BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 44


__ADS_3

Sesampainya ditempat Heru. Semua mata tertuju pada Biru dan teman-temannya. Mereka berempat selalu tak lepas dari pandangan orang-orang, penampilan malam ini sungguh membuat para perempuan terkesima pada Biru, Arka dan Andi. Tak sedikit juga yang memuji penampilan Nadia, gadis itu pertama kalinya memakai dress, menggunakan high heels dan juga bermake-up.


Heru dan Sasa menyambut kedatangan Biru, dia merangkul si ketos dengan memberikan senyuman.


Tak lama kemudian Echa dan Bara datang bersama. Mereka berdua pun menjadi pusat perhatian. Banyak yang berpikiran bahwa si ketos dan Echa telah putus, oleh sebab itu mereka sudah tak bersama lagi. Beberapa orang sangat kecewa dan beberapa lagi merasa senang.


Biru dan yang lain telah mengucapkan selamat juga memberikan hadiahnya. Saat akan pergi Heru mencegahnya, dia mengajak Biru, Andi, Arka dan Nadia untuk makan dan minum terlebih dahulu.


Andi yang biasanya sangat bersemangat jika diajak makan kini dia terlihat tidak berselera. Cowok itu memilih untuk memisahkan diri dari Biru, Arka dan Nadia. Tanpa di duga Ara juga datang ke acara Heru. Wajahnya yang murung kembali bahagia setelah melihat pujaan hatinya.


Mereka semua asik dengan pesta yang diadakan. Biru yang tengah menikmati minuman pun terkejut melihat adanya orang-orang yang dahulu menculik Nadia.


Dia menarik tangan kedua sahabatnya, lalu menyuruh mereka menunduk saat orang-orang itu melewatinya.


“Lah? Bukannya itu orang yang menculik gue?” ujar Nadia pelan.


“Si Andi dimana? Gue takut tuh orang lihat dia lagi.”


“Udah setahun lebih masa sih mereka masih ingat sama muka kita? Santai aja Bi, pastinya juga udah pada lupa,” seru Arka.


Beberapa orang yang mengenakan pakaian hitam itu menghampiri Heru yang sedang mengobrol dengan Sasa. Mereka terlihat sangat akrab membuat Biru dan yang lain penasaran. Entah apa yang mereka bicarakan, terlihat orang tersebut hanya mengangguk-angguk saja.


“Ngapain sih?” tanya Andi dari belakang. Dia heran melihat ketiga temannya yang sedang serius memperhatikan Heru.

__ADS_1


“Loh, Ra. Kok lu ada di sini sih? Diundang juga sama Heru?” tanya Biru terkejut mendapati adiknya di pesta. Ara menganggukkan kepalanya.


Nadia sudah merasa bosan berada di pesta. Dia meminta Arka sang kekasih untuk mengantarkannya pulang kerumah karena jam telah menunjukkan pukul 00.30. Matanya sudah mengantuk.


Melihat sang pacar yang sudah lelah, Arka pun izin pada Biru dan Andi.


“Bareng aja, Nad, Ka. Gue juga bosen nih di sini, mending kumpul sama di Basecamp nya si Galang aja, seru.”


“Ya udah pulang, pamit sama Heru dulu,” ujar Nadia.


Heru mengizinkan Biru dan yang lain untuk pulang. Lagipula acara intinya sudah dimulai sejak 30 menit yang lalu. Orang-orang hanya tinggal menikmati pestanya saja. Ada juga beberapa yang langsung berpamitan.


Setelah itu, mereka pergi menuju motornya. Orang yang dahulu menculik Nadia terlihat sedang menunggu seseorang dari kejauhan. Mereka menunggu didalam mobil memperhatikan Biru serta teman-temannya.


“Kenapa? Ada yang ketinggalan kah didalam sana?”


Ara menggelengkan kepalanya, lalu dia berjalan mendekati sang kakak dan membisikkan sesuatu. Ternyata gadis itu ingin mengatakan perasaannya kepada Andi. Biru tersenyum, mungkin ini lah waktu yang tepat untuk sang adik membalas cinta sahabatnya.


Andi dan yang lain mengerutkan keningnya, mereka penasaran apa yang Ara bisikan pada kakaknya. Tak lama Biru memanggil Andi.


