BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 35


__ADS_3

Hari dimana mereka akan pergi bersama akhirnya tiba. Echa berpenampilan biasa saja. Namun, Ara langsung mengubah Echa menjadi gadis yang cantik, sudah pasti jika nanti Biru melihatnya akan terkesima. Bahkan dirinya sendiri pun terkejut melihat wajahnya yang sudah Ara poles dengan makeup. Seperti bukan Echa, dia benar-benar berbeda.


Sedangkan Ara memuji keahliannya dalam merias wajah. Memang jangan diragukan lagi, dia sejak dulu sudah sangat pandai. Makanya banyak lelaki yang suka pada dirinya. Termasuk Galang, rival Biru.


Mereka berlima sudah berkumpul ditempat yang dijanjikan. Melihat pacarnya begitu cantik Biru sampai terpana, matanya tak lepas dari pandangan Echa. Andi dan Ara berdehem bersamaan, membuat Biru salah tingkah. Sedangkan pipi Echa seketika memerah, tak lama mereka melanjutkan jalan-jalannya. Di setiap perjalanan entah setan apa yang merasuki Biru, cowok itu terus saja berbisik menggoda sang kekasih. Itu merupakan hal yang langka.


Dibelakangnya, Andi melirik kepada Ara yang tengah menggendong Senja. Dia terlihat gugup saat jalan berdampingan. “Aduh! Nih jantung gue kok tiba-tiba nggak karuan ya deket si Ara? Arrggg...., gue mau teriak,” gumamnya.


“Kak, aku ke sana dulu ya,” ujar Ara sembari menunjuk tempat yang daritadi Senja perhatikan.


Biru mengangguk mengizinkan. Dia juga meminta Andi untuk menemani adiknya. Ara yang masih canggung akan ucapan Andi semalam pun hanya diam. Begitu juga dengan Andi, dia hanya berucap, “Hm” saja. Mereka berpisah, Biru menarik lengan Echa ke salah satu tempat yang sudah dia siapkan. Saat sampai Echa begitu senang tenyata si ketua osis merupakan lelaki yang sangat romantis.


Dibawah pohon yang rimbun, angin semilir dan banyaknya bunga disekitar membuat suasana menjadi bagus. Di sisi lain, Andi mencoba dekat dengan Senja, mengajak gadis itu bercanda padahal niatnya adalah ingin lebih dekat lagi dengan Ara.


Orang-orang yang berlalu lalang melihat kearah mereka bertiga. Mungkin dianggapnya ketiga orang tersebut merupakan pasangan muda. Jika dilihat-lihat Ara dan Andi sangatlah cocok.


“Suaminya ganteng, anaknya manis, ibunya cantik,” celetuk salah satu ibu-ibu.


Ingin menjawab bukan pasangan malah dihentikan oleh Andi. Sepertinya lelaki itu sengaja, agar orang yang ada di sana melihat dia dan Ara sebagai pasangan suami istri muda. Sedang asik bermain bersama, seorang lelaki yang sangat Ara benci tiba-tiba saja datang menghampiri. Heru berpikir jika anak yang tengah dipangku itu adalah anaknya bersama Ara. Heru tidak tahu jika anak tersebut merupakan anak kandung Tita dengannya.


“Sini sayang sama Papa,” ujar Heru pada Senja. Ara melotot tak percaya akan ucapan mantannya. Saat Heru akan meraih tangan Senja, Andi langsung menariknya.


“Maksud lu apa? Ganggu kesenangan kita aja,” cetus Andi.

__ADS_1


“Salah emang kalo gue mau pegang anak gue dan Ara? Lu jangan coba-coba ngehalangi.”


“Cih! Anak lu sama Ara? Nggak salah? Asal lu tahu dia itu anak lu sama.....,” ujar Andi namun terpotong karena datangnya Arka dan Nadia.


Heru langsung pergi saat Arka dan Nadia datang. Ara menghela napasnya lega karena kepergian sang mantan. Di tempat lain, Sasa yang masih belum kapok juga akan pelabrakan waktu itu, dia masih jalan dan menjalin hubungan dengan suami orang. Kini dia tengah makan disebuah restoran mahal dan mewah. Tak hanya itu saja, perempuan berusia 19 tahun tersebut juga belanja barang-barang yang sangat mahal.


