BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 12


__ADS_3

Di perjalanan Biru tak sengaja bertemu dengan anak-anak geng nya. Dia menghentikan motornya guna bertanya apakah melihat Ara? Namun semua temannya itu tidak ada yang melihat. Biru pun melanjutkan pencariannya di bantu teman-teman. Sampai pukul 23.15, Ara masih belum Biru temukan. Dia benar-benar sangat khawatir akan gadis itu. Padahal besok harus sekolah dan rapat osis, tapi Biru masih berusaha mencari sang sepupu.


“Dah mau tengah malem nih, lu nggak sekolah?” tanya salah satu temannya.


“Gue sekolah, tapi sepupu gue hilang.”


“Lu balik aja, biar kita semua yang nyari. Lagipula kita kan nggak sekolah, jadi bisa sampe pagi nyarinya.”


“Nggak enak kalo harus ngerepotin kalian. Gue ikut aja, ini tanggungjawab gue sebagai keluarganya.”


Suara dering telepon terdengar, Biru mengambil handphone nya di saku jaket. Tertera nama Andi di sana. Dia memberitahu jika waktu pukul 21.00 saat sedang pergi mencari makan bersama Omanya Andi melihat Ara dengan seorang lelaki. Oleh karena itu dia menelpon ingin memastikan apakah perempuan yang dia lihat tadi benar-benar Ara atau hanya mirip saja.


Mendengar kabar seperti itu Biru membenarkannya, karena Ara sampai sekarang belum pulang kerumah. Mereka menutup telpon, Andi akan menyusul ke tempat Biru untuk mencari Ara bersama.


Di kediaman Pak Baba, istrinya terus saja mengomel. Karena kesal dan merasa berisik akan ocehan sang istri, dia tak sengaja memukulnya. Membuat istrinya itu terdiam tak percaya, selama dia hidup bersama sang suami tidak pernah sekalipun di pukul.


“Maaf,” ujar Pak Baba. Istrinya terisak sembari merasakan sakit. Saat Pak Baba akan menyentuhnya dia menghindar dan pergi keluar kamar.


Ara kini sedang berada di sebuah rumah yang nuansanya sedikit menyeramkan. Ternyata Heru serta Mamanya membawa Ara pergi untuk menggugurkan kandungannya. Padahal sebentar lagi gadis itu akan segera melahirkan, Ara yang tidak ingin menghilangkan bayinya berusaha kabur. Tapi sayang tenaga yang lemah serta susah untuk berlari membuat dirinya kembali tertangkap oleh Heru.

__ADS_1


“Lu gila Heru! Ini anak lu, bisa-bisanya lu nyuruh gue buat gugurin? Dan Tante, Tante juga seorang perempuan seperti aku, tapi kenapa Tante tega menyuruhku buat melakukan ini? Aku akan mempertahankan bayi ini, dia nggak bersalah.”


“Jangan kurang ajar kamu! Saya tidak sudi punya cucu haram. Heru tidak akan bertanggungjawab, jadi wanita kok murahan!”


Ara tersenyum ketir. Dia berdecih atas ucapan Mama Heru. Melihat tingkah Ara yang seperti itu membuat Mama Heru melayangkan tamparan dengan sangat keras.


“Baiklah jika itu mau kamu gadis bodoh! Yang pasti anak saya tidak akan bertanggungjawab atas bayi yang kamu kandung. Jangan pernah mencari Heru, karena dia sudah saya jodohkan dengan wanita terhormat bukan wanita murahan seperti kamu!”


Malam semakin larut, Ara berjalan seorang diri. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, kakinya sudah sangat lelah, perutnya pun terasa sakit. Dia menangis di keheningan malam mengingat perlakuan Heru dan Mamanya. Sampai pada akhirnya Ara bertemu dengan Andi. Dia menangis sejadi-jadinya di pelukan teman sepupunya itu. Tidak menjawab pertanyaan yang Andi berikan.


“Ya udah mending kita pulang dulu ya Ra, Biru pasti khawatir sama lu. Dia sedari tadi nyariin lu, khawatir,” ucapnya dan di angguki Ara.


