BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 34


__ADS_3

Malam hari tiba. Biru masih saja sibuk akan usahanya, walau begitu dia tetap rajin memberi kabar kepada sang kekasih. Echa tidak masalah jika dia dan si ketos menjalin hubungan tidak seperti orang lain, yang selalu pergi jalan berdua, makan bersama serta lainnya. Echa paham bagaimana sibuknya sang pacar, mulai dari sekolah sampai mengurus usaha.


Satu yang Echa takutkan jika lulus nanti dan dirinya benar-benar harus kuliah sesuai pilihan kedua orangtuanya, di universitas luar negeri. Hubungan keduanya sudah pasti akan LDR, itu pun jika mereka berdua kuat.


Andi yang kini mengurangi main keluarnya disibukkan dengan mengasuh Senja. Sudah seperti adik sendiri, jika Andi pergi maka Senja akan langsung menangis. Oleh sebab itu, sahabat Biru tersebut hanya akan membawa main anak Tita ke kedai atau rumah Echa saja. Kondisi nek Ijah juga sedang tidak baik. Dia kini tengah menjalani perawatan, dimana usianya yang sudah rapuh. Saat keluarga Andi datang menjenguk, nek Ijah meminta mereka untuk terus menyayangi Senja.


Permintaan itu jelas saja disanggupi oleh keluarga tersebut. Sudah lumayan lama mereka bersama apalagi melihat keakraban Andi dengan gadis kecil itu. Oma juga senang memiliki cucu perempuan.


“Kami akan selalu sayang pada Senja. Ibu juga harus semangat buat sembuh, biar bisa melihat cucunya tumbuh menjadi gadis yang cantik,” ujar Oma.


“Kalian benar-benar keluarga baik, selama saya tinggal bersama, Oma sekeluarga selalu memperlakukan saya spesial. Padahal bukan keluarga kalian,” jawabnya memegang tangan Oma Andi.


••


••


Pukul 20:00. Biru baru saja sampai dirumah. Sebelum masuk dirinya terlebih dahulu bersalaman kepada keluarga Echa. Di sana dia melihat Ara yang tengah memandangi handphonenya. Biru merogoh ponsel dari saku lalu mengirimkan pesan pada sang adik. Dia tidak ingin mengganggu.


Setelah mendapatkan notifikasi dari Biru, Ara berpaling melihat kakaknya yang berada diambang pintu. Bangkit daei duduk lalu berjalan menghampiri. Ternyata minggu nanti sang kakak berniat mengajak Ara untuk berjalan-jalan berdua. Mereka sudah lama tidak melakukan itu.

__ADS_1


“Ya udah Tante, aku balik dulu. Ra nanti minggu ya,” ujar Biru.


Echa sedikit iri karena yang di ajak jalan hanya Ara saja. Padahal selama ini Biru tak pernah sekalipun mengajak dirinya untuk pergi. Mereka berdua selalu menghabiskan waktu dirumah atau disekolah. Gadis itu memanyunkan bibirnya melangkah lemas kembali menuju ruang tv. Lalu baru saja menduduki sofa sebuah pesan masuk, itu adalah notifikasi dari sang kekasih.


“Kita jalan berlima, Andi dan Senja aku ajak. Jangan cemberut gitu, okay cantik?”


Raut wajahnya seketika berubah, dia senyum-senyum sendiri membuat kedua orangtuanya dan Ara mengerutkan kening. Echa pamit ke kemar dengan perasaan senang, ternyata Biru peka akan perasaannya. Dia sungguh tak menyangka.


Dirumah sebelah, sama halnya dengan Echa. Si ketua osis tengah tersenyum sendiri, mereka berkomunikasi lewat telpon, Biru tak henti-hentinya menggoda sang kekasih.


Ara yang memasuki kamar hanya menghela napas melihat tingkah Echa yang seperti itu. Sudah dipastikan jika teman sekamarnya senyum begitu maka kakaknya lah yang berulah. Ara menyimpan ponselnya dan akan pergi tidur, baru saja disimpan sebuah pesan masuk.


