
Biru mengajak Andi masuk kedalam rumah kontrakannya. Baru saja akan duduk tiba tiba pintu depan terdengar suara ketukan, Biru pun berdiri kembali lalu pergi kedepan untuk memeriksa. Ternyata itu adalah Echa, gadis tersebut mengajak Biru untuk makan malam bersama dirumahnya. Awalnya si ketos menolak namun suara perutnya tidak bisa berbohong.
Sesampainya di rumah samping, terlihat wajah Ara yang sangat pucat. Biru khawatir akan keadaan sepupunya tersebut. Tapi ibu Echa menenangkan karena Ara sudah dirinya beri obat.
“Tante aku benar-benar berterima kasih, entah apa balasan untuk Tante dan keluarga nanti,” ujar Biru dengan sopan. Dirinya merasa tidak enak terus menerus merepotkan orang.
“Sudah jangan terimakasih terus, ayo kita makan bersama. Kebetulan masak banyak nih dibantuin Echa. Kamu belum pernah kan coba masakan anak Tante?”
“Hehe iya Tan,” jawab Biru sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka semua akhirnya makan malam bersama. Sedangkan Andi yang masih berada di tempat Biru merasa bosan karena sahabatnya itu tidak kunjung kembali setelah membukakan pintu.
“Bentar deh,” ujar Biru di sela-sela makannya.
Kedua orang tua Echa serta dua gadis yang ada di sana mengerutkan keningnya heran. Lalu setelah dirinya ingat Biru menepuk jidatnya karena melupakan Andi yang sedang berada dirumah. Ara menggelengkan kepalanya.
“Ada teman kamu? Kenapa nggak di ajak kesini?” tanya ibu Echa.
Biru cengengesan, dia pamit untuk memanggil sang sahabat yang sendirian. Sesampainya dirumah Biru melihat wajah Andi yang murung, dia pun meminta maaf karena telah meninggalkan makan dirumah Echa. Tidak ingin ambil pusing Andi memaafkan sang sahabat. Pukul 22.00 kedua lelaki itu masih berbincang di halaman rumah, melihat indahnya ribuan bintang yang tertata di langit. Selain itu Andi juga memberikan Biru sebuah buku novel yang baru saja dirinya beli waktu sore. Buku tersebut berjudul ”Romantisnya sang ibu dan anak.” Buku yang menceritakan kisah antara ibu dan buah hatinya, yang saling mencintai dan menyayangi.
Biru terpana dengan apa yang Andi jelaskan tentang buku tersebut. Membaca judul novel pemberian Andi mengingatkan dirinya pada sang Mama. Dimana dulu dia selalu bersama dan tak pernah kekurangan yang namanya sebuah kasih sayang. Namun, setelah sang Mama tidak ada semuanya terasa hampa, hidup Biru seperti tidak ada artinya lagi. Dia kehilangan sosok wanita yang mencintai dan menyayanginya, wanita sabar, kuat serta selalu memberikan kehangatan dalam pelukan dan senyumnya. Tidak pernah terlihat sedih, wanita itu selalu tersenyum walau orang-orang sekitar mengiranya dia wanita penggoda dan ******.
Tanpa keduanya sadari, Ara memperhatikan mereka dari balik jendela. Sepupu Biru menitikkan air matanya mendengar perbincangan kedua sahabat itu. Dirinya merasa bersalah saat memanfaatkan Biru dan memperlakukannya seperti babu saat dirumah. Padahal Mama Biru sangat baik dan perhatian padanya, saat dirinya terkena omel dan marah sang ayah, Mama Biru lah yang membelanya paling depan.
__ADS_1
“Gue punya banyak salah sama lu, maaf.”
“Kamu kenapa Ra?” tanya Echa tiba-tiba. Ara terperanjat saat Echa menepuk pundaknya.
“Nggak papa kok Ca. Ngomong-ngomong makasih ya udah mau nampung gue di sini. Nanti kalo bayi yang ada di kandungan gue udah lahir, gue bakal pindah kok.”
