
“Aelah, ketahuan kan. Lu berdua sih ah,” gerutu Andi.
Sebuah suara terdengar, suara itu memanggil Biru menggunakan mikrofon. Semuanya heran dan penasaran. Para murid menghampiri suara tersebut, ternyata itu adalah Pak Baba sang kepala sekolah. Saat Biru sudah sampai di sana, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Sontak saja hal itu membuat para siswa, guru juga Biru terkejut. Pak Baba mempermalukan Biru didepan semua orang, dia menuduhnya bahwa Biru telah membawa kabur Ara, anaknya.
“Jangan asal tuduh ya, paman sendiri yang usir Ara dan menyuruh saya untuk membawa anak paman itu! Maksudnya apa ini? Paman mau mempermalukan saya didepan mereka? HAH!!”
“Lihat, dia berani melawan orang tua. Kepala sekolah, dia tidak pantas untuk jadi ketua osis di sekolah ini.”
“Emangnya saya mau jadi ketua osis? NGGAK! Itu semua pilihan para siswa, kemauan mereka yang menginginkan saya sebagai ketua osis.”
Sekali lagi sebuah tamparan mendarat, Andi, Echa menelan ludahnya. Hal yang membuat semuanya terkejut adalah disaat Echa maju untuk membela Biru. Pak Baba tak sengaja mendorong Echa sampai terjatuh ke lantai, awalnya dia ingin melakukan itu kepada Biru. Sikap dan sifat Pak Baba yang seperti itu membuat dirinya menjadi bahan omongan orang-orang disekolah. Para guru juga tidak menyangka akan kelakuan kepala sekolah, yang selama ini memiliki citra baik.
Biru pergi sembari menggandeng lengan Echa dari tempat tersebut. Andi dan kedua temannya menyusul, ingin melihat keadaan Biru setelah di tampar dua kali oleh Pak Baba. Omongan dan tamparan tadi sudah pasti membuat hati Biru sakit, apalagi pamannya itu berbicara di depan banyak orang. Biru yang awalnya ingin berubah menjadi siswa baik dan menjalani tugasnya sebagai ketua osis, kini sirna. Dia memutuskan untuk terus menjadi Biru yang orang-orang kenal, cowok nakal dan berandal. Dia juga akan keluar dari organisasi.
“Pipi kamu merah,” ucap Echa memperhatikan wajah Biru dengan seksama.
“Gue nggak papa, btw ada yang sakit? Sorry Ca gara-gara gue lu tadi kena dorong Pak Baba.”
“Iya nggak papa, kamu sabar ya. Aku paham kok sama apa yang sekarang kamu hadapi, tetap semangat.” Entah mengapa dirinya merasa nyaman saat bersama dengan Echa. Andi, Arka dan Nadia datang membuat suasana menjadi canggung, sebab tangan Biru yang terus menggenggam Echa. Andi menanyakan keadaan sang sahabat, begitupun dengan dua teman lainnya.
Siang berganti sore, anak sekolah mulai berkeluaran gerbang. Biru pulang tanpa Andi, dia menyalakan motornya berkeliling untuk mencari pekerjaan. Uang yang masih tersisa itu tidak akan cukup untuk menghidupi dirinya sendiri, apalagi ditambah dengan adanya Ara. Sudah pasti Biru akan kekurangan uang, dia tidak berani dan tak mau lagi meminta pada sang Bibi apalagi pamannya mengingat kejadian di sekolah tadi.
__ADS_1
Sudah 1 jam berlalu, matahari pun mulai terbenam namun Biru tak kunjung pulang. Ara yang menunggu kepulangan sepupunya merasa khawatir, walau dia tahu jika lelaki itu sudah biasa pulang malam. Echa yang melihat Ara duduk didepan rumah Biru menghampirinya.
“Belum pulang?” tanya Echa.
“Belum, kira-kira Biru kemana ya? Gue takut kalo dia samperin Heru terus berantem. Apalagi Heru banyak anak buahnya, dia pasti akan menghajar Biru sampai babak belur.”
