
Biru menghela napas meminta kedua temannya untuk tetap tenang. Menunggu waktu yang tepat mengeluarkan Nadia dari sana. Dia tidak ingin teman-temannya terluka, apalagi lawannya bukan sembarangan berbeda dengan anak motor.
Dirumah sakit, Ara sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, dia pun bersiap-siap dibantu ibu Echa. Wanita yang sudah tak muda lagi namun masih terlihat cantik tidak merasakan lelah sama sekali dari wajahnya. Ara memberikan senyum salut kepada Bu Tania. Padahal dia sendiri harus merawat anak Heru dari perempuan lain dan kini merawat Ara serta bayinya. Sungguh wanita hebat dan tangguh.
“Nak Ara pakaian semua udah Tante beresin. Kita tinggal tunggu ayah Echa saja menjemput.”
“Makasih Tante. Eum..., ngomong-ngomong Tante nggak capek? Mengurus pekerjaan rumah lalu bayi itu dan sekarang mengurus Ara.”
“Nggak kok sayang, tidak ada yang merepotkan Tante. Semua Tante lakukan dengan senang hati,” ujarnya sembari tersenyum.
Senyuman hangat Ara rasakan saat melihat wajah ibu Echa. Mengingatkannya kepada Mama Biru, wanita itu juga tidak pernah mengenal rasa lelah, selalu bersabar menghadapi tingkah nakal Biru saat masih duduk di bangku SMP. Dimana anak laki-lakinya selalu membuat pusing Papa dan keluarga lainnya.
Pintu terbuka, ayah Echa datang dengan membawa beberapa belanjaan titipan istrinya. Setelah itu mereka bertiga pun pergi dari rumah sakit.
Cuaca saat ini begitu panas. Matahari terasa sangat dekat, keringat terus bercucuran membuat ketiga anak lelaki yang sedang bersiap mengeluarkan temannya merasakan tidak enak di badannya. “Ughh gila! Kapan nih kita masuk? Gue gerah banget di sini.”
“Gue yang akan jadi umpan supaya mereka semua ngejar gue lalu lu berdua pergi masuk,” ujar Biru. Kedua temannya dengan cepat menggeleng, dia tidak ingin sahabatnya itu kenapa-kenapa karena harus melawan banyaknya orang. Biru memegang pundak Arka dan Andi sembari berkata bahwa dirinya dapat mengatasi orang-orang tersebut. Mau tidak mau keduanya pun menurut, mengikuti arahan dari Biru.
“Woy bang! Ngapain di rumah kosong mau macam-macam ya?” teriak Biru. Lima orang lelaki melihat ke arahnya mengerutkan kening.
“Tuh bocah siapa?” tanya salah satu dari mereka.
“Mana gue tahu, samperin sana. Suruh jangan teriak-teriak gitu,” titahnya.
“Aelah diem mulu nggak berani hah! Sini dong kejar gue,” tantang Biru dengan senyum nakalnya. Merasa di tantang maka lima orang tersebut langsung mengejar Biru. Mereka tidak akan melepaskan pemuda itu sampai lepas. Kini kesempatan Arka dan Andi untuk masuk kedalam. Ternyata tidak semudah apa yang keduanya pikirkan, masih ada beberapa orang yang berjaga dibalik pintu, Andi mengangguk dan di angguki balik oleh Arka mereka paham apa yang harus dilakukan untuk memancing para penjaga.
__ADS_1
“Ndi lu di sana,” titah Arka.
“Gue paham maksud lu Ka, bentar-bentar kita lihat ada apa aja di tas lu.”
Kebetulan Arka membawa barang-barang yang akan dia gunakan untuk acara bazar mendatang. Andi memeriksa dan menemukan barang yang cukup berguna menurutnya. Setelah itu keduanya mulai dengan tingkah jahilnya, sebuah kaleng bekas melayang ke salah satu kepala penjaga. “Ish sialan! Siapa yang lempar nih kaleng minuman?” ujar si penjaga kesal.