“Santai aja Ra, anggap rumah sendiri. Tapi maaf nih, ayahnya dimana emang?”
“Eh maaf kalo gitu nggak usah di jawab, ya udah aku permisi dulu ya, jangan kemalaman tidurnya.” Echa merasa tidak enak akan pertanyaan yang di berikan pada Ara.
Saat Echa akan melangkahkan kakinya, Ara tiba-tiba memeluknya dan mulai bercerita. Dia juga menceritakan tentang dirinya dimana sering menjual poto atau vidio vulgar di sebuah platform. Echa terkejut saat mendengar jika Ara mengedit potonya dengan poto orang lain. Selain itu Echa juga penasaran siapa orang yang telah Ara edit.
“Gila kamu ya!” ujar Echa kesal setelah Ara mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan poto.
Echa terdiam, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa pada sepupu Biru itu. Perbuatannya memang salah dan bahkan membuat Echa harus mendapat fitnah serta ancaman dari Paris. Di sisi lain, dia juga merasa kasian melihat kondisi Ara yang tidak baik. Untung saja Echa adalah gadis yang baik, dia memaafkan perbuatan Ara.
“Udah nggak papa, lagipula masalah aku di sekolah tentang poto itu udah di selesaikan sama Biru, sepupu kamu.”
“Ca makasih ya, lu orang baik. Gue janji bakal balas semua perbuatan lu ini,” ucap Ara menangis dan memeluk tubuh Echa erat.
Kembali pada Biru dan Andi. Mereka berdua ternyata sudah tertidur pulas di halaman rumah. Sampai pagi tiba, Ayah Echa yang akan berangkat bekerja kaget melihat dua pemuda yang tidur di luar. Setelah dibalik tubuhnya ternyata itu adalah penghuni rumah kosongnya. Ayah Echa pun membangunkan keduanya untuk mandi dan sekolah. Andi melihat jam yang melingkar di tangannya, pukul 07.00. Cowok itu terkejut dan langsung berdiri.
“Kenapa?” tanya Biru.
__ADS_1
“Gawat Biru, Oma gue mau datang.”
“Terus? Kenapa lu panik?”
“Masalahnya gue harus udah ada dirumah sebelum dia datang. Kalo nggak bisa habis gue, bakal kena semprot tiap saat dan kunci motor pasti disita. Lu tahu sendiri kan gimana Oma gue?”
“Iya juga sih, ya udah sana balik. Moga Oma lu belum datang,” titah Biru.
“Om, saya pamit pulang. Biru duluan ya, entar ketemu lagi di sekolah.” Andi mencium punggung tangan ayah Echa. Setelah itu pergi dengan motornya, meninggalkan Biru dengan pak Didi.
“Ya sudah, kamu sana siap-siap sekolah. Nanti telat,” ucapnya.
“Baik Om.”
Beberapa menit kemudian Biru kembali keluar dengan berpakaian lengkap. Sebelum pergi dia mampir kerumah Echa sebentar untuk melihat apakah Ara pergi sekolah atau tidak. Ternyata sepupunya itu tidak berani lagi untuk sekolah, Biru hanya diam melihat Ara yang seperti itu. Lelaki tersebut meminta Ara untuk menunjukkan poto Heru, namun gadis itu menolaknya. Takut jika Biru berbuat apa-apa terhadap kekasihnya.
Dia tahu bagaimana Biru jika sudah marah. Pasti Heru akan dia hajar sampai babak belur, lalu menyuruh Heru meminta maaf. “Ikuti perkataan gue sekarang Ra, demi kebaikan lu sendiri. Gue nggak mau laki-laki brengsek itu lari gitu aja dari tanggungjawab nya.”
“Tapi Biru...”
“Apaan sih Ra. Nggak ada tapi-tapian, lu mau bayi itu lahir tanpa ayah?” Dengan ragu Ara memberikan ponselnya dan menunjukkan poto Heru. Biru akui kekasih Ara sangatlah tampan, namun tidak dengan otaknya yang brengsek.
“Masih gantengan gue,” ujar Biru pelan membuat Ara terkejut.
__ADS_1