Baru saja di omongi, Biru datang. Wajah tampannya baru terlihat saat dia membuka helm. Ara terkejut, benar saja apa yang di pikirkan olehnya tadi, nampak wajah Biru memar dan ada noda merah di pinggir bibirnya. Echa seketika maju membersihkan noda tersebut.
“Gue nggak papa, sana balik.”
“Gue khawatir sama lu, bego!” omel Ara.
“Tumben,” ucap Biru.
Biru menghela napasnya. Memegang pundak Ara lalu tersenyum. “Lebay lu, sana balik. Bawa nih anak ronggeng Ca.”
“Ck! Ngeselin nih anak,” ujar Ara menjitak kepala Biru. Sedangkan Echa hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Biru yang tak sengaja melihat senyuman Echa pun langsung memegang dadanya. “Manis banget lu Ca, please nih jantung gue kenapa sih?” gumamnya.
Biru merasakan ada yang berbeda pada dirinya saat berdekatan dengan Echa. Detak jantungnya selalu berdegup kencang, namun dia tidak tahu jika itu adalah pertanda bahwa dirinya sedang jatuh cinta.
Hari demi hari Biru lalui dengan tabah. Dia masih berusaha mencari pekerjaan, karena mengandalkan balapan saja tidak cukup. Sebab event balapan tidak dilaksanakan setiap hari. Kali ini orang tua Andi datang ke kantor polisi untuk menjemput sang anak. Perkelahian antara Biru, Andi , Heru serta yang lainnya membuat mereka dibawa. Oma Andi menjamin cucunya dan Biru, jika keduanya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi. Polisi pun mengizinkan keluarga Andi membawa dua remaja tersebut pulang.
__ADS_1
Ayah, ibu, Echa dan Ara menunggu kepulangan Biru. Sesampainya dirumah mereka menyambutnya dengan hangat, Biru merasakan sebuah kasih sayang dari keempatnya. Masih ada orang yang khawatir akan keadaannya, selama ini dia hanya peduli dengan hidup Ara sang sepupu. Dimana gadis itu akan segera melahirkan, dan Biru sangat membutuhkan banyak uang untuk biaya persalinan sang sepupu. Pak Baba serta istrinya sama sekali tidak peduli terhadap anak mereka.
Malam harinya, Biru dengan percaya diri berkata ingin belajar membuat cake pada ibu Echa. Orang-orang yang ada di sana menghentikan aktivitas makannya.
“Kenapa tiba-tiba lu minta di ajarin buat cake?” tanya Ara mengernyitkan dahi.
“Kepo lu,” jawab Biru.
“Tante gimana? Mau nggak ajarin Biru buat cake?” sambungnya menunggu jawaban dari ibu Echa. Dia berharap perempuan yang sudah tidak muda lagi namun masih cantik mau membantu dirinya.
“Memangnya kenapa nak Biru minta di ajarin buat cake?” tanya Ayah Echa.
“Hehe sebenarnya aku ingin buka usaha kecil-kecilan Om, biar nggak selalu merepotkan keluarga Om. Aku merasa tidak enak, bingung juga mau membalas kebaikan kalian. Apalagi Ara akan segera melahirkan, aku butuh uang banyak.”
Ayah Echa menepuk pundak Biru, dia merasa kagum akan pemuda itu. Bertanggungjawab atas hidup sepupunya yang belum tentu bisa menghidupi dirinya sendiri. Begitupun dengan Echa dan ibunya, mereka memuji Biru sebagai lelaki yang bertanggungjawab. Ingin bekerja keras walau masih sekolah. Hidup yang sebatang kara membuat Biru menjadi lelaki kuat akan menjalani kehidupan.
“Ya sudah besok sekolah libur kan? Tante ajarin kamu buat cake, gimana?”
“Siap Tante, makasih Tan udah mau bantu aku.”
“Ara juga mau bilang makasih sama Tante sekeluarga karena telah menerima Ara di sini beberapa bulan.”
__ADS_1
“Iya sama-sama, bilang makasih mulu dari bulan kemarin. Kalo di tabung udah banyak tuh kata makasih,” ujar ibu Echa.