
...Happy reading all...
Di malam hari, Biru tak keluar dari rumah. Dia malas saat melihat Bara dan Echa yang sedang mengobrol di teras depan. Dirinya hanya bisa memandang kebersamaan kedua orang tersebut, tanpa berani mengganggu. Jika Echa bukanlah jodohnya Biru ikhlas, dia rela asalkan cinta pertamanya itu bahagia maka dia pun akan ikut bahagia.
Suara motor terdengar, ternyata Andi yang datang kerumahnya. Cowok itu masih mengejar cinta Ara, dia tak pernah lelah walau adik sahabatnya tak merespon. Melihat perjuangan Andi yang begitu besar untuk Ara, Biru sangat setuju dan mendukung sang sahabat, akan tetapi semua itu kembali pada pilihan adiknya.
Dia sendiri sudah menganggap Andi sebagai saudara, banyak kebaikan yang telah sahabatnya berikan pada dia dan sang adik.
“Bi, kalo gue pikir-pikir lagi mendingan kita nggak usah deh datang ke acara si Heru,” ujar Andi membuka pembicaraan.
“Kenapa?”
“Nggak papa sih. Cuman gue ragu aja buat datang ke sana. Tapi kalo lu sama yang lain datang gue juga ikut,” jawabnya.
Obrolan mereka terus berlanjut sampai malam semakin larut. Biru mengambil buku yang baru saja dia beli lalu memberikannya kepada Andi. Buku itu tentang cara meluluhkan hati seorang perempuan yang sudah mati rasa akan seorang lelaki. Andi tertawa karena diberi buku tersebut, padahal dia bisa dengan caranya sendiri untuk membuat Ara menerima cintanya.
“Lu sendiri gimana? Move on, Bi. Masih banyak cewek yang lebih baik dari Echa.”
“Entahlah. Gue nggak peduli lagi sama yang namanya cinta, pokus usaha aja, mengejar cita-cita. Oh iya Senja gimana kabarnya?”
“Baik kok. Cuman nek Ijah aja yang kondisinya memburuk, mungkin faktor umur kali ya. Kadang gue nggak tega kalo lihat dia terbaring lemah dirumah sakit.”
Andi mencurahkan perasaannya tentang nek Ijah dan Senja. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan terus menjaga anak kecil itu sampai dia dewasa. Dia juga meminta Biru untuk menggantikan tugasnya menjaga Senja jika suatu saat umur dia lebih dulu diambil tuhan. Entah apa yang dia pikirkan sampai berbicara demikian. Biru memukul mulut Andi karena ucapannya yang seperti itu.
Andi sendiri malah tertawa renyah. “Impian gue nggak ada lagi selain buat Senja bahagia. Dia udah gue anggap sebagai adik kandung sendiri, gue terlalu sayang sama dia.”
__ADS_1
“Tapi nggak gitu juga, Ndi. Lu kalo ngomong sembarangan! Gue berharap sih kita berempat, lu, Arka dan Nadia sukses bareng.”
Suasana hening, keduanya tak bersuara lagi. Tak lama suara ketukan pintu terdengar, karena sudah larut malam keduanya saling memandang. Andi menelan ludah meminta Biru untuk membukakan pintu. Namun, si ketos menggelengkan kepalanya tak mau. Mereka berdua takut jika orang yang mengetuk itu bukanlah manusia apalagi jam telah menunjukkan pukul 01.00.
Karena penasaran mereka pun berjalan berdampingan mengintip lewat jendela. Setelah tirai dibuka sedikit, terlihat seorang perempuan dengan rambut panjang tergerai.
Perempuan itu melirik kearah keduanya. Andi dan Biru bergidik ngeri, saat mereka melihat lagi perempuan tadi sudah ada dihadapannya.
“AAAAAA...”
“S-setan Ndi setan,” ujar Biru menutup matanya. Begitupun dengan Andi, cowok itu terus menggenggam tangan sahabatnya dengan erat. Sedangkan perempuan yang masih berdiri itu melihat heran kearah dua cowok yang berada didalam. Dia mengetuk pintunya lagi dan kali ini memanggil nama Biru, sang kakak.
“Bentar, ini kayaknya suara si Ara, Ndi.”
Setelah pintu dibuka, Biru menanyakan kedatangan Ara. Ternyata gadis itu ingin sang kakak membelikan makanan diluar, perutnya sudah sangat lapar, bahan makanan dirumah Echa sudah habis karena Bu Tania tidak pergi belanja saat pagi.
