BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 15


__ADS_3

Tidak ingin mendengar jawaban Echa, dia pun memutuskan untuk kembali pergi di ikuti oleh ketiga temannya. Mereka berempat berjalan berdampingan tak sengaja menabrak Sasa yang tengah membawa buku menuju perpustakaan.


Sasa berpikir Biru akan membantunya tapi sayang lelaki itu hanya melewatinya saja. Andi mengejar sang sahabat sedangkan Arka dan Nadia membantu Sasa membereskan buku yang berserakan.


“Maafin si Biru ya dia emang kayak gitu anaknya,” ujar Arka.


“Iya nggak papa kok. Mungkin Biru lagi buru-buru.”


“Oke nih bukunya, hati-hati. Gue sama Nadia duluan,” ucapnya menggandeng lengan sang sekretaris.


Kini keempatnya berada di lantai atas. Melihat para siswa yang sedang berolahraga dan aktivitas lainnnya. Andi penasaran mengapa Biru pergi saat mendengar Paris mengungkapkan perasaannya? Baru saja akan bertanya tiba-tiba Biru berbicara.


“Gue boleh jujur nggak sih sama lu pada?”


“Boleh aja kenapa nggak? Emangnya ada apa?” sahur Nadia mengernyit heran.


“G—gue sebenarnya.....”


“Lu suka kan sama Echa? Udah kelihatan, jadi mau lu gimana? Bukannya tadi si Paris nembak tuh cewek?!” ucap Andi membuat Arka dan Nadia terkejut. Dugaan mereka ternyata benar bahwa Biru suka kepada Echa. Baru pertama kalinya seorang Biru galau karena cinta, biasanya dia tidak terlalu peduli akan perempuan.


Suasana hening seketika. Tidak ada yang berbicara lagi begitupun dengan Biru. Sampai bel masuk berbunyi mereka berempat tidak bersuara takut jika asal ngomong Biru akan marah. Padahal sebenarnya orang yang di sangka akan marah itu menunggu solusi dari teman-temannya.


Di dalam kelas, Echa di antarkan oleh Paris. Dia tersenyum kecut kepada lelaki yang telah mengantarnya ke kelas.


“Nad, gue mau ke UKS. Nggak enak badan,” ucap Biru.


“Gue ikut,” seru Andi.


“Iya, woy Andi! Lu ngikut Biru supaya lolos dari pelajaran kan? Dasar tukang bolos,” ujar Nadia.


Andi mengejek Nadia lalu pergi bersama Biru ke UKS. Di sana jiwa penasarannya kembali datang. Dia memberikan saran akan perasaan Biru kepada Echa. si ketos menatap Andi sebentar lalu mulai bercerita.

__ADS_1


“Gue nggak tahu sejak kapan punya perasaan sama dia, Ndi. Hidup gue sebelum mengenal cinta kayaknya happy aja, tapi kenapa sekarang....”


“Itu karena lu sebelumnya nggak pernah dekat sama cewek. Lu juga terlalu sibuk sama geng motor juga masalah keluarga, sampai nggak mementingkan apa itu cinta.”


“Kata siapa gue nggak pernah dekat sama cewek? Tuh si Nadia,” ujarnya.


Andi menjitak kepala Biru, jelas saja dia dekat dengan Nadia. Sebab gadis itu tingkah dan sifatnya yang mirip seperti lelaki. Bisa di bilang tomboy. Nadia sendiri akan marah jika di paksa Arka untuk berpakaian seperti wanita lainnya.


Biru melanjutkan curhatnya. Sedang asik berbincang handphonenya berdering, tertulis nama Tante Tania. Jika ibu Echa menelpon maka itu berurusan dengan Ara, Biru pun langsung mengangkat telponnya. Benar saja, ibu Echa memberitahu Biru jika kelahiran Ara sebentar lagi. Terlintas dalam kepalanya, darimana uang untuk biaya lahiran sang sepupu? Hasil jualan cake masih belum cukup.


Andi melihat raut wajah Biru yang diam seperti memikirkan sesuatu.


“Baik Tante, nanti biar Biru yang urus masalah biayanya,” ucapnya lewat telepon.


“Ada apa?” tanya Andi.