Si lelaki juga meminta maaf atas tindakan istrinya pada Sasa. Dia berkata sudah memarahi sang istri untuk tidak ikut campur lagi dalam hubungannya. Sasa tersenyum licik, dia berhasil memanfaatkan lelaki tua itu dan bahkan membuatnya akan berpisah dengan istri sah.


Nenek dan keluarga lainnya mengira jika anaknya telah berubah. Namun, kenyataan tidak. Padahal Sasa terlahir dari keluarga kaya raya, keluarganya mampu membiayai semua kebutuhan dia. Mengapa gadis itu memilih untuk berjalan dengan suami orang lain?


Kembali pada Biru dan Echa. Mereka berdua masih menikmati pemandangan didepannya tanpa ada orang yang mengganggu.


“Biru, kamu tahu nggak apa yang lebih indah dari bunga-bunga ini?”


“Kebersamaan kita. Aku menganggap kebersamaan kita ini merupakan hal yang paling indah. Momen yang tidak akan aku lupakan,” ujarnya.


“Dan mungkin kita nggak bakal kayak gini lagi setelah lulus nanti,” sambungnya dalam hati. Memandang wajah Biru dengan lekat.


Biru memegang kedua pipi pacarnya. “Kita akan terus bersama, kamu adalah wanita pertama yang membuat aku nyaman!” Echa hanya tersenyum atas perkataan sang kekasih. Ada perasaan sedih dalam hatinya, bagaimana reaksi Biru saat tahu nanti. Dia merasa tidak yakin jika menjalani hubungan LDR akan berlangsung lama. Melihat raut wajah Echa seperti sedih Biru pun bertanya. Namun, pacarnya itu hanya menggelengkan kepalanya saja lalu mengalihkan topik.


Andi yang tadinya berniat menyatakan cintanya kembali dia urungkan karena adanya Arka dan Nadia. Keempat remaja itu terlihat bahagia, senyuman lebar terpancar dari wajah mereka. Berbincang dan bercanda ria juga tak lupa memperhatikan Senja yang tengah bermain.


“Senjaa,” teriak Ara dari tempat yang tak jauh dengan Senja. Ternyata dia berteriak karena gadis kecil itu terjatuh bertabrakan dengan anak lain. Setelah Ara hampiri, betapa senangnya hati dia saat kembali melihat Langit.

__ADS_1


Bu Miya yang masih ingat dengan wajah Ara pun menyapanya baik. Dia meminta maaf karena telah membuat Senja terjatuh gara-gara anaknya.


Andi dan kedua temannya memperhatikan dari jauh. Heran mengapa raut wajah Ara terlihat senang memegang anak cowok didepannya.


“Sedang jalan-jalan juga sama anaknya? Eh atau adik?” tanya Bu Miya.


“Ini adik teman saya Tante. Ngomong-ngomong kalo boleh aku tahu nama anak Tante siapa ya?”


“Namanya Langit.”


Langit Pramudya Ananta,” jawabnya memberikan senyum.


“Nama yang bagus, ganteng banget Langit pasti Papanya juga cakep kayak anaknya.”


“Bisa aja. Dia siapa namanya, anak yang cantik,” ucap Bu Miya.


Ara memberitahu nama Senja. Dan pada akhirnya mereka berdua saling mengobrol, Ara lupa jika dirinya mengabaikan ketiga teman sang kakak yang sedang duduk menunggu. Dia keasikan apalagi ada Langit disisinya.


“Kayaknya mau turun hujan, kalo begitu saya pamit pulang dulu ya.”


“Oh iya Tante. Aku boleh minta nomornya nggak? Biar kapan-kapan bisa main bareng lagi, dan sepertinya Langit jyga Senja sudah sangat akrab,” pinta Ara.


“Baiklah, silahkan catat nomornya,” seru Bu Miya. Setelah mendapatkan nomor Mama Langit, Ara mengucapkan terimakasih lalu kembali pada Andi, Arka dan Nadia sembari menggendong Senja.

__ADS_1


Cuaca yang sudah cukup gelap karena akan turunnya hujan. Maka mereka memutuskan mencari tempat untuk berteduh nanti. Sebelum itu mereka juga mencari keberadaan Biru dan Echa yang berpisah dengannya.


__ADS_2