BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 38


__ADS_3

Andi menyenggol lengan Biru. Sedangkan orangnya heran mengapa banyak para murid yang menyoraki namanya untuk bernyanyi.


“Kenapa?” tanya Biru.


“Lu nyanyi ege! Cepetan, daripada lu galau kayak gitu mending menghibur diri bareng kita semua,” jawab Andi.


Biru menghela napasnya dan mengambil gitar yang Andi pegang. Suasana di kantin seketika hening tak ada suara kecuali suara yang keluar dari mulut Biru. Mereka mendengarkan lagu yang si ketos nyanyikan. Setelah selesai orang-orang bersorak kembali meminta Biru terus bernyanyi namun oleh Andi dihentikan sebab makanan mereka sudah datang. Walau kecewa, tapi setidaknya mereka semua telah mendengarkan suara Biru, yang selama bersekolah cowok tampan itu tidak pernah menyanyi.


Beberapa siswi kembali ke kelas. Mereka masih membicarakan soal Biru yang nyanyi dikantin. Berita itu langsung saja tersebar ke seluruh kelas dan juga sampai ke telinga Echa. Bara yang tidak tahu siapa Biru langsung bertanya pada gadis disampingnya.


“Oh jadi yang namanya Biru itu cowok paling populer disekolah? Seorang ketua osis tampan namun nakal?”


“Iya, btw lu murid baru kah? Siapanya Echa kok berduaan terus?” tanya murid yang ditanya Bara.


“Ca. Kalo udah punya cowok jangan deket sama cowok lain dong. Kasian tahu cowok lu, tapi kalo udah bosan mending buat gue aja,” seru murid lainnya.


Bara mengerutkan kening, “jadi Echa udah ada cowok?” ucapnya dalam hati. Cowok itu melihat kesamping, lalu memberikan senyuman.


Pukul 07.15 Biru dan antek-anteknya telah selesai makan seblak. Mereka berjalan berdampingan, para siswi yang berkumpul diluar melihat kearah empat murid tersebut. Popularitas mereka tak pernah pudar walau masih banyak disekolah itu murid-murid yang lebih keren. Nadia yang sudah terbiasa pun berjalan bak model profesional, namun dia harus keseleo dan membuat Arka yang berada disamping langsung menangkapnya.


“Ini nih couple favorit gue, ahhh gila!” seru para murid.


Setelah kejadian tadi keempatnya kini sudah berada didepan kelas. Andi dan yang lain masuk terlebih dahulu sedangkan Biru duduk diluar. Echa yang melihat sang kekasih langsung saja menghampirinya diikuti Bara. Mereka berkumpul, tak lama datanglah Paris. Tiba-tiba saja cowok itu menarik tangan Echa guna mengajaknya pergi untuk berbicara berdua.

__ADS_1


Saat Biru akan menarik tangan yang satunya untuk menahan kepergian sang kekasih, Bara terlebih dahulu melakukan itu. Semua murid melihat kejadian itu, tak percaya jika Echa disukai tiga cowok sekaligus. Biru berdehem membuat Bara melepaskan genggamannya, begitu juga Paris.


“Echa cewek gue! Nggak ada satu pun yang bisa deketin dia, ayo Ca,” ucap Biru dengan wajah datarnya. Aura dingin sang ketua osis mulai terlihat kembali, Andi dan kedua temannya yang mendengar suara Biru dengan keras langsung keluar kelas.


“Ada woy?” tanya Nadia penasaran.


“Lah mau kemana tuh anak?” sambung Andi melihat kepergian Biru membawa Echa.


Diparkiran sekolah, Echa meminta maaf pada Biru. Awalnya dia ingin berangkat bersama namun sang ibu menyuruhnya untuk pergi dengan Bara. Sebab, hari pertama teman kecilnya itu masuk kesekolah. Selain itu, Echa juga merasa tidak enak pada kekasihnya yang telah berjalan dengan lelaki lain. Belum selesai gadis itu bercerita, Biru menyimpan jari telunjuknya dibibir Echa.


