
Sesampainya dirumah, Ara langsung menelpon kakaknya dan menyuruh pulang dengan cepat. Dia ingin memberitahu soal kejadian tadi. Disisi lain, pak Baba dan istrinya sudah bisa kembali ke kota asal mereka. Di sana keduanya tak sengaja bertemu dengan dua orang mantan anak buahnya yang telah menculik Nugraha.
Laki-laki itu memberitahu paman Biru jika mereka bertemu Ara, gadis tersebut menanyakan bayinya.
Niat awal ingin memberitahu kebenarannya pada sang keponakan, kini wajah mereka terlihat ketakutan. Pak Baba meminta mantan anak buahnya untuk tidak menyebutkan nama dia jika nanti keduanya tertangkap oleh Biru. Jelas saja mereka tak terima, sebab dalang dari itu semua adalah pak Baba serta istrinya. Merasa kesal dua laki-laki tersebut memukul perut mantan bosnya dengan keras.
“Kurang ajar kalian!” teriak istri pak Baba.
Lalu suami istri tersebut melanjutkan langkahnya menuju rumah lama. Sebelum itu mereka mampir terlebih dahulu ke telepon umum yang ada di sana untuk menghubungi keluarga yang telah membeli Nugraha agar mereka pergi dari kota ini. Niat awal ingin bertobat, keduanya malah berulah kembali.
Suami Bu Miya yang berada dirumah langsung menyuruh asistennya untuk membereskan barang-barang. Tak lama sang istri pulang dengan Langit. Melihat semua bajunya sudah tertata rapih di sebuah koper dia merasa bingung.
Si suami tidak menjelaskan maksudnya. Dia langsung menggandeng tangan istrinya keluar rumah lalu masuk kedalam mobil.
Ditempat lain...., Biru dan Andi sudah pulang kerumah. Didepan pintu terdapat Ara yang sedang mondar-mandir. Melihat kedatangan kakaknya gadis itu langsung menghampiri. Nada suara sang adik terdengar sendu apalagi saat menyebutkan nama Nugraha.
“Kenapa?” tanya Biru bingung karena Ara yang tiba-tiba seperti itu.
“T—tadi ada penculiknya Nugraha, kak. Ayo kita cari mereka berdua, aku yakin dua orang itu tahu dimana anak aku berada sekarang.”
“Kamu serius, Ra?” sahut Andi. Ara mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
•
•
•
Di bandara, Bu Miya masih bertanya pada suaminya mengapa mereka harus pergi ke luar negri, si suami menjawab jika dirinya harus bekerja di sana dan tidak bisa meninggalkan istri serta anaknya. Padahal sebenarnya dia tidak ingin jika Langit kembali pada orang tua aslinya, karena bila itu terjadi sudah pasti sang istri akan sangat sedih apalagi dia begitu cinta dan menyayangi si kecil.
Malam hari tiba, tak disangka-sangka keluarga Bara datang kerumah Echa. Biru yang bersiap pergi mencari dua penculik Nugraha pun menghentikan langkahnya menuju motor. Dia ingin tahu apa tujuan Bara dan keluarganya. Biru berjalan pelan dan menguping pembicaraan antar keluarga tersebut, begitu juga dengan Ara yang berada didalam kamar. Ternyata Papa Bara ingin anaknya dan Echa segera bertunangan. Permintaan itu langsung diterima. Sedangkan Echa menelan ludahnya, diam tak berbicara. Dia sama sekali tidak mencoba untuk menolak pinangan itu.
Dua adik kakak yang sengaja menguping terkejut, kaki Biru terasa lemas saat sang kekasih tak bicara sedikit pun dan malah menganggukkan kepala tanda setuju. Hatinya benar-benar hancur dan terasa sesak. Dia mencoba untuk tidak mengeluarkan air matanya, namun itu semua keluar begitu saja. Didalam, Bara tersenyum dan memegang tangan Echa. Dia berkata akan selalu menjaganya saat di Aussie nanti. Bara juga berjanji tidak akan membuat Echa menangis.