Bahkan saat makan malam pun keluarga Echa memesan go-food. Andi menawarkan dirinya untuk membelikan Ara makanan, dia sengaja seperti itu karena ingin mengambil hati adik sahabatnya.
“Tunggu sebentar okay! Di depan sana ada tukang nasi goreng yang masih buka. Bi, lu mau nitip sekalian apa nggak?”
“Ya udah gue satu kebetulan belum makan juga.”
Andi pun pergi dengan motornya. Sambil menunggu sang sahabat kembali Biru mengajak Ara masuk kedalam sembari mengobrol random. Senyuman manis terpancar dari wajah Ara, dia terlihat malu-malu saat berkata menyukai Andi kepada kakaknya. Biru mengelus rambut adiknya dengan lembut.
“Besok bagus nggak buat bilang ke Andi kalo gue juga suka sama dia? Tapi lu jangan bilang dulu ke dia, awas aja kalo sampai bocor duluan gue mutilasi lu!” ucap Ara dengan mata tajam lalu tak lama tertawa.
__ADS_1
“Aman! Andi cowok baik gue setuju dan percaya sama dia kalo bisa buat lu bahagia, Ra. Maafin gue ya selama ini belum bisa...,” ujarnya terhenti karena Ara menyimpan jari telunjuknya dibibir sang kakak.
Obrolan mereka berdua terhenti setelah suara motor Andi terdengar. Ara langsung pergi keluar menyambut makanan yang sedari tadi dia tunggu-tunggu. Setelah mendapatkan makanannya gadis itu masuk kembali, mengambil piring untuk dirinya dan kedua cowok di luar. Mereka bertiga makan bersama sambil melihat bulan di atas langit. Setelah beberapa saat, Ara izin lagi untuk kembali kerumah sebelah. Matanya merasa mengantuk setelah perut diisi. Sebelum melangkahkan kakinya Biru menyarankan sang untuk tidak langsung tiduran. Dia meminta Ara melakukan hal lain selama 30 menit.
“Iya, iya gue tahu kok kalo habis makan itu nggak boleh langsung tidur. Emangnya gue masih kecil apa,” ucap Ara lalu menjulurkan lidahnya pada Biru meledek.
“Beh! Makin cantik kalo gitu,” seru Andi menggeleng-gelengkan kepalanya.
••
••
••
Pagi harinya, Arka dan Nadia sudah berada dirumah Biru. Mereka berniat ingin mencari hadiah untuk acara ulang tahun Heru malam ini. Sengaja keempatnya lakukan lebih awal karena siang dan sore harinya mereka akan membantu Biru dikedai.
Echa yang sedang membersihkan halaman rumah melihat Biru dan teman-temannya. Dan tak lama suara klakson mobil terdengar dari luar pagar. Itu adalah Bara, cowok tersebut mengajak Echa untuk mencari hadiah juga.
Melihat Echa dijemput Bara sikap Biru biasa saja. Walau hatinya sakit tapi dia berusaha untuk melupakan cinta pertamanya. Dengan wajah datarnya dia mengajak ketiga teman pergi. Setelah berkeliling mencari mall dan membeli hadiah mereka berempat langsung menuju kedai Biru. Di sana ternyata sudah ada Galang dengan anak-anak lain. Mantan rivalnya itu terlihat dikerumuni oleh gadis-gadis cantik. Wajah tampannya membuat para perempuan ingin berfoto dengannya.
“Wah kayaknya mulai hari ini lu harus rekrut si Galang juga, Biru. Lihat tuh makin rame aja,” ungkap Nadia.
“Gratis tanpa diberi gaji. Dia kan anak orang kaya jadi nggak perlu uang dari gue,” jawab Biru disahuti tawaan ketiga temannya.
Seharian mereka bekerja membuatnya merasa lelah. Saat malam tiba, jam telah menunjukkan pukul 22.00. Biru bersiap-siap pergi ke acara si cowok brengsek. Dia berjalan keluar menuju motornya namun tak sengaja berpapasan dengan Echa. Gadis itu terlihat sangat cantik sampai membuat si ketos bengong. Ingin rasanya dia berkata cantik pada gadis di depannya. Suasana menjadi canggung, keduanya tak ada yang bicara. Mereka hanya saling memandang. Tidak lama kemudian datanglah Bara dengan setelan jas yang membuat ketampanannya bertambah. Echa di ajaknya masuk kedalam mobil. Cowok itu sama sekali tidak menyapa Biru yang daritadi berdiri disamping Echa.
__ADS_1