Mereka duduk di sofa, meminta Ara bercerita kemana dirinya pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu. Setelah mendengarkan ceritanya, ibu Echa terkejut. Wanita mana yang tega menyuruh seorang gadis untuk menggugurkan kandungannya, apalagi itu calon cucunya sendiri. Dan sang anak tidak mau bertanggungjawab malah di jodohkan dengan perempuan lain. Walau bukan orang tua kandung, ibu dan ayah Echa merasa sedih.


Biru yang tahu itu langsung mengepalkan tangannya kesal. Dia tidak habis pikir akan kelakuan Heru, padahal dirinya sudah berjanji akan bertanggungjawab saat bertemu dengannya. Echa yang berada di samping menggenggam tangan Biru, mencoba menenangkan hatinya. Keduanya saling pandang sampai dimana Andi berdehem.


“Ya sudah Tante, Om, Biru, Ca. Pamit pulang dulu ya, nggak enak juga ini udah terlalu malam.”


“Iya, makasih nak Andi telah membawa pulang Ara.”

__ADS_1


“Thanks Ndi,” ucap Biru.


“Sama-sama,” jawab Andi.


Setelah kepulangan Andi, mereka membubarkan diri. Biru balik kerumahnya sedangkan Echa membawa Ara masuk ke kamar. Gadis itu masih saja menangis. Sembari menemani Ara yang tidak ingin tidur, Echa pun membuka laptopnya untuk memulai menulis.


“*Entah bagaimana caranya, aku, Echa Anindita tiba-tiba saja menyukai cowok yang terkenal nakal di sekolah. Padahal waktu itu dia sama sekali tidak menarik bagiku, kenakalannya membuatku kesal karena sering membuat semua siswa yang ada dikelas mendapat hukuman akibat ulahnya. Dan sekarang? Dia begitu menarik, berbeda seperti dulu, semenjak menjabat sebagai ketua osis dirinya banyak berubah.”


“Tak hanya itu, dia juga lelaki yang kuat, bertanggungjawab dan banyak lainnya. Mungkin perasaan yang aku rasakan ini hanya akan bertepuk sebelah tangan saja, tidak mungkin jika Biru menyukaiku. Banyak di luaran sana gadis yang cantik, apalah aku yang biasa saja, tidak memiliki kelebihan. Hanya seseorang yang suka berhalu, menyalurkan semuanya pada sebuah tulisan*.”


Ara yang sudah membaik dan tidak menangis lagi melihat kearah Echa yang sibuk dengan laptopnya. Dia pun penasaran apa yang Echa tulisan sampai seserius itu. Ara berjalan mendekat, tanpa di ketahui Echa gadis itu membaca apa yang tertulis.


“Ahh ternyata Echa suka sama si Biru,” gumamnya.


“Cie cie Echa. Emang sih sepupu gue itu ganteng, baik, pintar, kurang apa coba dia. Pasti banyak para gadis yang menginginkan jadi kekasihnya. Kalo kamu mau aku bisa kok comblangin sama Biru.” Ucapan itu membuat Echa terkejut dan langsung menutup laptopnya. Dia bertanya sudah berapa lama Ara berdiri di belakangnya?


“Apaan sih Ra, siapa juga yang suka sama sepupu kamu.”


“Iya kah? Kok meragukan ya jawabannya. Tapi gue serius Ca, kalo lu suka bilang aja. Biru lelaki baik, dia nggak pernah kasar sama perempuan. Dia juga selalu sabar, apalagi saat menghadapi sikap gue yang buruk sama dia.”

__ADS_1


Memang benar apa yang Ara katakan. Biru sama sekali tidak pernah marah saat di perlakukan tidak baik olehnya. Selalu menunjukkan wajah biasa, namun jika sudah berada di kamar, lelaki itu mengoceh sendiri. Mengeluarkan unek-uneknya tanpa sepengetahuan orang lain. Menyimpan semua kekesalan yang selama ini dia dapatkan selama berada dirumah sang paman.


__ADS_2