namun enggan untuk bicara.
“Nggak usah senyum kek gitu. Oh iya karena gue kakak lu jadi harus hormat, nggak boleh bilang lu-gue lagi. Gue lebih tua satu tahun,” ujarnya.
“Idih, gue nggak nyangka aja akhirnya semua terungkap. Gue bersyukur punya Abang kayak lu, maafin gue ya,” ucapnya menundukkan kepala. “Gue cewek bodoh, bisa-bisanya tergoda sama cowok yang kek Heru. Sampai gue punya anak sekarang, pasti lu malu kan punya adek kayak gue.”
Biru mendekat dan memeluk Ara. Berkata jika dirinya tidak pernah malu mempunyai adik seperti dia. Selama berada dirumah pamannya pun di saat Ara memperlakukannya seperti babu, Biru sama sekali menyimpan dendam. Dia hanya sedikit kesal sebab selalu di suruh mengerjakan tugas sekolah sedangkan dirinya saja sibuk.
“Eh Tante, Om, Ca. Maaf ya ngerepotin kalian lagi, padahal Biru bisa jaga Ara sendiri di sini.”
“Nggak papa nak Biru.”
Suara dering telepon terdengar, Biru mengambil handphone dari saku celananya. Melihat siapa yang menelponnya, ternyata itu Nadia. Biru pamit keluar untuk mengangkat telpon tersebut. Dari sambungan telpon terdengar suara Nadia yang ketakutan.
Gadis memberitahu si ketos bahwa dirinya bersama Arka sedang di kepung dan di kejar oleh segerombolan geng motor. Biru menduga jika itu adalah Galang dan teman-temannya yang dendam pada dia. Segera saja Biru berpamitan pada orang yang berada di dalam.
Tak berapa lama dia sampai di tempat yang telah Nadia kirimkan. Benar saja dugaannya, Galang dan teman-temannya lah yang mengepung kedua sahabatnya. Suara berisik motor membuat beberapa ibu-ibu keluar, mengambil sapu dan barang lainnya untuk mengusir anak-anak berandal tersebut.
Biru yang baru saja datang harus kembali pergi menghindar dari amukan ibu-ibu. Sayangnya dia berpisah dengan Nadia, gadis tomboy tersebut harus sendirian melarikan diri. “Arka, Biru lu berdua kenapa pisah? Cepet jemput gue, di sini gelap.”
__ADS_1
Arka menyadari jika kekasihnya itu tidak bersama dengannya. Dia meminta Biru untuk berputar balik mencari Nadia. “Ayo, gue takut Nadia kenapa-kenapa. Apalagi dia takut sama kegelapan,” ujar Arka.
“Ya udah cepetan. Sebelum si Galang sama geng nya datang.” Biru dan Arka menyalakan motornya. Di sisi lain, Nadia tengah berjalan seorang diri. Dari kejauhan terdengar suara motor, dia beranggapan jika motor itu suara dari Biru dan kekasihnya. Namun, nyatanya yang datang malah Galang. Nadia menelan ludahnya saat melihat beberapa laki-laki tersenyum padanya. Perlahan mundur lalu melarikan diri menghindari orang-orang tersebut.
“KEJAARR,” seru Galang pada teman-temannya.
Nadia menarik napas, dia berharap Arka segera menemukannya karena sudah merasa lelah terus menerus melarikan diri. Sebuah mobil melintas lalu di berhentikan oleh Nadia untuk menumpang. Dia cepat-cepat meminta si pria dalam mobil untuk menyalakan kendaraannya.
“Memangnya kenapa dan ada apa? Sepertinya kamu kelelahan,” ucap si lelaki. Matanya tak henti melirik Nadia dari kaca.
“Saya di kejar-kejar sama geng motor, maaf merepotkan. Tolong nanti berhenti di depan sana,” jawab Nadia merasa risih. Dia menyadari lelaki di sampingnya tersenyum nakal.
“Nggak mau saya antar pulang sekalian, gimana kalo nanti ketemu lagi sama geng motor itu,” tawarnya. Nadia menggeleng menolak tawaran tersebut. Dia beralasan sudah menelpon sang kekasih untuk menjemput. Si lelaki pun hanya diam dan menanggapi dengan senyuman.
“Makasih ya,” ucap Nadia.
Lelaki itu melakukan kembali mobilnya. “Cukup cantik dan menggoda. Gue nggak akan biarin tuh cewek lepas.”
10 menit kemudian Arka dan Biru datang ke tempat Nadia. Gadis itu langsung berhambur ke pelukan sang kekasih. Dia juga menceritakan tentang lelaki yang dia tumpangi mobilnya. “Sekarang udah aman, pulang yuk. Btw makasih Biru udah mau datang. Niatnya sih kita mau lihat si Ara kerumah sakit eh malah di hadang sama gengnya si Galang.”
“Iya, kalo mau lihat adek gue mending besok aja pulang sekolah.” Perkataan Biru membuat kedua sahabatnya mengerutkan kening. “Adek?” ujar keduanya.
“Oh iya lupa. Ternyata si Ara adek gue bukan sepupu. Semuanya udah di ceritakan sama bibi gue, ya udah lu berdua hati-hati baliknya.”
“Thanks ya sekali lagi. Besok pulang sekolah kita jenguk adek lu,” ujar Arka menaiki motornya.
__ADS_1