“Nggak papa, Ndi hari ini lu bisa nggak jagain kedai cake gue sehari?”


“Gue sih bisa-bisa aja sekalian si dua curut Arka sama Nadia di ajak. Emangnya kenapa?”


~


~


~


Sore harinya Andi telah berada di kedai cake milik Biru. Arka dan Nadia tengah sibuk menyiapkan semuanya sebelum dibuka. Mereka bertiga penasaran urusan apa yang Biru lakukan? Sebelumnya lelaki nakal tersebut tidak pernah seperti itu. Semenjak Ara ikut dengannya beban dalam hidup semakin bertambah, di usinya yang masih muda dia harus bekerja keras tanpa bantuan dan dukungan orang tua atau keluarga.


Paman dan Bibinya sudah tak peduli sama sekali. Tidak ada lagi keluarga yang harus di mintai tolong, semuanya telah berada di kota yang berbeda di tambah dirinya yang kurang dekat dengan mereka. Rasanya canggung dan tidak enak jika tiba-tiba datang lalu meminta tolong.


Ayah Echa baru saja pulang kerumah. Dia di tatap tajam oleh sang anak.

__ADS_1


“Ayah, Echa boleh bicara nggak? Berdua tapi?” ucapnya membuat sang heran.


“Ya sudah bicara saja.”


Echa melihat kana kiri takut jika ibunya datang. Dia tidak ingin jika sang ibu tahu bahwa suaminya jalan bersama perempuan lain.


“Perempuan yang sama Ayah siapa?” tanya Echa membuat sang Ayah mengerutkan kening.


“Maksudnya? Perempuan siapa Ca, Ayah nggak ada jalan sama perempuan kecuali ibu kamu.”


“Bohong! Teman Echa lihat kok kalo Ayah jalan sama seorang perempuan. Ayo Yah bilang siapa dia, Echa nggak mau ya kalo Ayah main di belakang ibu.”


“Kapan dan dimana teman kamu lihat Ayah?”


“Kemarin.” Echa menjelaskan apa yang dia lihat dari poto Paris. Sang Ayah yang mendengar perkataan putrinya malah tertawa. Echa heran mengapa Ayahnya itu tertawa padahal dia sedang bicara serius. “Ayah ini kenapa sih! Echa kan seriusan,” ucapnya kesal.


“Kamu salah paham sayang, dia itu teman ibu kamu.”


“Terus?”


“Kemarin ibu kamu minta Ayah buat jemput temannya. Suami dia baru saja kecelakaan jadi ibu telpon buat Ayah antarkan dia kerumah sakit. Kalo Echa nggak percaya bisa tanya sama ibu sana, Ayah nggak pernah main sama perempuan lain, demi apapun itu cinta Ayah cuman buat ibu.”


“Ayah nggak bohong kan? Kenapa harus Ayah yang jemput, kan bisa teman ibu itu naik kendaraan umum.”


“Tanya ibu, Ayah hanya nurut saja sama perintahnya.”


Perbincangan terhenti setelah mendengar salam dari luar. Bu Tania dan Ara telah pulang, mereka berdua sedikit terlambat karena harus mengurus bayi yang akan di rawatnya. Echa dan sang Ayah terkejut melihat bayi yang di bawa Bu Tania. Mereka berdua melihat ke arah perut Ara, akan tetapi perut itu masih terisi, bayi di dalamnya belum keluar.


“Lah ibu bawa bayi siapa? Nak Ara kan belum melahirkan?” tanya Ayah heran dan penasaran.


“Iya Bu, itu bayinya siapa? Ih kok lucu sih Echa pen gendong Bu,” sambungnya. Bu Tania pun menjelaskan kejadian saat dirinya mengantar Ara periksa di rumah sakit.

__ADS_1


“Nggak papa kan Yah kalo ibu urus bayi ini? Nggak tega ibu lihatnya apalagi si ibunya udah meninggal. Lelaki yang telah menghamilinya tidak mau bertanggungjawab, dia malah pergi dengan Mamanya.”


“Tega banget laki-lakinya Bu. Bisa-bisanya dia nggak mau bertanggungjawab padahal ini darah dagingnya,” seru Echa sibuk memperhatikan wajah sang bayi.


__ADS_2