
Setelah Sasa selesai membersihkan mejanya dari sampah, dia pun ikut belajar bersama yang lain. Beberapa jam berlalu, istirahat tiba. Semua murid seperti biasanya menjalani aktivitasnya masing-masing, mencari makan, kelapangan, perpustakaan dan berdiam dikelas. Selama satu tahun ini hubungan antara Biru dan Echa sangat baik, para penggemar si ketua osis pun sudah dapat menerima jika idolanya menjalin hubungan dengan si gadis pendiam. Bahkan mereka berdua dijadikan sebagai pasangan couple tersweet disekolah. Dimana Biru selalu memperlakukan Echa sebagai ratu.
“Lu semua gimana? Lulus nanti mau lanjut apa langsung kerja?” tanya Andi disela obrolan.
“Gue bingung Ndi, takutnya yang gue belum cukup. Kayaknya kerja dulu baru nanti kuliah deh,” jawab Biru.
“Kalo pasangan kampret ini gimana? Kuliah apa nikah?”
“Kuliah lah, urusan nikah entaran aja masih banyak waktu, lagipula kita masih muda. Oh iya gue udah milih salah satu universitas yang bagus, harapannya sih gue mau satu kampus sama kalian,” sahut Nadia melihat semua teman-temannya.
Echa hanya menyimak obrolan yang lain, dia tidak berani berbicara, Bu Tania dan Pak Rangga telah memilihkan universitas yang akan menjadi tempat putrinya mencari ilmu. Namun, universitas yang kedua orangtuanya pilihkan berada diluar negeri, itulah yang membuat dirinya terdiam.
“Apa hubungan aku sama Biru akan terhenti begitu saja? Semua maunya ibu, aku nggak bisa nolak,” gumam Echa memandang wajah Biru dari samping.
Melihat Echa yang melamun Arka pun membuyarkan membuat dia terkejut.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Biru.
“Wait! Sayang? Nggak salah dengar kita, selama ini biasanya panggil-panggilan nama,” celetuk Andi.
“Bau-bau kebucinan mulai tercium. Lu siap-siap jadi nyamuk Ndi, cepetan sana cari pacar jangan ngejomblo terus,” ujar Nadia.
“Aelah cuman jadi nyamuk doang bukan jadi mayat. Urusan pacar gampang itu mah, banyak cewek yang antri.” Ke-empat temannya hanya mengangguk.
__ADS_1
Diruang guru, mereka tengah membicarakan tentang Sasa yang viral kemarin karena dilabrak oleh istri orang. Tak percaya jika salah satu murid sekolahnya bisa melakukan itu, hal tersebut tentu saja membuat citra sekolah menjadi jelek dimata orang. Selama ini para guru telah sabar menghadapi sikap Sasa yang selalu jahil dan membuat keributan bersama Heru. Kejahilan yang mereka lakukan bukanlah candaan yang biasa, akan tetapi membuat orang yang dijahili merasa tertekan dan prustasi. Bahkan ada yang sampai memutuskan untuk berhenti dari sekolah.
Nenek Sasa yang kenal dekat dengan salah satu guru meminta agar cucunya tetap sekolah. Sebab dulu kepindahan Sasa juga karena hal tersebut, dia tidak ingin jika cucu satu-satunya itu tidak bersekolah sama sekali. Dengan memberikan uang maka si guru dapat membujuk kepala sekolah untuk memberikan beberapa kesempatan.
Maka dari itu, dari dulu Sasa tak pernah mendapatkan surat pengeluaran.
Berbeda dengan Heru, dia sedikit membaik disekolah. Namun, diluaran sana sangat beringas. Sudah puluhan perempuan yang dia dekati.
Siang berganti sore. Pukul 15:00, Biru dan yang lain saling berpamitan di parkiran. Dia sudah biasa jika pulang sekolah tidak langsung pulang kerumah. Tak membutuhkan waktu lama Biru sampai di toko cakenya. Melihat anak-anak geng motornya tengah sibuk dia pun membantu. Ara dan Bu Tania yang mengawasi izin pamit pulang sebab si pemilik toko sudah datang. Belum saja melangkahkan kaki, tiba-tiba seorang anak kecil menabrak Ara.
