
Andi langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah itu dia ke kamar mandi untuk membersihkan sepatunya. Tak lama bel masuk kembali berbunyi, dia pun dengan segera menyelesaikannya. Beberapa jam berlalu, semua murid tengah bersiap pulang kerumahnya masing-masing.
Hari ini Biru tidak membuka kedai cakenya karena harus membantu Bu Tania dan Ara mencari Nugraha. Menunggu informasi dari polisi tak kunjung mereka dapatkan.
Biru menyalakan motornya, pada saat Andi akan memperlihatkan rekaman itu pada si ketos, tiba-tiba seseorang menyenggolnya. Tanpa dirinya sadari orang tersebut telah mengambil sesuatu dari saku celananya. Mereka berdua saling meminta maaf, setelahnya Andi segera menghampiri sang sahabat.
“Biru tunggu!” cegah Andi.
“Apa? Mau numpang lu?”
“Bukan, nih bentar lihat deh. Tadi gue udah dapet bukti kalo si Sasa sama Heru yang jebak Echa.” Andi merogoh saku celananya, tapi sayang barang yang dia cari tidak ada. Raut wajahnya berubah, meminta Biru untuk menunggu sebentar. Andi melihat bawah, kanan dan kiri mencari barang tersebut akan tetapi tak kunjung dia temui.
Biru yang buru-buru terpaksa meninggalkan Andi dan akan bertemu lagi saat berkumpul nanti. Sang sahabat hanya mengangguk saja dia mengerutkan kening heran mengapa ponselnya itu tidak ada dalam saku celana.
Dia mencoba mengingat kembali. “Ah sial! Dimana sih ponsel gue, kok bisa nggak ada? Perasaan gue simpan di celana.”
Dari kejauhan Sasa dan Heru bertepuk tangan. Keduanya tersenyum karena telah berhasil mengambil ponsel milik Andi. Mereka berdua juga tidak segan mengakui kesalahannya pada sahabat Biru tersebut. Andi tengah berdiri memikirkan kemana hilangnya ponsel itu, tiba-tiba dua manusia licik mendekat lalu berbisik.
“Semoga vidionya masih ada ya.” Sontak Andi melihat sampingnya. Heru memberikan ponsel itu kepada pemiliknya sembari memberikan senyuman.
__ADS_1
Sasa dan Heru pergi begitu saja setelah mengembalikan ponsel Andi, mereka berdua melambaikan tangan. Andi terdiam tangannya terkepal, merasa kesal akan kelakuan dua manusia tersebut. Dia juga segera memeriksa vidio yang telah dirinya rekam namun, sayangnya vidio tersebut sudah tidak ada lagi di ponselnya. “Sialan mereka, awas aja gue bakal cari bukti lagi.”
Sore berganti malam, Ara dan Biru menghela napas bersamaan dengan kasar. Mereka berdua seperti sudah lelah mencari Nugraha yang tak kunjung ditemui. Walau hatinya masih belum terima akan hilangnya sang anak, Ara berusaha tegar dan sabar. Sudah banyak merepotkan orang-orang di sekitarnya, apalagi ibu Echa dan pak Rangga. Mencoba ikhlas dan berdoa agar Nugraha selalu dalam lindungan Tuhan.
Di teras rumah, Biru yang melihat Echa akan keluar menghentikannya. Si ketos mengambil ponsel lalu menunjukkan poto itu, Echa menelan ludahnya takut jika sang kekasih marah padanya. Tetapi kenyataannya tidak, Biru memegang tangan sang kekasih dia percaya jika Echa bukanlah gadis yang seperti itu.
“Jangan takut Ca, aku tahu kamu pasti dijebak. Aku dan yang lain akan berusaha mencari siapa orang dibalik penjebakan ini.”
“Maafin aku ya, udah nggak percaya sama omongan kalian waktu itu. Andai saja aku nggak pergi mungkin ini nggak akan terjadi. Aku takut kamu marah, Biru.”
“Kamu nggak salah, ngapain minta maaf. Udah jangan nangis gitu nanti cantiknya hilang.” Biru mengusap butiran air mata yang lolos dari mata sang kekasih sembari memujinya.