“Apa gue harus nyerah?” pikir Biru yang masih berada di depan rumah Echa.
Dengan langkah lemasnya Biru berjalan menuju motor. Dia pergi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, matanya terus memandang kedepan namun kosong, tidak peduli akan keselamatan dirinya. Saat di tempat yang sepi, pandangan matanya menjadi kabur hal itu membuat Biru terjatuh. Untung saja saat itu Galang dan gengnya melintas di area tersebut. Dia langsung membawa Biru ke kedai sebab tidak tahu rumahnya.
Galang meminta salah satu temannya untuk datang ke camp Biru memberitahu Andi tentang sahabatnya. Selagi menunggu kedatangan teman-teman si ketos, Galang terus memberikan minyak kayu putih pada Biru agar segera sadar. Beberapa saat kemudian Andi datang bersama yang lain. Awalnya dia mengira itu semua ulah Galang dan gengnya. Namun dia lupa jika kedua geng tersebut sudah berbaikan.
“Sorry Lang, gue kira lu masih punya dendam sama kita.”
“Kalo gue masih dendam sama kalian, mungkin gue dan yang lain nggak bakal bawa ketua lu ke sini dan nyuruh lu datang.”
__ADS_1
“Iya, sorry. Jadi gimana ceritanya lu nemuin Biru?” tanya Andi.
“Gue nemuin dia udah dalam keadaan pingsan dijalan.”
“Pingsan dijalan?” seru Andi. Tak lama Biru bangun memegangi kepalanya. Dia tidak berbicara walau di tempatnya banyak orang-orang.
“Lu kenapa hah?! Kalo sakit bilang, Bi. Jangan keluar dulu masalah Nugraha serahin ke gue dan yang lain,” ujar Andi khawatir.
“Gue nggak papa, santai aja,” jawabnya. Biru berdiri dan berjalan menuju motornya namun dicegah oleh Andi.
“Mau kemana? Gue nggak izinin lu pergi kalo keadaan lu aja kayak gini. Dengerin gue sekali aja, biar kita yang cari penculik anak Ara. Cabut guys!” ucapnya. Andi mengajak teman-teman yang lain untuk pergi dan meminta beberapa orang untuk menjaga Biru. Begitupun dengan Galang, dia mengajukan dirinya untuk ikut membantu.
“Thanks Lang, tapi gue minta lu jagain Biru aja. Karena gue yakin kalo yang lain nggak bakal berani buat cegah dia pergi,” ucap Andi memegang sebelah pundak Galang. Dia mempercayakan mantan rival ketuanya untuk menjaga Biru. Galang mengangguk, Andi dan yang lain mulai pergi meninggalkan kedai.
Kembali ketempat Echa. Keluarga Bara sudah pulang, kini Ara izin pada Bu Tania untuk kerumah sebelah bertemu Biru. Dia ingin memberitahu soal lamaran tadi kepada kakaknya. Namun, setelah sampai Ara tak menemukan Biru dirumah, pintu telah dikunci.
“Apa dia udah pergi buat cari penculik Nugraha?” pikir Ara.
“Ya udah deh besok aja gue bilang ke kak Biru. Semoga lu nggak shok ya kak saat tahu cewek yang lu cintai dilamar seseorang.”
Dua mantan anak buah pak Baba kini tengah berkumpul sambil minum-minum. Mereka berbicara melantur, namun hal itu membuat Andi dan yang lain tahu jika kedua orang itulah penculik Nugraha. Dia tak sengaja mendengar percakapan orang-orang pemabuk tersebut saat akan lewat.
__ADS_1
Andi berhenti, dia memandang dua orang yang memang incarannya. Meminta teman-teman yang lain membawa kedua penculik tersebut ke kedai Biru. Begitu mudahnya dia membawa dua orang itu, sebab yang dibawa tengah pingsan setelah dipukul sekali oleh Andi. Sedangkan sisanya dia tinggalkan begitu saja.