“Hey! Hati-hati nak,” ujar Ara tersenyum.
“Langit jangan lari-lari. Aduh maafkan anak saya ya,” seru Bu Miya. Anak laki-laki itu ternyata Nugraha/ Langit. Melihat sosok anak kecil itu membuat Ara teringat akan putranya. Dia berpikir jika saja Nugraha masih ada bersamanya mungkin dia akan seumuran dengan anak perempuan didepannya.
“Mau beli cake ya?” tanya ibu Echa. Bu Miya mengangguk dan izin untuk memilih cake kesukaan anaknya. Ini merupakan kali pertama dia membawa Langit membeli cake ketempat Biru, biasanya dia akan menyuruh sang pengasuh yang membeli. Saat didepan dan bertemu dengan owner, anak laki-laki itu tersenyum.
“Wah tumben sekali anak saya senyum sama orang baru,” ujar Bu Miya.
“Iya kah Bu? Aduh jadi merasa spesial saya,” sahut Biru.
“Mungkin karena kakaknya cakep.”
“Bisa aja, mau pilih yang mana? Ini semua baru saja selesai dibuat jadi masih fresh dan tentunya enak. Buat anaknya saya kasih harga murah,” ujar Biru dengan ramah. Langit masih saja tersenyum melihat Biru, tanpa disadari si anak kecil memegang tangannya.
__ADS_1
Ara dari jarak yang tak jauh melihat itu semua. Sebutir air mata lolos keluar begitu saja. Bu Tania tahu akan perasaan Ara yang kehilangan anaknya selama satu tahun. Dia pasti sangat merindukan Nugraha. Mengelus lembut pundak Ara yang sudah dia anggap seperti putrinya. Lalu mengajaknya pulang menyiapkan makan malam.
Diperjalanan, Ara mulai berbicara. Mengatakan jika dirinya merasa sangat dekat dengan anak yang tadi. Wajah Langit masih terbayang-bayang dalam kepalanya, membuat Ara ingin terus bertemu.
Sebuah mobil melintas dengan cepat. Kebetulan ada lubang yang menampung air sisa hujan, air itu mengenai Ara dan ibu Echa. Si pengendara berhenti, turun dari mobil lalu menghampiri.
“Gimana kabar lu Ra? Dah lama ya nggak ngasih kabar,” ujar orang itu.
“Cih! Ngapain juga gue ngasih kabar sama lu, nggak penting sama sekali!”
“Ya kali aja mau minta pertanggungjawaban lagi, kali ini gue mau kok tanggungjawab. Btw anak kita udah lahir? Pasti cakep kayak gue ya?” ujar Heru dengan sombongnya.
“Anak gue bukan anak lu! Tante ayo pergi aja,” jawab Ara mengajak ibu Echa pergi dan tak mau meladeni Heru.
Ara pun melanjutkan langkahnya, dia benar-benar ingin menampar lelaki itu. Sedangkan Heru tersenyum simpul memperhatikan mantan kekasihnya. Dalam hati, Heru memuji kecantikan Ara yang semakin menarik dan seksi. Entah apa yang ada dipikirannya.
“Gue nggak bakal lepasin lu Ra,” ucapnya dalam hati.
Sesampainya dirumah, ternyata Echa sudah menyiapkan semuanya. Sang ibu merasa tak enak karena pulang telat. Ara pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri lalu berkumpul dengan keluarga Echa didepan. Sebelum itu dia merebahkan tubuhnya, mengingat kembali sosok anak kecil yang dirinya temui di kedai sang kakak.
“Wajahnya mengingatkan gue sama Nugraha, kenapa mirip banget sih. Ughh...!”
“Sayang, gimana kabar kamu? Mama kangen, apa kamu baik diluaran sana?” ucap Ara memandang poto Nugraha saat bayi.
__ADS_1
.