Pipi Echa seketika memerah saat Biru mengatakan bahwa dirinya cantik. Pertama kalinya gadis itu mendapatkan pujian seperti tadi dari seorang cowok. Dan lebih tak menyangka nya cowok itu adalah Biru, idaman para wanita disekolah.
“Oh iya aku disuruh ibu ke warung depan sana, ya udah aku duluan ya.” Langkahnya terhenti, sebuah tangan mencegah. “Aku aja yang pergi, nggak baik perempuan keluar malam. Tante Tania nyuruh beli apa, sini mana uangnya.”
Echa menolak, dia merasa tidak enak pada Biru. Keduanya sama-sama kukuh untuk pergi ke warung. Namun, setelah diam beberapa detik akhirnya Biru memutuskan mengantar Echa. Gadis itu awalnya ingin menolak tapi dia tahu bagaimana sifat Biru. “Ya udah, ayo.”
Andi yang berada dirumahnya tengah menggerutu. Kesal karena bukti yang akan dirinya tunjukkan pada Biru telah hilang dihapus oleh Sasa dan Heru. Sang Mama yang lewat depan kamarnya tak sengaja mendengar anaknya marah-marah, dia mengetuk pintu ingin tahu kenapa dengan Andi. Pertama kalinya Andi menceritakan semua masalah dia pada sang Mama, Oma dan Papa Andi yang melihat anak-ibu seperti itu mengembangkan senyum.
__ADS_1
~~••°••~~
Keesokkan harinya, Echa masuk sekolah bersama Biru. Ketiga teman lainnya sudah menunggu diparkiran. Mata-mata tajam memperhatikan, perihal poto yang tertempel kemarin di mading sekolah. Mulut pedas milik para siswi terdengar saat mereka berbisik tentang Echa. Beberapa dari mereka merasa jijik dan berkata bahwa gadis pendiam itu merupakan wanita murahan. Biru yang mendengar bisikan itu mengepalkan tangannya, dia tak terima jika Echa dikatakan seperti itu.
“LU SEMUA JANGAN ASAL BICARA SEBELUM ADANYA BUKTI YANG VALID! SIAPA AJA YANG BILANG KAYAK GITU LAGI BERURUSAN SAMA GUE!” Para murid yang tadinya berkumpul langsung membubarkan diri. Tak ada yang berani melawan si ketua osis, kecuali Paris, Sasa dan Heru.
Namun, walau mereka semua sudah pergi masih saja ada beberapa orang yang bergosip. Banyak diantara mereka yang mengatakan jika Echa telah mengguna-guna si ketua osis sampai sebegitunya membela. Padahal dulu laki-laki itu sangat tidak peduli akan masalah apapun yang terjadi.
Suasana didalam kelas hening saat Biru dan teman-temannya datang. Tak ada lagi suara-suara gosip dari mulut anak perempuan. Saat Andi akan menyimpan ranselnya dia tak sengaja menemukan sebuah poto didalam laci meja. Betapa shoknya dia saat melihat itu. “MAKSUD LU APA NGEDIT POTO GUE KAYAK GINI?!” Andi menarik kerah baju Heru, Arka, Nadia dan Biru pun terkejut melihat temannya seperti itu.
“Lu apaan sih! Gue baru aja datang dan lu udah nuduh. Gila!”
“Nggak usah banyak bac**! Ini kerjaan lu kan?” ujarnya geram dengan menunjukkan poto.
Arka yang penasaran pun langsung mengambil poto tersebut. Menyipitkan matanya tak percaya saat wajah Andi terpampang jelas bersama Echa. Sasa yang berada diambang pintu menyunggingkan senyum.
“Gue tahu yang ngejebak Echa itu lu! Ngapain ngedit kayak gitu?”
“Biru! Asal lu tahu, kemarin dia dan Sasa udah ngaku ke gue. Bahkan bukti yang gue dapat dari obrolan mereka berdua diambil dan dihapus,” sambungnya.
__ADS_1
“Gue percaya sama lu Ndi. Cowok ini emang kagak benar dari awal. Biarin mau dia apa, lagipula gue percaya sama Echa. Dan masalah poto itu lupain aja,” ujarnya merangkul pundak Andi.
Sasa melototkan matanya tak percaya akan perkataan Biru. Jika seperti itu berarti rencana dia untuk memisahkan Echa dan si ketua osis gagal.