Ara tak membalas pesan tersebut, hanya membacanya saja lalu kembali menyimpan ponselnya. Kali ini suara dering telpon yang terdengar, tanpa Ara lihat siapa dia langsung mengangkatnya dan mengomel. Sedangkan orang dibalik telpon heran mengapa dirinya mendapatkan omelan.


Seketika omelannya terhenti setelah mendengar suara Andi, sahabat sang kakak. Ara terkekeh meminta maaf karena tidak melihat terlebih dahulu siapa yang menelponnya.


Hal yang tak bisa Ara duga adalah dimana sahabat Biru itu tiba-tiba saja mengatakan perasaannya. “Ini serius nggak sih? Kok bisa Andi suka sama gue? Apa yang spesial dalam diri gue, perasaan nggak ada deh. Ah! Mungkin tuh anak becanda mau nge-prank gue doang,” gumam Ara.


Andi memanggil Ara dari balik telpon. Tidak ada sahutan dari gadis yang baru saja dia tembak.

__ADS_1


“Ra? Kamu kenapa, kok diam sih? Itu Andi manggil-manggil loh,” ujar Echa membuat Ara tersadar.


Jantungnya berdegup, Ara langsung mematikan telpon. Di sisi lain dirinya sangat senang jika masih ada orang yang mencintainya, dan di satu sisi apa keluarga Andi akan merestui hubungannya, apalagi dengan Ara yang sudah mempunyai anak dari laki-laki lain. Ara sangat takut jika nanti hubungannya tidak berjalan lancar dengan Andi, ditambah takut akan si Oma.


Sedangkan Andi terdiam, dirinya penasaran apakah Ara akan menerima cintanya atau tidak? Dia juga tak percaya jika dirinya baru saja mengatakan cinta pada adik sahabatnya. Entah apa yang dia pikirkan, atau kebersamaan dia selama ini membuat Andi menjadi jatuh cinta pada Ara? Memang cinta tak dapat ditebak, kita suka kepada siapa.


Minggu nanti Andi akan kembali menyatakan cintanya, jika memang Ara menolak maka Andi sudah siap. Dia juga sadar bahwa selera Ara bukanlah seperti dirinya sejak dulu. Tapi jika sebaliknya, Andi sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjaga Ara.


Malam semakin larut, Ara masih belum juga memejamkan matanya. Dia terpikir akan perkataan Andi ditelpon. Rasanya gadis itu ingin bercerita pada sang kakak atau Echa. Namun, diurungkannya karena takut.


Sampai pukul 03:30. Ara masih juga terjaga. Echa yang terbangun terkejut melihat Ara yang duduk disamping kasur. Echa berpikir jika adik kekasihnya itu adalah setan, apalagi rambut Ara yang tergerai panjang.


“Kamu belum tidur, Ra? Kenapa, apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?” tanya Echa. Matanya sudah tidak mengantuk lagi gara-gara melihat Ara yang nampak seperti kunti.


“Nggak ada, Ca. Aku belum ngantuk lebih tepatnya nggak bisa tidur. Kamu lanjut aja sana tidurnya maaf ya ganggu.”


“Eh nggak papa kok, sini cerita sama aku ada masalah apa? Kali aja kan bisa bantu. Kita ini udah kayak saudara jadi jangan ragu buat cerita,” ucap Echa memegang pundak Ara.


Ugghh...! Ara menghela napasnya pelan. Dan setelah itu dia pun memberanikan diri untuk bercerita. Setelah menceritakan semuanya perasaan dia terasa sedikit tenang. Echa yang mendengar cerita dari Ara terkejut ditambah senang. Ternyata Andi selama ini menyimpan perasaan untuk adik Biru. Echa juga mendukung semua keputusan yang akan Ara ambil, mau itu menerimanya atau tidak, semua tergantung dia. Echa ingin melihat Ara ceria lagi, semenjak ditinggalkan oleh Heru dan hilangnya Nugraha gadis itu selalu berdiam dirumah. Mungkin jika dia sudah bersama Andi, laki-laki itu akan selalu mewarnai hari-harinya.

__ADS_1


__ADS_2