“Aku akui cemburu lihat kamu sama cowok itu. Tapi mau gimana lagi, itu semua permintaan dari Tante Tania.”


“Kamu tenang aja, aku sama Bara cuman sebatas teman doang kok,” jawab Echa.


“Ca, maaf kalo misalkan selama setahun ini aku belum bisa bikin kamu bahagia. Kalo misalkan suatu hari ada apa-apa I beg you to continue to be the Echa that I know.”


“Kenapa ngomong gitu? Aku nggak akan berubah, tetap jadi Echa yang kamu kenal. Sebenarnya aku mau jujur sama kamu, kalo aku...”


“Kalo aku....? Apa?”


“Lulus nanti aku akan lanjut Ke luar negeri, apa kamu nggak masalah?”


“Itu semua hak kamu mau lanjut kemana juga. Aku nggak bisa larang karena itu semua demi masa depan kamu sendiri, Ca.”

__ADS_1


“Kuliah bareng Bara di Aussie,” ucap Echa menunduk.


Biru terdiam, dia sebenarnya tidak masalah jika Echa harus kuliah di luar negeri. Namun, jika di sana ada Bara juga perasaannya menjadi tidak enak. Kebersamaan setiap hari akan mendatangkan yang namanya cinta. Apalagi Bara yang sangat ibu Echa kagumi, selain tampan dan pintar dia juga anak teman dari ayah sang kekasih.


“Oh sama dia, nggak papa Ca. Aku di sini bakal nunggu kamu terus, nanti jaga diri baik-baik ya di Aussie.” Echa memeluk Biru, seharusnya dia tidak bilang jika kuliah di sana bersama dengan Bara, itu terlihat dari raut wajah Biru yang tak suka. Tak lama datanglah Bara menyusul, dia tersenyum pada si ketos lalu mereka berdua berkenalan dan mengajak Echa pergi melanjutkan berkeliling sekolah.


“Gue ketua osis di sini, biar gue aja yang ngajak lu lihat-lihat sekolah. Echa siswa biasa dia harus belajar sebentar lagi bel masuk.”


“Kebetulan lu juga belum keruang guru, sekalian nanti gue yang antar,” sambung Biru, dia mencegah sahabat kecil Echa untuk membawa pergi sang kekasih.


“Okey bro! Kita mulai darimana?” ujar Bara melihat sekeliling. Mereka berdua pun mulai berkeliling sedangkan Echa kembali ke kelasnya.


Di setiap perjalanan Bara saja yang bicara, si ketos hanya mendengar dan sesekali menjelaskan. Saat mereka berdua sudah selesai dan tinggal pergi keruang guru, langkah Biru yang berada didepan langsung terhenti di saat Bara berkata menyukai dan mencintai Echa sejak mereka lama. Si ketos sama sekali tak membalikkan badannya menghadap teman kecil sang kekasih, dia mencoba untuk tidak mendengar ucapan Bara yang barusan.


“Cepetan masuk! Gue mau ke kelas duluan,” titahnya tanpa melihat wajah Bara.


“Gue minta lu putus dari Echa!” ujar Bara yang langsung saja membuat si ketua osis terdiam. Dia menghela napasnya lalu berjalan kembali menuju Bara.


“Ambil Echa kalo dia mau sama lu!” ucapnya dengan wajah datar.


“Itu urusan gampang, karena orang tua gue dan Echa udah sepakat mau menjodohkan kita berdua. Jadi gue minta lu menjauh dari Echa mulai sekarang,” jawabnya.


Biru menelan ludahnya, dia sudah dapat menebak dari sikap Tante Tania kepada Bara yang sangat baik dan ramah. Menyambut kedatangan lelaki itu dengan wajah bahagia. Ternyata keluarga mereka sudah bersepakat akan menjodohkan anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2