“Hehe mamam tuh kaleng, lempar lagi Ka lempar. Kalo bisa lu lemparnya yang keras biar enak kena kepalanya,” teriak Andi pelan.
Arka mengacungkan ibu jarinya tanda iya. Si penjaga yang pertama kali kena kini harus terkena lemparan kaleng lagi oleh Arka. Membuat dirinya semakin kesal dan mengomel.
“Kenapa sih bang marah-marah terus,” tanya temannya.
“Nih kayaknya ada yang jahil sama gue. Dua kali kepala gue di lempar kaleng minuman.”
“Nggak ada orang lagi selain kita bang. Si bos juga diruangan sebelah, anak-anak lain jaga di luar.”
“Mau lagi nggak bang, kebetulan beberapa hari ini tangan saya belum mukul apa-apa. Nggak sakit kok soalnya saya mukulnya dengan perasaan,” ujar Biru.
“Bocah sialan! Sini lawan gue,” serunya berusaha berdiri.
Biru memanyunkan bibirnya. “Ututu...., kalo nggak bisa bangun jangan dipaksa bang. Sini deh saya bantu,” ledeknya.
“Tuh dua manusia lama banget dah didalam,” gumam Biru. Dia takut jika kelamaan berada didalam maka kelima orang itu akan segera kembali. Setelah mengurus orang didepannya, Biru menyusul masuk untuk melihat apa yang dilakukan kedua temannya.
Dia masuk tanpa melihat keadaan, dengan begitu dirinya pun ketahuan oleh penjaga yang tersisa. Dari sana Biru melihat Arka dan Andi yang tengah bersembunyi membuatnya menghela napas pasrah. “Pantes aja lama tuh bocah masih sembunyi,” pikir Biru.
__ADS_1
“Heh siapa kamu!” tanya si penjaga.
“Go food bang,” jawab Biru spontan.
“Gila si Biru, bilangnya go food tapi nggak bawa makanan apa-apa,” bisik Andi.
“Teman lu itu,” sahut Arka.
“Siapa yang pesan go food?” tanyanya lagi si penjaga sembari melihat tangan Biru yang kosong tanpa membawa apapun.
“Itu tuh abang-abang botak sama yang poninya panjang, kata mereka berdua disuruh masuk aja, dia mau beli minuman dulu diwarung,” jawab Biru. “Saya ke sini cuman mau tagih uangnya aja, soalnya makanan dibawa mereka berdua. Cepet bang bayar saya buru-buru nih,” sambungnya.
Untung saja sebelum itu Biru sempat membuka seragam sekolahnya, dia hanya memakai kaos polos dengan jaket. Si penjaga mengambil dompetnya dari saku celana, lalu memberikan beberapa uang yang disebutkan nominalnya oleh Biru. Saat si penjaga berbalik badan kembali ke tempatnya Biru dengan cepat memukul dari belakang dan seketika si penjaga itu pingsan tak sadarkan diri.
“Lumayan lima ratus ribu. Hehe,” ucap Biru tertawa kecil.
Andi dan Arka akhirnya keluar sembari menggelengkan kepalanya tak percaya dengan tingkah Biru barusan. Bisa-bisanya si ketos memalak preman dengan begitu mudah.
Tak mau berlama-lama mereka bertiga langsung melepaskan Nadia. “Arkaa, gue takut,” ucapnya memeluk sang kekasih.
“Nggak usah takut Nad, gue di sini kok. Mending kita keluar dulu takutnya pada datang yang lain.”
Setelah keluar dari rumah kosong itu mereka mampir terlebih dahulu di sebuah warung untuk membeli minuman dengan uang yang Biru dapatkan dari si penjaga. “Gue mau dijual sama mereka,” ucap Nadia.
“Emangnya lu laku?” sahut Andi membuat dirinya terkena jitak dari Arka dan Biru. Di dalam kondisi seperti itu mereka masih bisa bercanda.
__ADS_1
“Lu tahu orangnya nggak Nad? Atau lu punya musuh gitu sampe mau di jual segala,” tanya Biru serius.