
Ara menangis tak percaya, ternyata selama ini dia adalah anak Mama Biru. Pantas saja hanya dia yang selalu peduli padanya dari dulu, dimana orang tuanya memarahi Mama Biru akan membela. Dia merasa bersalah karena sebelum Mama kandungnya meninggal dan tersebarnya rumor bahwa dia wanita ****** Ara membencinya dan tidak mau lagi bertemu.
“Kalian jahaattt! Kenapa? Kenapa kalian baru memberitahu?!” teriaknya histeris. Ibu Echa memberikan Senja kepada anaknya dia akan mengambil anak Ara. Kondisinya yang seperti itu takut terjadi apa-apa pada si bayi.
“Andi, Echa kalian berdua keluar saja. Bawa Senja biar anak Ara ibu yang urus bersama ayah.”
“Baik Bu, ayo Ndi.” Andi mengangguk mengikuti langkah Echa. Mereka tak kalah shok saat tahu semua kebenarannya. Begitu menyedihkannya kehidupan Ara, sedari kecil sudah tak di inginkan oleh Papanya. Sampai dirinya sendiri menjauhi Mama kandungnya cuman karena rumor yang tak benar itu, padahal mereka berdua selalu bersama.
Setelah itu pak Baba dan istrinya pergi meninggalkan Ara yang masih terkejut akan semua. Dua manusia tersebut menyunggingkan senyum. “Biarkan dia tahu semuanya Yah, ” ujar sang istri.
“Ya biarkan saja. Lagipula kita tidak akan repot lagi mengurusnya, tapi bagaimana dengan bayi itu? Apa kita berhenti saja?”
“Sudahlah Yah jangan memikirkan bayinya lagi. Kita pakai saja uang dari Mamanya Biru, itu kan masih tersisa banyak.”
Ternyata selama ini Biru tidak pernah kekurangan uang, semua hartanya di simpan oleh sang paman dan bibi tanpa sepengetahuan dirinya. Namun selama hidup dengan mereka, Biru selalu mencari uang sendiri untuk kebutuhannya. Itu pun kadang di ambil oleh mereka berdua.
Kini Ara bukanlah sepupunya melainkan adik kandungnya. Dia akan terus dan lebih keras lagi mencari uang dengan hasil berdagang cake untuk menghidupi sang adik bersama anaknya. Berusaha tidak mencari masalah di sekolah dan belajar dengan giat, itulah yang ada di pikiran Biru.
Andi dan Echa merasa geram akan sikap pak Baba dengan istrinya. Mereka tak menyangka ada manusia seperti itu hidup di dunia.
“Ca gue boleh gendong Senja nggak?”
“Emangnya kamu bisa Ndi? Hati-hati loh ini bayi,” ujarnya. Andi mengangguk dan Echa memberikan Senja padanya. Lelaki itu terlihat senang dan merasa gemas dengan bayi perempuan tersebut.
__ADS_1
Raut wajah si bayi pun terlihat bahagia. Tidak rewel dan selalu tertawa membuat siapa saja yang melihatnya akan terhipnotis dengan senyumnya.
Biru keluar menghela napas melihat Echa dan Andi bak suami istri. Dia berjalan menghampiri kedua temannya, “Ca ini uang sewa bulan sekarang, tolong kasih ke nyokap lu.”
“Eh kenapa nggak kamu kasih langsung aja di dalam sama mereka?” ucap Echa memegang amplop coklat.
“Gue titip ke lu aja, ya udah lanjut,” ujarnya lalu pergi meninggalkan kedua temannya. Andi tidak menyadari bahwa Biru cemburu akan kedekatannya dengan Echa. Cuaca hari ini begitu panas, Biru pergi ke kantin untuk membawakan ayah dan ibu Echa minuman. Saat sedang menunggu minuman dia tidak sengaja bertemu dengan Sasa. Mereka berdua mengobrol, ternyata gadis itu tidak masuk sekolah di karenakan harus menjaga sang nenek.
Sasa mengajak Biru bertemu dengan neneknya. Pada saat akan menolak kedua orang tua Sasa datang menghampiri. Terpaksa dia pun ikut menjenguk nenek teman sekelasnya itu sebentar. Di dalam ruangan, sang nenek menganggap Biru adalah kekasih si cucu. Perempuan tua tersebut begitu senang saat tahu cucunya sudah memiliki pasangan. Dia juga berpesan kepada Biru untuk selalu menjaga Sasa.