Wajah Ara terlihat malu saat Andi mulai mendekat. Dia menundukkan kepalanya tak berani melihat wajah tampan sahabat sang kakak. “Ada apa, Bi?” tanya Andi.


“Si Ara katanya mau bicara berdua sama lu. Gue nunggu diseberang sana aja sama Arka juga Nadia.”

__ADS_1


Biru pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian sang kakak Ara mengangkat wajahnya memberanikan diri untuk menatap wajah cowok yang berdiri didepannya. Dia menghela napasnya lalu mengungkapkan perasaannya kepada Andi dengan cepat. Seketika cowok itu tersenyum mendengar ucapan Ara barusan. Dia meminta adik Biru untuk kembali mengulang perkataannya dengan alasan tidak mendengar.


“Ish, ya udah deh kalo nggak dengar mah,” ucap Ara cemberut. Dia kesal karena Andi terus meminta dirinya untuk mengulang perkataannya.


Andi mencubit gemas pipi perempuan di depannya, lalu mengelus lembut rambutnya dan menggenggam tangannya. Dia benar-benar bahagia dengan apa yang Ara katakan barusan. Padahal perjuangannya untuk mendapatkan Ara belum seberapa, tapi gadis itu telah menjawab cintanya duluan. Biru dan kedua sahabatnya sudah merasa bosan menunggu Andi dan Ara. Nadia menahan diri untuk tidak mengomel karena kulitnya yang digigit nyamuk.


Begitu juga dengan Arka, dia sudah beberapa menguap karena kantuk. Sedangkan Biru sibuk menepuk-nepuk nyamuk yang hinggap.


Tak lama terlihatlah Ara dan Andi yang akan melintas. Wajah keduanya terlihat sangat bahagia, Biru tersenyum senang melihatnya. Ara yang terlalu senang berjalan didepan Andi, tanpa dia sadari sebuah mobil melaju dengan sangat cepat.


“Aarraaa awas!” teriak Andi, dia dengan cepat mendorong Ara kedepan agar tidak tertabrak mobil. Namun, sebagai gantinya dia lah yang menjadi korban tabrak lari tersebut. Andi terpental, suara jatuhnya terdengar sangat keras. Sontak saja Biru dan Arka berlari menuju sahabatnya. Sedangkan Nadia membantu Ara berdiri.


Darah bercucuran deras dari kepala Andi. Biru memeluk tubuh sahabatnya, dia menitikkan air mata meminta Arka untuk segera menelpon ambulans. Ara dan Nadia pun melihat keadaan Andi, betapa sedihnya gadis itu melihat sang kekasih yang terkapar dengan darah bercucuran. Kakinya terasa sangat lemas, dia hampir saja pingsan. 10 menit kemudian ambulans telah datang, mereka langsung memasukkan kedalam mobil. Biru dan Ara ikut masuk kedalam, sedangkan Arka mengikuti dari belakang bersama Nadia.


Di perjalanan Andi sempat sadarkan diri. Dia tersenyum kepada Ara dan Biru. “Bi..., Ra. G—gue ng-gak kuat.”


“Ndi jangan bilang gitu, lu pasti kuat. Tahan ya bentar lagi kita sampai dirumah sakit. Gue minta tahan, okay!” ucapnya menggenggam tangan Andi.


“Ra, makasih u-udah nerima aku,” ujarnya tersenyum.


“Kak Andi tahan ya bentar lagi sampai kok. Kakak harus kuat Ara nggak mau kehilangan kak Andi,” jawabnya sambil menangis.


Beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Para suster langsung membawa Andi masuk ke ruang ICU. Ara dan Biru menunggu diluar, sang kakak menenangkan adiknya yang tak henti menangis. Tak lama Arka dan Nadia datang menyusul, mereka menanyakan keadaan Andi.

__ADS_1


“Bentar, gue mau hubungin bokap-nyokapnya Andi dulu,” seru Biru. Setelah memberi kabar kepada keluarga Andi, Biru kembali pada adiknya. Hari bahagianya sirna seketika karena kejadian tadi, mereka berdoa akan keselamatan sahabatnya.


__ADS_2