Kedua orangtuanya tersenyum, mereka juga menganggap Biru adalah kekasih anaknya. Sasa menyunggingkan bibirnya.
“Nek, Sasa keluar dulu ya.”
“Iya.” Sasa keluar di susul Biru. Si ketos memintanya untuk menjelaskan bahwa mereka berdua tidak memiliki hubungan. Namun Sasa menolak karena neneknya dalam keadaan sakit, dia justru ingin Biru untuk berpura-pura menjadi pacarnya.
“Bantu gue Biru, biar nenek gue cepat sembuh.”
“Nggak! Gue bilang nggak ya nggak, ngerti?” tolak Biru. Dia benar-benar tidak mau berbohong kepada nenek Sasa. Gadis di depannya terdiam mendengar ucapan Biru dengan nada yang sedikit keras. Mendapatkan hati seorang Biru tak semudah membalikkan telapak tangan. Dia adalah cowok keras, sekali suka pada perempuan maka akan dia perjuangkan, tidak akan melirik perempuan lain selain crushnya.
Setelah Biru pergi meninggalkannya. Sasa menggerutu sendiri, taruhannya dengan teman-teman membuat dirinya harus lebih berusaha lagi mendekati si ketua osis.
Biru pamit keluar pada semuanya, di perjalanan tak sengaja melihat Heru dengan seorang perempuan. Laki-laki itu bersenang-senang dan memanjakan kekasihnya. Ingin rasanya Biru memukul Heru, namun akan percuma saja. Dia tidak akan menggubris perkataannya.
__ADS_1
Di saat sedang asik dengan kemesraannya. Seorang wanita tua datang menghampiri Heru dan langsung memukul serta memaki. Ternyata dia adalah nenek Tita, perempuan yang telah Heru hamili, si nenek menanyakan keberadaan cucunya.
“Tita siapa sih? Gue nggak kenal sama cewek yang namanya Tita, sana pergi!”
“Jangan bohong kamu! Saya masih ingat kamu datang kerumah menjemput cucu saya waktu itu,” ucapnya.
“Lu itu udah tua, pasti salah lihat. Gue nggak akan pacaran sama cewek miskin! Ayo sayang kita pergi saja,” ujarnya mengajak sang kekasih pergi.
Nenek bernama Ijah itu menangis tak mendapati cucunya kembali. Dia bingung harus mencari kemana lagi Tita, padahal sebenarnya sang cucu telah meninggal dunia hanya menyisakan bayinya saja yang kini di asuh oleh keluarga Echa. Nek Ijah berjalan lesu, lelah, namun terus berusaha mencari. Sampai di sebuah rumah mewah dia pingsan. Untung saja seorang perempuan menemukannya dan langsung di bawa kedalam rumah.
Setelah Nek Ijah sadar, si perempuan bertanya-tanya. Bukannya menjawab dia justru menangis dan beranjak dari tidurnya. “Nek mau kemana?” tanya Mama Andi.
“Terima kasih telah menolong nenek.”
“Iya nek, tapi kondisinya belum pulih lebih baik istirahat dulu saja di sini. Cuaca sangat panas di luar sana,” ucapnya. Tiba-tiba Oma Andi datang, dia baru saja pulang. Di susul oleh papa Andi. Mereka pulang kerumah sendiri-sendiri.
Suami dan mertuanya bertanya siapa perempuan itu, Mama Andi pun menceritakan bahwa dirinya menemukan si nenek di luar rumahnya. Oma Andi mendekat dia bertanya pada si nenek apa yang terjadi dan menanyakan kesehatannya.
“Memangnya ibu ini mau kemana?”
“Saya mau mencari cucu saya, dia hilang entah kemana. Saya sangat khawatir,” ucapnya sambil menangis.
“Terakhir cucunya pergi kemana dan sama siapa nek? Gini saja, gimana nenek istirahat dirumah kaki dulu. Tunggu keadaaan nenek membaik baru melanjutkan pencariannya, saya akan membantu.” Papa Andi melirik istrinya, jika dia membantu si nenek lalu bagaimana dengan pekerjaan yang sangat dia tekuni itu. Si istri lupa memberitahu suami, mertua dan anaknya bahwa dia sudah resign dari kantor, akan berdiam dirumah menjaga sang anak dan merawat mertuanya.
__ADS_1
“Dia terakhir pergi sama pacarnya, tadi saya juga sudah bertanya pada lelaki itu namun dia berkata tidak tahu.”
“Lebih baik saya pergi saja tidak enak merepotkan orang lain,” sambungnya.